Ceramah di Jepang, Din Syamsuddin Bicara Soal ISIS dan Radikalisasi Agama

c46c1122-8a1d-4981-969f-c94f8217a077Jakarta – Pada akhir kunjungan di Jepang, Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin berceramah di Markas Sasakawa Peace Foundation, Tokyo, (4/11). Ceramah dihadiri seratus tokoh dari berbagai kalangan, baik tokoh agama, akademisi, mahasiswa, profesional, pengusaha, dan umum.

Ikut hadir mendengarkan ceramah Din Syamsuddin adalah Prof Nakamura dan isteri, Prof Hisae Nakanishi dari Doshisa University, Prof Khalid Higuchi, mantan Presiden Japanese Muslim Association, sejumlah peminat dan pengamat tentang Indonesia, dan para pejabat Sasakawa Peace Foundation seperti Dr Chano dan Dr Akiko Horiba.

Dalam ceramah bertajuk “Masalah, Tantangan dan Masa Depan Islam di Indonesia” itu, Din menjelaskan bahwa Islam di Indonesia memiliki watak berbeda dengan Islam di negeri-negeri lain, termasuk Timur Tengah, disebabkan oleh modus masuknya Islam secara damai dan latar sosial-budaya masyarakat Indonesia yang cinta damai.

Sebagai akibatnya, Islam di Indonesia berwatak damai, moderat, inklusif, toleran, dan anti-kekerasan. Watak ini dianut oleh mayoritas mutlak umat Islam Indonesia dan telah berlangsung berabad lamanya. Maka hampir dapat dikatakan, sejak dulu tidak ada ketegangan dan pertentangan serius antara Muslim dan non-Muslim, dan juga antara sesama Muslim. Indonesia sejak lama dikenal sebagai model kerukunan hidup, baik antarumat beragama maupun intraumat satu agama.

Namun akhir-akhir ini, suasana demikian sedikit berubah dengan adanya ketegangan bahkan konflik antarkelompok umat beragama, khususnya antara kelompok Muslim dan Kristiani, seperti terjadi terakhir di Tolikara, Singkil, dan Manokwari. Hal ini, menurut Din, disebabkan oleh bergesernya tata nilai yang dianut oleh sebagian masyarakat Indonesia sejalan dengan modernisasi, globalisasi, dan liberalisasi yang melanda Indonesia sejak satu dua dasawarsa terakhir. Dalam kaitan ini, menurut Din, radikalisme keagamaan yang muncul di Indonesia didorong oleh faktor keagamaan dan faktor-faktor non agama.

Faktor yang pertama mengambil bentuk pemahaman yang salah akibat penafsiran sempit teks-teks Kitab Suci dengan mengabaikan misi utama Islam untuk kerahmatan dan kesemestaan. Faktor yang kedua berupa ketidakadilan sosial, ekonomi dan politik yang sering menjadi faktor picu kekerasan dan sikap radikal dan agama menjadi faktor pembenar sikap tersebut.

Ceramah Din mendapat sambutan antusias audiens dengan banyaknya pertanyaan. Terhadap pertanyaan tentang ISIS, Din menegaskan bahwa ideologi dan perilaku ISIS tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam yang menekankan kasih sayang dan perdamaian. ISIS bukan gerakan Islam tapi gerakan politik yang menyalahgunakan Islam untuk tujuan politik.

15456ff7-d72c-4767-8c34-f85da9f62bc2Din Syamsuddin yang adalah Ketua Dewan Pertimbangan MUI ini berkunjung ke Jepang selama delapan hari atas undangan Sasakawa Peace Foundation, sebuah yayasan Jepang yang terkenal di mancanegara dan aktif mendorong perdamaian di dunia. SPF mulai tahun lalu mengundang tokoh-tokoh dari luar Jepang dalam program kunjungan Asia’s Opinion Leaders. Tahun lalu diundang mantan Sekjen ASEAN Dr Surin Pitsuwan dari Thailand, dan tahun ini tokoh Muslim Indonesia Din Syamsuddin.

Dalam kunjungannya ke Jepang kali ini, Din Syamsuddin yang juga Presiden Asian Conference of Religions for Peace (ACRP) yang berpusat di Tokyo, mengunjungi Hiroshima, Miyajima, Kurainiki, Kyoto, Kobe, dan Tokyo. Di Hiroshima Din berkesempatan meletakkan karangan bunga di Peace Memorial Park, sedangkan di Kyoto mengunjungi beberapa pusat Agama Shinto dan Agama Budha. Di Kobe dan Tokyo, Din juga berkunjung ke Jami Mosque (masjid), serta berdialog dengan para tokoh agama dan politik Jepang.

Dari kunjungannya tersebut, Din yang juga pendiri dan ketua lembaga perdamaian Centre for Dialogue and Cooperation among Civlilisations (CDCC) ini mengagumi masyarakat Jepang yang dinilainya mengamalkan nilai-nilai Islam seperti kebersihan, kejujuran, kedisiplinan, penghargaan akan waktu, dan kerja keras. Menurut Din, nilai-nilai tersebut justru sering tidak nyata dalam perilaku sebagian umat Islam di negara-negara Muslim.

“Ceramah dan dialog Din Syamsuddin di Jepang ini sedikit banyak dapat mengisi kekosongan pemahaman masyarakat Jepang selama ini tentang Islam di Indonesia,” ujar Direktur Eksekutif CDCC Alpha Amirrachman.
(tor/dra)

DetikNews: http://news.detik.com/berita/3062728/ceramah-di-jepang-din-syamsuddin-bicara-soal-isis-dan-radikalisasi-agama

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *