Ketua Umum PP Muhammadiyah 2005-2015, Prof Din Syamsuddin (2 dari kiri) saat menjadi pembicara di International Conference on Paths of Peace di Münster, Jerman (foto: dok pwmu.co)

Din Syamsuddin Harap Islamophobia di Eropa dan Amerika Berkurang

Lis Pratiwi    •    Selasa, 19 Sep 2017 07:02 WIB

Metrotvnews.com, Jakarta: Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin menjadi pembicara pada dua pertemuan internasional berturut-turut di Jerman dan Amerika Serikat. Menurut Din, konferensi yang baru pertama diadakan dalam skala luas di Amerika ini diharapkan dapat mengurangi Islamophobia di kalangan masyarakat di Amerika maupun Eropa.

“Tentu konferensi tersebut diharapkan membawa resonansi kepada para pemimpin dunia yang sedang menghadiri Sidang Umum PBB di kota yang sama dan pada waktu hampir bersamaan,” kata Din dalam siaran pers, Senin 18 September 2017.

Pada 12 September, Din menjadi panelis dalam International Conference on Paths of Peace di Münster, Jerman. Konferensi tahunan ini diadakan oleh Community of Sant’Egidio, sebuah organisasi internasional orang awam Katholik. Acara ini dihadiri 600 peserta dari mancanegara termasuk tokoh-tokoh utama berbagai agama dunia.

Dalam konferensi tersebut, Din berbicara tentang agama-agama di Asia menghadapi pasar global. Dalam presentasinya, Din mengatakan bahwa era pasar bebas global meningkatkan arus sekularisasi dan orientasi materialistik yang anti Tuhan,

“Agama-agama harus menampilkan peran profetik untuk meluruskan kehidupan duniawi tersebut dengan nilai-nilai moral dan etik. Era globalisasi tidak hanya menciptakan pasar bebas perdagangan, tapi juga pasar bebas agama,” jelasnya.

Din juga menghadiri Conference in Cultural Rapproachement between the USA and the Islamic World di New York pada 16 dan 17 September 2017. Konferensi yang diprakarsai Rabithah Alam Islami atau Liga Muslim Sedunia ini dihadiri sekitar 200 tokoh muslim dari seluruh dunia dan sejumlah tokoh non-muslim dari Amerika dan beberapa negara.

Menurut Din, ia betindak menjadi moderator yang membahas isu-isu tentang kebebasan beragama, faktor pengetahuan, dan agenda kerjasama AS dan dunia Islam dalam bidang peradaban. Din mengatakan, kerjasama peradaban antara Amerika dan dunia Islam tidak hanya mungkin, melainkan memang harus terjadi.

“Keduanya saling memerlukan. Dunia Islam memerlukan Amerika sebagai adidaya dunia, tapi Amerika juga memerlukan Islam sebagai bagian dunia yang memiliki kekuatan besar dengan berbagai sumber daya, termasuk sebagai pemegang supremasi peradaban dunia di abad pertengahan,” pungkas Din.

(DHI)

Ketua Umum PP Muhammadiyah 2005-2015, Prof Din Syamsuddin (2 dari kiri) saat menjadi pembicara di International Conference on Paths of Peace di Münster, Jerman (foto: dok pwmu.co)

Din Syamsuddin: Dialog untuk Atasi Pasar Bebas Agama

September 19, 2017

Ketua Umum PP Muhammadiyah 2005-2015, Prof Din Syamsuddin (2 dari kiri) saat menjadi pembicara di International Conference on Paths of Peace di Münster, Jerman (foto: dok pwmu.co)

Ketua Umum PP Muhammadiyah 2005-2015, Prof Din Syamsuddin (2 dari kiri) saat menjadi pembicara di International Conference on Paths of Peace di Münster, Jerman (foto: dok pwmu.co)

 

PWMU.CO – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2005-2010 dan 2010-2015, Prof Din Syamsuddin menjadi pembicara pada dua pertemuan internasional ber-turut-turut di Jerman dan Amerika Serikat. Pada 12 September 2017, Din menjadi panelis pada International Conference on Paths of Peace di Münster, Jerman. Berlanjut kemudian menghadiri Konferensi in Cultural Rapproachement between the USA and the Islamic World, 16-17 September 2017.

 

Conference on Paths of Peace merupakan konferensi tahunan yang diadakan Community of Sant Egidio, organisasi internasional orang awam Katholik. Dihadiri 600 peserta dari berbagai mancanegara, di antaranya adalah para tokoh utama berbagai agama dunia. Konferensi yang dibuka Kanselir Markel itu ikut dihadiri oleh Syaikh Al-Azhar At-Tayyib, Wakil Paus Fransiscus, Pemimpin Gereja Ortodoks Yunani, Pemimpin Buddha Risho Kosakai Jepang, dan Presiden Nigeria.

Din Syamsuddin menjadi pembicara pada Sesi tentang “Agama-agama Asia Menghadapi Pasar Global.” Dalam presentasinya, Din mengatakan bahwa era pasar bebas global meningkatkan arus sekularisasi dan orientasi materialistik yang anti-Tuhan. “Maka agama-agama harus menampilkan peran profetik untuk meluruskan kehidupan duniawi tersebut dengan nilai-nilai moral dan etik,” jelas Din.

Era globalisasi, lanjut Din yang juga Presiden ACRP (Asian Conference of Religions for Peace/organisasi tokoh-tokoh Agama Se Asia) itu, menciptakan tidak hanya pasar bebas perdagangan, tapi juga pasar bebas agama. “Hal ini juga harus diatasi oleh para agamawan dengan terus meningkatkan dialog antar agama.”

Setelah mampir sehari di London, Inggris, menemui Duta Besar Republik Indonesia (Dubes RI) Rizal Sukma guna membicarakan kerjasama Perguruan Tinggi Muhammadiyah dengan universitas-universitas di Inggris, Din melanjutkan perjalanan ke New York, Amerika Serikat. Yaitu menghadiri Konferensi in Cultural Rapproachement between the USA and the Islamic World, 16-17 September.

Konferensi yang diprakarsai oleh Rabithah Alam Islami (Liga Muslim Sedunia) ini dihadiri 200-an tokoh Muslim dari seluruh dunia dan sejumlah tokoh non-Muslim dari Amerika dan bebeberapa negara. Dari Indonesia ikut hadir Dr Hidayat Nurwahid, Prof Bahtiar Effendy (Ketua PP Muhammadiyah), dan Muhammad Siddiq (Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia).

Din Syamsuddin, yang hadir sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) ditampuk menjadi moderator pada Sesi kedua. Sebuah sesi yang membahas isu-isu tentang kebebasan beragama, faktor pengetahuan, dan agenda kerjasama AS dan Dunia Islam dalam bidang peradaban.

Tampil sebagai pembicara pada sesi ini dari kalangan Islam adalah Prof Yahya Michot dari AS, Dr Bishari dari Perancis, dan Dr Abu Halima dari Aljazair. Sementara dari kalangan non Muslim antara lain Prof Bernardini dari Italia, Prof Dolzer dari Jerman, dan Prof Faulker dari Austria.

Din Syamsuddin, dalam pengantar diskusi, mengatakan bahwa kerjasama peradaban antara Amerika dan Dunia Islam tidak hanya mungkin, tapi harus terjadi. Keduanya saling memerlukan. “Dunia Islam memerlukan Amerika sebagai adidaya dunia, tapi Amerika juga memerlukan Islam sebagai bagian dunia yang memiliki kekuatan-kekuatan besar baik sumber daya manusia, sumber daya alam, maupun sumber daya nilai.”

“Dan juga sumber daya sejarah, yakni Dunia Islam pernah tampil sebagai pemegang supremasi peradaban dunia di abad-abad pertengahan,” jelas Din.

Menurut Din, konferensi yang baru pertama diadakan dalam skala luas di Amerika ini diharapkan dapat mengurangi Islamofobia di sementara kalangan masyarakat Amerika maupun Eropa. Tentu konferensi tersebut diharapkan membawa resonansi kepada para pemimpin dunia yang sedang menghadiri Sidang Umum PBB di kota yang sama dan pada waktu hampir bersamaan. (mn/kholid)

 

https://www.pwmu.co/37109/2017/09/din-syamsuddin-dialog-untuk-atasi-pasar-bebas-agama/

Ketua Umum PP Muhammadiyah 2005-2015, Prof Din Syamsuddin (2 dari kiri) saat menjadi pembicara di International Conference on Paths of Peace di Münster, Jerman (foto: dok pwmu.co)

Din Syamsuddin Bahas Isu Kebebasan Beragama di Jerman dan New York

Monday, 18 September 2017 21:12

Ketua Umum PP Muhammadiyah 2005-2015, Prof Din Syamsuddin (2 dari kiri) saat menjadi pembicara di International Conference on Paths of Peace di Münster, Jerman (foto: dok pwmu.co)

Ketua Umum PP Muhammadiyah 2005-2015, Prof Din Syamsuddin (2 dari kiri) saat menjadi pembicara di International Conference on Paths of Peace di Münster, Jerman (foto: dok pwmu.co)

 

Munster & New York, GATRAnews – Mantan Ketua Umum Muhammadiyah Din Syamsuddin menjadi pembicara pada dua pertemuan internasional berturut-turut di Jerman dan Amerika Serikat. Pada (12/9), Din menjadi panelis pada International Conference on Paths of Peace di Münster, Jerman. Konferensi tahunan yang diadakan Community of Sant Egidio (organisasi internasional orang awam Katholik) ini dihadiri 600 peserta dari mancanegara, di antaranya tokoh2-tokoh utama berbagai agama dunia.

Konferensi yang dibuka Kanselir Markel turut dihadiri oleh Syaikh Al-Azhar At-Tayyib, Wakil Paus Fransiscus, Pemimpin Gereja Ortodoks Yunani, Pemimpin Buddha Risho Kosakai Jepang, dan Presiden Nigeria. Din Syamsuddin menjadi pembicara pada Sesi tentang “Agama-Agama Asia Menghadapi Pasar Global”. Dalam presentasinya, Din mengatakan bahwa era pasar bebas global meningkatkan arus sekularisasi dan orientasi materialistik yang anti Tuhan, maka agama-agama harus menampilkan peran profetik untuk meluruskan kehidupan duniawi tersebut dengan nilai-nilai moral dan etik. Era globalisasi, lanjut Din yang juga menjadi Presiden ACRP (Organisasi Tokoh-Tokoh Agama Se-Asia) menciptakan peluang besar, tidak hanya pasar bebas perdagangan tapi juga pasar bebas agama. Hal ini juga harus diatasi oleh para agamawan dengan terus meningkatkan dialog antar agama.

Setelah mampir sehari di London menemui Dubes RI Rizal Sukma guna membicarakan kerjasama Perguruan Tinggi Muhammadiyah dengan berbagai universitas di Inggris, Din melanjutkan perjalanan ke New York untuk menghadiri Konferensi in Cultural Rapproachement between the USA and the Islamic World, pada 16-17 September. Konferensi yang diprakarsai Rabithah Alam Islami (Liga Muslim Sedunia) ini dihadiri sejumlah 200 tokoh Muslim dari seluruh dunia serta sejumlah tokoh non Muslim dari Amerika dan beberapa negara. Dari Indonesia ikut hadir Dr. Hidayat Nurwahid, Prof. Bahtiar Effendy (Ketua PP Muhammadiyah), dan Muhammad Siddiq (Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia).

Din Syamsuddin hadir sebagai Ketua Dewan Pertimbangan MUI, menjadi moderator pada sesi kedua yang membahas isu-isu kebebasan beragama, faktor pengetahuan, dan agenda kerjasama AS dan Dunia Islam di bidang peradaban. Tampil sebagai pembicara pada sesi ini dari kalangan Islam Prof. Yahya Michot dari AS, Dr. Bishari dari Perancis, dan Dr. Abu Halima dari Aljazair, serta dari kalangan non Muslim antara lain Prof. Bernardini dari Italia, Prof. Dolzer dari Jerman, dan Prof. Faulker dari Austria. Din Syamsuddin dalam pengantar diskusi, mengatakan bahwa kerjasama peradaban antara Amerika dan Dunia Islam tidak hanya mungkin tapi harus terjadi. Keduanya saling memerlukan.

“Dunia Islam memerlukan Amerika sebagai adidaya dunia, tapi Amerika juga memerlukan Islam sebagai bagian dunia yg memiliki kekuatan-kekuatan besar baik sumber daya manusia, sumber daya alam, maupun sumber daya nilai, dan sumber daya sejarah, yakni dunia islam pernah tampil sebagai pemegang supremasi peradaban dunia di abad2-abad pertengahan,” ujarnya.

Menurut Din, konferensi yg baru pertama diadakan dalam skala luas di Amerika ini, diharapkan dapat mengurangi Islamofobia di sementara kalangan masyarakat di Amerika maupun Eropa. Tentu konperensi tersebut diharapkan membawa resonansi kepada para pemimpin dunia yang sedang menghadiri Sidang Umum PBB di kota yang sama pada waktu hampir bersamaan.


Reporter: Dewi Fadhilah S dan ASK

https://www.gatra.com/international/285501-din-syamsuddin-bahas-isu-kebebasan-beragama-di-jerman-dan-new-york

WhatsApp-Image-2017-06-20-at-11.29.39-e1497946986265

Din Ikut Luncurkan Prakarsa Pelestarian Hutan Lindung Oslo

Selasa , 20 June 2017, 21:15 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, OSLO — Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Din Syamsuddin, ikut meluncurkan Interfaith Rainforest Initiativedi  Oslo, Norwegia, Senin (19/6). Bertempat di Markas Nobel Perdamaian, acara dihadiri oleh Raja Norwegia, Menteri LH Norwegia, Wali Kota Oslo dan seratusan tokoh agama, ilmuan, dan aktifis lingkungan hidup seluruh dunia.

Sejumlah komunitas yang hadir di antaranya Vatikan, Dewan Gereja Sedunia, Sekjen Religions for Peace, Norwegian Rainforest, UNDP, Parliament of World Religilns, Green Faiths, dan para tokoh LSM lingkungan hidup dunia lain. Dari Indonesia, turut hadir Dr. Zainal Bagir (UGM), Abdon Nababan (AMAN) dan Aziz Asman (Institut Naladwipa).

Din Syamsuddin mendapat kehormatan berbicara pada sesi peluncuran bersama wakil-wakil dari agama lain seperti Kristen, Yahudi, Hindu, Buddha dan Agama Tradisi. Dipandu Presiden Tokoh Lintas Agama se Eropa, Bishop GUnnar Stalsett, sesi berlangsung dengan penyampaian pandangan dan pesan masing-masing agama untuk pelestarian lingkungan hidup.

Din yang mewakili Islam, menyampaikan pandangan Islam tentang solusi terhadap krisis lingkungan hidup yang dianggap sebagai krisis moral, sehingga perlu diatasi dengan pendekatan nilai moral dan etika keagamaan. Menurut Din, Islam agama alam semesta dan ada 750 ayat Alquran bicara alam, pelestarian lingkungan hidup dan pembangunan bumi.

“Sesungguhnya, alam itu sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Suci, mengandung kesucian dan memiliki jiwanya tersendiri. Kosmologi Islam menjelaskan, ada korespondensi segitiga antara Tuhan, Manusia, Alam, selain ada analogi antara manusia dan alam sebagai mikrokosmos dan makrokosmos. Maka, perlu ada harmoni dlm hubungan antara ketiganya,” kata Din yang juga Ketua Dewan Pengarah Gerakan Nasional Indonesia Bergerak Selamatkan Bumi (Siaga Bumi), melalui rilis yang diterima Republika.co.id, Selasa (20/6).

Ia menerangkan, sebagai konsekuensi logis pandangan teologis tadi, Islam mengajarkan manusia memuliakan alam. Alquran, lanjut Din, menggunakan istilah thabi’ah (subjek) bukan mathnu’ (obyek) untukk alam, dan melihat kerusakan dan krisis lingkungan hidup dewasa ini karena manusia lebih memandang alam sebagai obyek daripada subyek yang berjiwa. Maka itu, ia merasa banyak terjadi eksploitasi bukan konservasi.

Terkait kerusakan dan perusakan yang menimpa hutan-hutan penampung hujan di banyak negara termasuk Indonesia, ia mengimbau segera dihentikan karena telah berdampak munculnya perubahan iklim dan pemanasan global. Din turut mengapresiasi Pemerintah Indonesia yang memberi perhatian pelestarian lingkungan hidup dan hutan tropis.

Untukk itu, ia melihat perlu ditingkatkan kolaborasi antar agama dan antara umat beragama dengan pemerintah dalam melestarikan lingkungan hidup, khususnya hutan tropis, yang di Indonesia merupakan salah satu paru-paru dunia yang penting. Din pun berjanji akan mendorong Siaga Bumi untuk lebih aktif bergerak melakukan upaya-upaya pelestarian hutan tropis melalui program-program konservasi dan restorasi.

number: http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/02/07/dunia-islam/islam-nusantara/17/06/20/oruhtt-din-ikut-luncurkan-prakarsa-pelestarian-hutan-lindung-oslo

Din-Syamsuddin-di-Oslo

Din Syamsuddin Hadiri Prakarsa Pelestarian Hutan di Oslo

Liputan6.com, Jakarta – Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin ikut meluncurkan Interfaith Rainforest Initiative atau Prakarsa Lintas Agama untuk Pelestarian Hutan, di Oslo, Norwegia, pada Senin, 19 Juni 2017.

Acara yang digelar di Markas Nobel Perdamaian itu dihadiri Raja Norwegia, Menteri Lingkungan Hidup Norwegia, Wali Kota Oslo, dan seratusan peserta yang terdiri dari tokoh agama, ilmuwan, dan aktifis lingkungan hidup dari berbagai negara di dunia.

Hadir pula wakil Vatikan, Dewan Gereja Sedunia, Sekjen Religions for Peace, Norwegian Rainforest, UNDP, Parliament of World Religilns, Green Faiths, dan para tokoh LSM LH Dunia lainnya. Dari Indonesia ikut hadir Zainal Bagir dari UGM, Abdon Nababan, dan Aziz Asman.

Din Syamsuddin yang juga Ketua Dewan Pengarah Gerakan Nasional Indonesia Bergerak Selamatkan Bumi (Siaga Bumi) mendapat kehormatan berbicara pada sesi peluncuran bersama para wakil dari agama-agama lain seperti Kristen, Yahudi, Hindu, Buddha, dan Agama Tradisi.

Sesi yang dipandu Bishop Gunnar Stalsett, Presiden Tokoh Lintas Agama se Eropa dan Anggota Komite Nobel Perdamaian, berlangsung dengan penyampaian pandangan dan pesan masing-masing agama untuk pelestarian lingkungan hidup.

Din yang mewakili Islam, menyampaikan pandangan Islam tentang solusi terhadap krisis lingkungan hidup yang dianggapnya sebagai krisis moral. Hal itu perlu diatasi dengan pendekatan nilai moral dan etika keagamaan.

“Islam adalah agama alam semesta dan ada 750 ayat dalam Alquran berbicara tentang alam, pelestarian lingkungan hidup, dan pembangunan bumi. Sesungguhnya, alam itu sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Suci, mengandung kesucian dan memiliki jiwanya tersendiri,” kata Din dalam keterangan tertulis yang diterima Liputan6.com.

Din mengatakan, kosmologi Islam menjelaskan, ada korespondensi segitiga antara Tuhan-Manusia-Alam, selain ada analogi antara manusia dan alam sebagai mikrokosmos dan makrokosmos. Maka perlu ada harmoni dalam hubungan antara ketiganya.

Sebagai konsekuensi logis daripada pandangan teologis tadi, Islam, menurut Ketua Dewan Pertimbangan MUI ini, mengajarkan manusia untuk memuliakan alam.

“Alquran menggunakan istilah thabi’ah (subjek) bukan mathnu’ (obyek) untuk alam. Kerusakan dan krisis lingkungan hidup dewasa ini adalah karena manusia lebih memandang alam sebagai objek daripada subjek yang berjiwa. Maka terjadilah eksploitasi bukan konservasi,” kata dia.

Din mengimbau, pengrusakan yang menimpa hutan-hutan penampung hujan di banyak negara termasuk Indonesia harus segera dihentikan. Pengrusakan itu telah berdampak pada munculnya perubahan iklim dan pemanasan global.

Dia pun mengapresiasi pemerintah Indonesia yang memberi perhatian terhadap pelestarian lingkungan hidup dan hutan tropis. Menurutnya, perlu ditingkatkan kolaborasi antaragama dan antara umat beragama dengan pemerintah dalam melestarikan lingkungan hidup, khususnya hutan tropis, di Indonesia yang merupakan salah satu paru-paru dunia.

Din Syamsuddin menjanjikan akan mendorong Siaga Bumi untuk lebih aktif bergerak melakukan upaya pelestarian hutan tropis melalui program-program konservasi dan restorasi.

Din Syamsuddin: Aliansi Russia-Dunia Islam Bisa Jadi Model

JAKARTA – Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin mengatakan bahwa Aliansi Strategis Russia-Dunia Islam dapat menjadi model kemitraan dan kerja sama yang positif untuk membangun peradaban dunia baru yg berkemajuan, berkeadilan dan berkeadaban.

Demikian salah satu pokok pidato DS pada Sidang Kelompok Visi Strategis Russia-Dunia Islam (Group for Strategic Vision “Russia-Islamic World”) di Grozny City, Federasi Russia, Rabu 17 Mei 2017.

Din Syamsuddin yang menjadi anggota kelompok ini sejak 2007 menjelaskan bahwa dunia pasca Perang Dingin memang membawa ketidakpastian. Kedua tesis The End of History Fukuyama dan tesis The Clash of Civilization Huntington memang terjadi, namun mendorong konvergensi.

“Sayangnya konvergensi itu tidak berwajah positif terhadap Dunia Islam sebagai pilar penting peradaban dunia. Yang terjadi justeru ‘permusuhan’ terhadap Islam baik secara langsung maupun tidak langsung, seperti adanya Proxy War antara sesama negara Islam,” ujarnya melalui rilis yang diterima SINDOnews, Jumat (19/5/2017).

Dia berpandangan, globalisasi yang semula dimaksudkan untuk adanya keadaan monolitik dalam bidang politik dan ekonomi yang bersifat liberalistik, justru membangkitkan negara-negara lain, yang ditandai oleh kebangkitan Asia Timur. Sebagai akibatnya, negara-negara Barat merasa terkalahkan sehingga membangkitkan ultra-nasionalisme seperti yang terjadi di Amerika Serikat dan beberapa negara Barat.

Sayangnya, menurut Guru Besar Politik Islam Global FISIP UIN Jakarta ini, Dunia Barat masih melihat Islam sebagai ancaman daripada mitra strategis untuk kemajuan bersama. Maka, lanjut Din, aliansi strategis Russia-Dunia Islam merupakan alternatif positif.

“Walaupun tidak ada makan siang gratis, namun Russia dapat mengedepankan pendekatan ‘kemitraan ramah Islam’ (Islam friendly partnership), yang tentu saling menguntungkan,” tuturnya.

Menurut Din, Russia memerlukan Dunia Islam terutama untuk dukungan politik dan kerja sama ekonomi. Dunia Islam pun dapat memanfaatkan kekuatan Russia yang masih menyisakan keunggulan iptek dan juga ekonomi.

“Maka, jika aliansi strategis Russia-Dunia Islam dapat mengubah visi strategis ke dalam aksi-aksi strategis, tidak mustahil akan ikut mendukung terwujudnya tatanan dunia baru yang damai, adil dan sejahtera,” paparnya.

Pertemuan Kelompok tersebut dihadiri oleh Presiden Republik Tatarstan Rustam Minikhanov sebagai Ketua Kelompok, Presiden Chechnya Ramadan Kadirov sebagai tuan rumah, sejumlah tokoh Federasi Russia, dan tokoh dari berbagai negara Islam.

https://nasional.sindonews.com/read/1206423/15/din-syamsuddin-aliansi-russia-dunia-islam-bisa-jadi-model-1495174493

Prof. Dr. Din Syamsuddin, Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), mendapat penghargaan gelar doktor kehormatan (Doktor Honoris Causa)dari Universitas Fatoni, Thailand.

Din Syamsuddin Terima Gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Fatoni Thailand

Senin, 27 Maret 2017 10:27 WIB

Prof. Dr. Din Syamsuddin, Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), mendapat penghargaan gelar doktor kehormatan (Doktor Honoris Causa)dari Universitas Fatoni, Thailand.

Prof. Dr. Din Syamsuddin, Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), mendapat penghargaan gelar doktor kehormatan (Doktor Honoris Causa)dari Universitas Fatoni, Thailand.

TRIBUNNEWS.COM, PATTANI –Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia, Prof. Dr. M. Din Syamsuddin mendapat penghargaan gelar doktor kehormatan (Doktor Honoris Causa) dalam bidang Islamic Sciences dari Universitas Fatoni, Thailand.

Dalam acara penganugerahan, Din menyampaikan pidato dalam bahasa Inggris berjudul “Revivalization of Islamic Sciences toward the Revival of Islamic Civilization; with a Little Context of Islamic Polity”.

Din dalam pernyataannya yang diterima tribunnews.com juga mengatakan, dunia Islam memiliki potensi besar untuk bangkit sebagai pemegang supremasi peradaban dunia.

Selain memiliki sumber daya manusia dan sumber daya alam, dunia Islam memiliki ‘sumber daya nilai’ dan ‘sumber daya sejarah’.

Keempat potensi besar itu diyakini Din dapat menjadi faktor yang dapat mengulang kejayaan Islam seperti di masa lalu.

Adapun kebangkitan ilmu pengetahuan dalam peradaban Islampada abad pertengahan didukung oleh political will.

“Jika umat Islam ingin kembali mencapai kejayaan ilmu pengetahuan, maka harus ada dukungan politik,” tegasnya.

 

http://www.tribunnews.com/internasional/2017/03/27/din-syamsuddin-terima-gelar-doktor-honoris-causa-dari-universitas-fatoni-thailand

din-syamsuddin

Indonesia`s Din Syamsuddin Urges OIC to Meet to Save Rohingya

din-syamsuddinYogyakarta – An Indonesian Islamic leader Din Syamsuddin has urged the Organization of Islamic Cooperation to immediately convene a meeting to save Rohingya Muslims in Myanmar.

“Islamic countries, through the OIC, can take concrete steps (by convening a meeting) to immediately save the Rohingya Muslim people,” said the former general chairman of Islamic Organization Muhammadiyah on Monday, December 5.

Speaking at the Muhammadiyah University, he stated that the Myanmar government must stop the killings and these could amount to genocide.

“The Myanmar government must stop the killings. Moreover, security forces have been involved in these [acts]. We condemn the killings,” he stressed.

Din also called on the Indonesian government to act through the ASEAN mechanism as Myanmar is one of the member countries of the Association of Southeast Asian Nations.

“For the sake of ASEAN stability and solidarity, the oppression being committed on the Rohingyas must be stopped,” he noted.

He urged the Indonesian Muslims not to consider it as a religious issue. “The conflict there must not be brought here to maintain harmony in the country,” he said.

Din even hoped that Indonesian people would help with logistical supplies to the Rohingya refugees in Aceh and North Sumatra.

“We have actually sent aid but the Myanmar government has never allowed direct distribution of the aid to the Rohingyas and has requested that it be collected in Yangon. However, there are also Rohingya refugees in our country.”

ANTARA

source: TEMPO.CO

din_london_rizal-sukma

Kampanyekan Islam Toleran

din_london_rizal-sukmaLondon – Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan mantan Ketua Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Din Syamsuddin mengharapkan komunitas Muslim Indonesia mengkampanyekan model Islam Indonesia berkemajuan, toleran dan damai di tengah masyarakat Inggris yang majemuk.

Hal itu disampaikan Din Syamsudin saat bersilaturahim dengan Perwakilan Pengurus Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) United Kingdom bersama Dubes Indonesia untuk Kerajaan Inggris, Dr. Rizal Sukma, demikian Ketua Bidang Ekonomi Pengurus Cabang Muhammadiyah di UK, Aviandi Okta yang tengah menuntut ilmu di University of Reading, kepada Antara London, Senin.

Dalam pertemuan dengan Komunitas Muhammadiyah dan dihadiri Zaki Arrobi yang menuntut ilmu di University of Essex serta Muhammad Ayyub dari SOAS, Din Syamsudin berpesan agar model “Islam Berkemajuan” dapat mewarnai masyarakat Inggris.

Dalam pertemuan yang berlangsung hangat ini, Din mengutarakan apresiasinya kepada komunitas Indonesia dan juga Muhammadiyah yang menjadi duta bangsa di Inggris. Dia berpesan pada komunitas Muslim Indonesia agar mampu mengkampanyekan model Islam Indonesia yang berkemajuan, toleran dan damai di tengah masyarakat Inggris yang majemuk.

Dunia Barat perlu mengenal dan mempelajari lebih jauh Islam Indonesia yang terbukti mampu berjalan beriringan dengan demokrasi dan kemajemukan.

Din menambahkan umat Islam dan bangsa Indonesia menunggu kontribusi pelajar yang sedang melanjutkan studi di tanah Britania.

Kehadiran Din Syamsuddin di Inggris usai memberikan ceramah keagamaan di komunitas Indonesia di Jerman.

Sementara itu, Ketua Bidang Ekonomi Pengurus Cabang Muhammadiyah di UK, Aviandi Okta, menjelaskan berbagai kegiatan yang dilakukan komunitas Muhammadiyah dan perkembangan terkini Islam di Inggris.

“Komunitas Muhammadiyah di Inggris selama ini secara aktif mengadakan berbagai kegiatan sebagai ajang silaturahim sesama anggota sekaligus turut mewarnai diskursus keislaman di Inggris,” ujar kandidat doktor dari University of Reading ini.

Dikatakannya komunitas Muhammadiyah di Inggris selama ini aktif dalam memberikan sumbangsih gagasan terhadap persoalan di level nasional maupun global.

PCIM di Inggris saat ini dipimpin Zain Maulana, kandidat doktor ilmu hubungan luar negeri di University of Leeds. Selain komunitas Muhammadiyah, pertemuan ini juga dihadiri Dubes Indonesia untuk Kerajaan Inggris, Dr. Rizal Sukma dan komunitas Indonesia yang tinggal di London.

Editor: Tasrief Tarmizi

ANTARA News

Doc. The 6th World Peace Forum

Din akui bahas Ahok dengan Jokowi

Doc. The 6th World Peace Forum

Doc. The 6th World Peace Forum

Jakarta – Chairman of Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC) Din Syamsuddin mengakui membahas masalah Gubernur Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta non-aktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), meskipun hanya selintas saat bertemu dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu.

“Walaupun sangat selintas tadi kami diskusikan kasus Gubernur Basuki Tjahaja Purnama, Ini beliau, sebagaimana sering diulang-ulang ,tidak mau mengintervensi proses hukum dan tidak akan melindungi dan oleh karena itu, ini harus kita percayai,” kata Din di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, terkait pertemuannya dengan Presiden Jokowi.

Din sendiri mengaku ingin mendalami tentang pernyataan Presiden yang sangat meyakinkan tersebut, yang meminta agar seluruh elemen masyarakat percaya pada proses hukum yang berkeadilan, cepat, transparan, dan memperhatikan rasa keadilan masyarakat.

Menurut Din, hal itu baik karena penegakan hukum merupakan jalan keluar terbaik bagi masalah-masalah bangsa ini.

“Hukum adalah cara beradab untuk menyelesaikan masalah yang ada, untuk menghindari perilaku dan tindakan yang boleh jadi tidak beradab, maka harus kita dukung. Apalagi, Indonesia adalah negara berdasarkan hukum yang menegakan supremasi hukum,” ujarnya.

Ia pun menimpali, “Tinggal sekarang persoalan yang ada ini berkeadilan atau tidak. Nah, ini yang menurut hemat saya, saya terima dari Bapak Presiden, dan itu satu keyakinan satu konfirmasi, maka biarlah ini berlanjut.”

Din, yang juga Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), menyampaikan kepada Presiden Jokowi bahwa sikap dasar dari umat Islam yang diwakili oleh organisasi massa (ormas) Islam tersebut adalah formal dan sangat cinta kepada Tanah Air.

Selain itu, ia pun mengemukakan, mereka juga sangat cinta kepada bangsa dan negara serta sangat berwawasan kemajemukan, Bhineka Tunggal Ika.

Menurut dia, umat Islam sangat besar jasanya bagi kemerdekaan, bagi penegakan negara, dan itu tidak perlu dikhawatirkan.

“Justru kalau ada orang lain yang mengganggu, semacam menuduh umat Islam intoleran, ini mengusik rasa kesadaran batin mereka,” katanya.

Din mengatakan Presiden telah berjanji akan terus berkomunikasi dan bersikap dialogis dengan berbagai elemen masyarakat, khususnya umat Islam.

“Pemerintah akan semakin memberikan perhatian untuk mengatasi kesenjangan khususnya dalam bidang ekonomi. Saya katakan kepada beliau kalau rakyat di lapis bawah yang mayoritas adalah umat Islam merasakan ada ketidakadilan, kesenjangan ekonomi. Ini yang mereka untuk bangkit bereaksi, dan itulah rakyat Indonesia jangan lihat itu sebagai umat Islam,” katanya.

Din juga menegaskan dalam pertemuan tersebut terkait adanya aktor politik yang cenderung memanfaatkan situasi terakhir bahwa ormas-ormas Indonesia akan berada di belakang atau di depan pemerintah untuk menolak segala niat yang tidak baik yang ingin merongrong kekuasaan pemerintah yang sah berdasarkan konstitusi.

“Saya pribadi, saya enggak tahu persis baik NU, Muhammadiyah, dan ormas-ormas Islam ini, sangat berwawasan konstitusional, maka akan menolak ada gelagat dan gejala yang ingin membelokkan dan membalikkan proses konstitusional lima tahunan bagi seorang presiden wakil presiden terpilih secara sah lewat proses demokrasi,” demikian Din Syamsuddin.

Editor: Priyambodo RH | Pewarta: Hanni Sofia Soepardi\