Profil

Biodata of Professor Dr. Din Syamsuddin
Professor Dr. Din Syamsuddin is a prominent Muslim leader from Indonesia. He is a professor of Islamic Political Thought at National Islamic University, Jakarta. He served as President of Muhammadiyah, the largest modernist Islamic organization in Indonesia from 2005 to 2015, as well as President of the Indonesian Council of Ulama (MUI) during 2014-2015, and now (2015-2020) acting as Chairman of its Advisory Council. He has been active in interfaith dialogues and cooperations, as he initiated the creation of and becoming Presidium of Inter Religious Council – Indonesia,  He is currently acting as President-Moderator of Asian Conference of Religions for Peace (ACRP), Co-President of Religions for Peace International, as well as Chairman of Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC), and Chairman of World Peace Forum based in Jakarta. He is also member of Group for Strategic Vision Russia – Islamic World, and member of Leadership Council of the United Nations Sustainable Development Solution Network (UNSDSN). He recently initiated the creation of Indonesia’s Movement to Save the Earth (Indonesia Bergerak Selamatkan Bumi) and acts as Chairman of the Movement’s Steering Committee. He obtained both Master and Doctoral degrees from Interdepartmental Program in Islamic Studies, University of California Los Angeles (UCLA), USA, in 1998 and 1991 consecutively.
1 reply
  1. imas
    imas says:

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
    Kepada Bapak2 dan Ibu2 pemimpin bangsa dan Negara Indonesia

    Bapak/Ibu pemimpin bangsa Indonesia yang saya hormati,
    Sebelumnya saya perkenalkan diri dulu, nama saya Imas, saya adalah seorang warga negara biasa, seorang ibu, jualan masakan, dan juga arsitek freelance, agama saya Islam dan saya lahir di Jakarta, 24 Oktober 1980, dan sampai sekarang di usia saya yg ke 36, saya tinggal dan mencari nafkah untuk anak2 saya di Jakarta.

    Berhubungan dengan kasus yang menimpa Bapak Gubernur DKI Jakarta, Bapak Basuki Tjahya Purnama (Pak Ahok), saya tidak tahu bagaimana cara yang tepat untuk menyampaikan pikiran dan hati nurani saya, jadi saya hanya bisa menulis.

    Apa yang Pak Ahok katakan di pidato nya yang kemudian diributkan oleh banyak warga dan dianggap menistakan agama Islam , memang salah. Kesalahan kalimat/ ucapan/ paparan yang mana diakui dan akhirnya Pak Ahok meminta maaf secara terbuka dan tulus.

    Kesalahan tersebut kemudian menimbulkan gejolak di masyarakat luas khususnya para penganut agama Islam. Berikut ini masukan2 saya sebagai warga negara yang sangat mencintai Kesatuan dan Persatuan Republik Indonesia.

    Apakah tidak bisa para Ulama2, pemuka agama, dan pemimpin2 negara, menerima maaf Pak Ahok, dengan memberikan beliau peringatan terlebih dahulu. Tidak perlu sampai menuntut pak ahok dipenjara, mengerahkan begitu banyak umat Islam untuk mendemo dan memasang spanduk2 yang kasar, walaupun banyak juga spanduk2 yang baik isinya.
    Memberikan kesempatan Pak Ahiok untuk menata dirinya kembali, mengingat jasa2 beliau membangun kejujuran di kalangan pegawai negri DKI Jakarta, mengingat beliau orang yang sangat keras terhadap maling2 uang rakyat? Mengingat sangat jarang ada orang seperti beliau berdiri di pemerintahan, bukankah ini kesempatan untuk DKI mendapatkan gubernur yang bersih dan juga sangat berusaha membersihkan negara dari orang2 yang korup?
    Memaafkan bukan berarti Pak Ahok lepas dari pengawasan umat Islam, tidak….sama sekali tidak. Memaafkan dengan niat mulia, dengan mengedepankan kemanusiaan, mengedepankan keutuhan bangsa dan negara, memaafkan untuk menang, menang untuk rakyat. Bukan menang untuk golongan2 tertentu ataupun untuk Pak Ahok. Memaafkan dengan memperingatkan dan memberi kesempatan beliau untuk memperbaiki diri. Karena mungkin banyak juga yang salah ucap dan perbuatan tp hanya dihimbau saja.
    Apakah tidak bisa segala sesuatu kesalahan dimulai dengan memanggil Pak Ahok, mengajaknya bicara, memberikan masukan terlebih dahulu, sebelum sampai demo besar2an?
    Apakah bisa cap “penista agama” tidak langsung diberikan ke seseorang yang berucap salah? Tapi terlebih dahulu ditelusuri apakah orang tersebut benar2 orang yang benci pada agama tsb. Ditelusuri dulu apakah iya beliau adalah orang yang kelakuannya mencerminkan bahwa dia membeci agama tsb. Ditelusuri dulu apakah benar dia adalah orang yang selalu dalam pidatonya menyebarkan/menghina kitab dan agama tsb?
    Tolong sekali cap penista agama, harusnya juga didasari dari perilaku orang tersebut sebelum2nya, dilihat niat dan tujuan nya. Apabila orang tersebut niat dari hatinya yang paling dalam untuk menista agama tsb, maka pasti terasa dari sikapnya, ucapan2 nya, tidak hanya dari 1 ucapan dan perbuatan saja, tapi pasti berulang2. Karena manusia sering sekali salah, kepleset atau biasa disebut “slip tounge”. Mohon sekali dibedakan antara slip tounge, khilaf, dan orang yang benar2 niat menista dan benci.
    Apakah jika kemudian Pak Ahok dg salah ucapan sekali itu saja akhirnya di demo besar2an lalu di tangkap dan dipenjara, bisa terjadi ada orang2 yang lalu mencari2 kata2 agama lain, misal sebagai contoh orang Kristen kemudian mencari kata2 dari orang2 Islam atau agama lain, yang membawa2 agama dan kitab agama Kristen lalu juga menuntut hal yang sama. Apakah kemudian akan terjadi demo lagi? Petinggi2 agama Kristen kemudian mencap org tsb penista juga? Atau contoh lain misalkan ada orang agama Budha membawa, mengucap, tentang agama Hindu, apakah lalu orang tersebut akan di demo juga? Dan di kasuskan?
    Ya Allah ya rabbi….apakah seperti itu yang kita inginkan? Bisakah kita tidak menelusuri dulu rekam jejak untuk mengetahui niat sebenarnya dari orang tersebut? Apabila tidak NIAT apakah tidak bisa saling memaafkan saja? Atau berilah saja dulu teguran keras. Jangan sampai nantinya akan terjadi saling menuntut antar agama…. Sedih… sedih sekali.
    Tidak bisakah wahai Ulama2 yang kami hormati , menenangkan rakyat indonesia? Misalkan dengan kata2 seperti ini “Bissmillahirohmanirrohim, dikarenakan Bapak Ahok sudah mengakui kesalahan nya dan meminta maaf, dan karena kasus ini sangat sensitif dapat memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa, maka kami Ulama2 menghimbau para umat Islam, demi kemanusiaan, demi persatuan dan kesatuan negara, demi keharmonisan antar umat beragama, marilah kita memaafkan orang yang salah berucap, salah bertindak, apalagi mereka yang tidak ada niat untuk membenci agama kita. Tenanglah dan doakan saja. Negara kita plural, kita harus juga menghormati rakyat Indonesia seutuhnya, semua agama. Tidak usah beramai2 kita keroyok 1 orang khilaf ini, kita jangan melupakan jasa2 beliau juga terhadap bangsa ini”
    Apakah tidak bisa contoh kata2 seperti itu yang dipakai untuk mendingin kan umat Islam?

    Demikian surat saya untuk siapapun yang membaca, saya sangat berharap kebijaksanaan bapak2 dan Ibu2 semua, kita kedepankan kemanusiaan dan kepentingan bangsa ini terlebih dahulu dalam kasus ini. Kita kesampingkan kepentingan golongan terlebih dahulu. Demi bangsa ini, demi anak2 dan cucu2 kita.
    Saya pun tak luput dr banyak kekurangan, dan saya memaafkan Pak Ahok bukan juga karena saya tidak membela agama saya, hanya semata2 saya menyuarakan hati nurani saya.

    Tekan lah kebencian, ademkan rasa benci, ademkan hati umat2 yang marah, redamkan gejolak yang membawa agama ini, demi NKRI.

    Mohon maaf apabila ada kata yang kurang berkenan di hati Bapak dan Ibu sekalian.

    wabillahi taufiq walhidayah wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
    Hormat saya

    imas

    Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *