Krisis Lingkungan Hidup Manifestasi Krisis Moral

Prof. Dr. Din Syamsuddin - Doc CDCC/WPF5

Prof. Dr. Din Syamsuddin – Doc CDCC/WPF5

Paris, Prancis – Ketua Komite Pengarah Indonesia Bergerak Selamatkan Bumi (SiagaBumi) Din Syamsuddin menegaskan bahwa krisis lingkungan hidup merupakan manisfestasi dari krisis moral. Karena itu, solusi atas krisis ini harus pendekatan agama dan etika.

Hal ini disampaikan Din Syamsuddin saat menjadi pembicara pada Conference Of Parties (COP-21) atau Konferensi PPB tentang Lingkungan Hidup di Paris, Prancis, pada Senin (30/11). Din berbicara di Pavilion Indonesia pada sesi Interfaith Dialogue: Faith Action for Climate Solution bersama empat tokoh atau aktivis lintas agama lain dengan moderator mantan Menlu Hasan Wirayuda.

“Kerusakan lingkungan hidup, perubahan iklim dan pemanasan global adalah masalah moral. Krisis lingkungan adalah manifestasi krisis moral. Oleh karena itu, solusi terhadap perubahan iklim yang menjadi salah satu fokus COP-21 harus menyertakan pendekatan moral dan etika agama,” ujar Din dalam diskusi tersebut.

Menurut Ketua Dewan Pertimbangan MUI ini, Al Qur’an empat belas abad silam sudah menegaskan bahwa semua kerusakan di bumi akibat ulah manusia.  “Padahal alam diciptakan dan diperuntukkan manusia sebagai subyek, yakni untuk dihuni dan dimanfaatkan. Karena itu, penanggulangan masalah perubahan iklm harus menjadi tanggung jawab bersama semua umat beragama,” imbuh Din.

Dalam sesi ini juga Din berbagi pengalaman Indonesia melalui SiagaBumi ikut menanggulangi dampak perubahan iklim dan kerusakan ekosistem melalui pendekatan keagamaan. SiagaBumi, yang merupakan gerakan nasional lintas agama, kata Din tengah melakukan gerak aksi berupa penyadaran untuk pemuliaan lingkungan hidup, penciptaan Eco-Rumah Ibadat (Eco-RI), dan penciptaan kali bersih.

Terkait Eco-RI, SiagaBumi telah meluncurkan Eco-Vihara di Bogor akhir Oktober lalu, dan Eco-Masjid pasa awal Januari di tahun yang akan datanh, yang akan disusul oleh Eco-Masjid, Eco-Gereja, Eco-Pura, Eco-Klenteng, dan seterusnya. “Kita perlu mulai dari menjadikan rumah Tuhan sebagai tempat ramah lingkungan, sebelum kita bergerak memuliakan bumi ciptaanNya,” tegas mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini di hadapan tamu asing yang hadir.

Eco-Rumah Ibadat, kata dia akan mengambil bentuk pengasrian bangunan, pengasrian halaman melalui penanaman pohon, dan perbaikan sanitasi atau saluran air. “Untuk itu, SiagaBumi akan bekerja sama dengan semua pihak yang peduli, baik pemerintah, dunia usaha, maupun masyatakat luas untuk memberikan solusi terhadap kerusakan lingkungan hidup, perubahan iklim dan pemanasan global yang tidak dapat ditangani satu pihak saja, tetapi merupakan tanggung jawab bersama,” ungkapnya.

Yustinus Paat/WBP – BeritaSatu.com

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *