din-syamsuddin

Muslim hanya butuh perlakuan berkeadilan

Din SyamsuddinJakarta – Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin menegaskan bahwa umat muslim hanya perlu diperlakukan berkeadilan dalam kehidupan masyarakat dan tidak menuntut hak istimewa.

“Jangan dibilang umat Islam tidak toleran. Umat Islam tidak menuntut hak istimewa, hanya perlu diperlakukan berkeadilan,” kata Din di kantor MUI, Jakarta, Rabu.

Dia menyinggung dan menyesalkan kejadian razia Satpol PP pada warung makan yang berjualan di siang hari di Serang karena dengan tindakan berlebihan.

Hanya saja, lanjut dia, tutupnya warung makan di siang hari pada bulan puasa sebaiknya dilakukan sebagai bagian dari budaya dan etika.

“Bukan orang-orang yang berpuasa minta dimanjakan. Bagi saya sih baik-baik saja untuk uji keimanan, tapi sebagai toleransi menurut saya itu budaya, etika, yang seyogyanya demikian,” kata Din.

Dia juga menambahkan bahwa umat muslim sudah bertoleransi kepada penganut agama lain, misalnya saat Hari Raya Nyepi di Bali.

“Di Bali saat Nyepi tidak boleh naik motor ke masjid. Penggunaan toa pun memang tidak diperbolehkan sebelumnya,” ujar dia.

Dia juga mengungkapkan bahwa tokoh-tokoh Islam sejak dulu sudah bertoleransi dengan kebijaksanaan dan kenegarawanannya dalam memperjuangkan Indonesia.

Din mengingatkan kepada semua pihak agar umat Islam tidak didiskreditkan mengingat umat muslim merupakan bagian besar dari bangsa Indonesia.

Pewarta: Aditya Ramadhan

Editor: Suryanto

ANTARA News

Ketua Dewan Pengarah Pergerakan Indonesia Maju, Prof. Dr. M. Din Syamsuddin

Din Syamsuddin ajak umat Islam peduli lingkungan

Ketua Dewan Pengarah Pergerakan Indonesia Maju, Prof. Dr. M. Din Syamsuddin

Ketua Dewan Pengarah Pergerakan Indonesia Maju, Prof. Dr. M. Din Syamsuddin

Jakarta – Ketua Dewan Pengarah Indonesia Bergerak Selamatkan Bumi (Siaga Bumi) Din Syamsuddin mengajak umat Islam untuk peduli terhadap lingkungan hidup.

“Manusia sebagai khalifah di muka bumi memiliki amanah dan tanggung jawab untuk memakmurkan bumi seisinya serta tidak hanya memanfaatkannya saja,” ujar Din di Jakarta, Senin.

Dia menjelaskan inti dari Islam yang memberikan rahmat bagi seluruh alam adalah Islam yang kehadirannya di tengah kehidupan masyarakat mampu memberikan rahmat di dunia maupun di akhirat melalui kedamaian dan kasih sayang bagi bumi.

“Umat muslim sebagai potensi terbesar bangsa yang seharusnya menjadi subjek sekaligus objek gerakan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dan sumber daya alam itu sendiri dengan kesadaran akan hak serta kewajiban dalam hal pelestarian lingkungan hidup dan pengelolaan sumber daya alam,” tambah dia.

Ketua Umum Dewan Penggerak Siaga Bumi, Hayu Prabowo, mengatakan MUI telah menetapkan Fatwa tentang Pengelolaan Sampah Untuk Mencegah Kerusakan Lingkungan.

“Salah satu ketentuan hukumnya adalah setiap muslim wajib menjaga kebersihan lingkungan, memanfaatkan barang-barang untuk kemaslahatan serta menghindarkan diri dari berbagai penyakit serta perbuatan tabdzir dan israf,” jelas Hayu.

Tabdzir adalah menyia-nyiakan barang/harta yang masih bisa dimanfaatkan menurut ketentuan syari ataupun kebiasan umum di masyarakat. Israf adalah tindakan yang berlebih-lebihan, yaitu penggunaan barang/harta melebihi kebutuhannya.

Hayu menghimbau umat Islam di bulan Ramadhan untuk dapat menjaga alam dengan mengonsumsi sesuatu dari alam seperlunya.

Sekretaris Umum Dewan Penggerak Siaga Bumi, Alpha Amirrachman, menambahkan bahwa selain bernilai ibadah, kepedulian ini penting untuk memelihara kesehatan tubuh yang sekaligus menjaga alam sebagai bentuk tanggung jawab khalifah di bumi.

“Kita perlu menghindari konsumsi yang berlebihan, misalnya jangan makan hingga terlalu kenyang, (memilih, red) membeli makanan lokal, mengurangi makanan impor karena makanan impor memproduksi banyak sampah seperti energi penyimpanan dan transportasi. Umat Islam perlu meningkatkan kepedulian akan lingkungan hidup,” kata Alpha.

Pewarta: Indriani | Editor: Suryanto | AntaraNews.com

PIM_21052016

Pergerakan Indonesia Maju, Murni Ormas Lintas Agama dan Suku, Bukan Partai Politik

PIM_21052016JAKARTA- Para tokoh masyarakat seperti Din Syamsuddin, Ali Maskyur Musa, Siti Zuhro, dan Chusnul Mariyah, resmi mendeklarasikan organisasi kebangsan Pergerakan Indonesia Maju (PIM), Sabtu (21/06/2016) malam, di JCC Jakarta.

Din Syamsudin dalam sambutan deklarasi PIM mengatakan, bahwa Pergerakan Indonesia Maju (PiM) bukanlah Partai seperti isu yang beredar.

Saat ditemui usai deklarasi, Ketua Umum PIM Din Syamsuddin mengatakan Pergerakan Indonesia Maju (PIM), yang didirikan pada tanggal 4 April 2016 dan dideklarasikan pada 21 Mei 2016 bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional bukan perahu politik maupun Partai baru.

“Ini organisasi masyarakat, bukan partai, kita merupakan perkumpulan yang berazaskan Pancasila, dan dilatar belakangi dengan Bhineka Tunggal Ika,” katanya.

PIM menurut Din Syamsuddin, adalah sebuah gerakan masyarakat lintas agama, suku, gender, dan profesi. Menurut Din organisasi itu anggotanya 40 persen adalah kaum perempuan.

Lebih lanjut dikatakan, PIM dibentuk untuk menggalang potensi kemajemukan yang ada di Indonesia. Diakui beberapa pihak selama ini kemajemukan yang ada dianggap sebagai kelemahan di saat bangsa mengalami krisis. Untuk itu PIM ingin kemajemukan yang ada digalang untuk menjadi kekuatan dan persatuan. “PIM ingin menjadikan kemajemukan sebagai kekuatan yang dahsyat untuk kemajuan bangsa dan negara,” ujarnya.

Pengurus PIM lainya, yakni Ali Maskyur Musa juga menambahkan, PIM dibentuk untuk mengembalikan etos para founding fathers. Dalam kesempatan itu Siti Zuhro juga menyebut bahwa PIM adalah organisasi tanpa sekat dan ingin ikut memberdayakan masyarakat desa.

“Ya pastinya keinginan kita bersama untuk menyatukan visi dan misi demi tercapainya pembangunan yang adil dan menyentuh langsung ke masyarakat, maka kita gandeng semua tokoh dari berbagai elemen dan lintas agama,” ujar Ali Masykur Musa.

“Kalau ini dikatakan partai, terlalu jauh. Visi kita bukan mencari kekuasaan politik, tapi benar-benar mendorong pemerintah, mengajak pemerintah untuk memperhatikan dan memberdayakan masyarakat pedesaan,” timpal Siti Zahro. ***

GoRiau.com

PIM_DS1

Deklarasikan Perkumpulan Pergerakan Indonesia Maju

PIM_DS1Jakarta – Din Syamsuddin mendeklarasikan berdirinya perkumpulan Pergerakan Indonesia Maju (PIM). Berdirinya PIM disepakati 45 tokoh nasional.

Din yang juga didapuk sebagai Ketua mengatakan, PIM dibentuk sebagai wadah untuk merealisasikan cita-cita kemerdekaan. Dia bilang, di era globalisasi saat ini, masyarakat diarahkan menjadi individualis yang menguras rasa kepedulian antaranak bangsa.

Untuk itu, kata Din, PIM melibatkan elemen-elemen bangsa lintas agama, suku, ras dan profesi, bergerak dalam aksi sosial kemasyarakatan. “Kini Indonesia mengahadapi tantangan baru dari luar yang mengancam kedaulatan negara. Indonesia tidak boleh kehilangan harapan dan kepercayaan menghadapi masa depan,” kata Din dalam acara deklarasi PIM di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta Selatan, Sabtu (21/5/2016) malam.

Din menjelaskan, organisasi PIM meyakini kemajemukan merupakan kekuatan, maka kemajemukan harus dijelmakan menjadi kebersamaan. Dia menegaskan, hanya dengan kebersamaan, cita-cita pendiri bangsa akan menjadi kenyataan.

Selain itu, berdirinya PIM juga dilatarbelakangi semakin tingginya kesenjangan ekonomi politik dalam kehidupan masyarakat. Dalam bidang sosial-ekonomi, ketidakadilan ekonomi masih menyebabkan ketimpangan pendapatan antara masyarakat kelas bawah dan kelas atas.

“Nilai-nilai budaya bangsa terus tergerus oleh penetrasi budaya luar, kemajemukan harus menjadi kekuatan untuk bersatu bukan menjadi kelemahan,” ungkap Din.

Dalam waktu dekat, PIM segera menjalankan empat program utama, yakni membangun smart village (desa pintar), terdiri dari taman pustaka bacaan dan ruang interaksi masyarakat. Kedua, membangun Desa Mandiri Energi, yakni mendorong pemanfaatan segala potensi energi yang ada di desa untuk pergerakkan ekonomi. Ketiga membangun rumah Aladin (Atap, lantai dan dinding), membangun rumah layak huni bagi masyarakat miskin. Dan keempat akselerasi penuntasan buta aksara yang akan dilakukan dengan kegiatan-kegiatan penetasan buta aksara.

“Merupakan kewajiban semua warga negara untuk terus bangkit bergerak, bekerjasama, bahu-membahu mengahdapi tantangan dan mengatasi permsalahan bangsa,” harap dia.

Perkumpulan PIM memiliki struktur dengan jenjang kepengurusan yang tersusun di tingkat nasional yang disebut Dewan Nasional (DN) yang berjumlah 45 orang. Di tingkat Provinsi disebut Dewan Wilayah (DW) yang berjumlah delapan orang dan tingkat Kabupaten/Kota yang disebut Dewan Daerah (DD) yang berjumlah 17 orang. Masa bakti kepengurusan untuk semua tingkatan adalah lima tahun.

Berikut daftar kepengurusan Dewan Nasional PIM di tingkat Dewan Nasional:
Ketua: Din Syamsuddin
Wakil Ketua: Siti Zuhro
Wakil Ketua: Philip Kuntjoro Widjaja

Sekretaris: Ali Masykur Musa
Wakil Sekretaris: Umar Husin
Wakil Sekretaris: Amanah Abdul Kadir

Bendahara: Ulla Nuchrawaty
Wakil Bendahara: Yohanes Handojo Budhi Sedjati
Wakil Bendahara: Lieus Sungkharisma

Anggota:
Achmad Syauqi
Ahmadie Thaha
Akhmaloka
Airin Rachmi Diany
Cyrullus I Kerong
Chusnul Mariyah
Amidhan
Azizah Aziz
Darmon Djabar
Fadhilah Suralaga
Lucky Aziza B
Nadjamuddin Ramly
Nyoman Udayana S
Rustriningsih
Fahmi Darmawansyah
Hamdan Zoelva
Hanifah Husein
Dharmasilan
Isran Noor
Krisnina Akbar Tandjung
Margie Ivonnie Ririhena
Miryam S Haryani
Muhammad Arief Rosyid Hasan
Maurits Alex Paath
Meuthia Ganie
Muljawan Marganada
Pastono Chandra Dana
Paiman Mak
Phil Erapi
Willem TP Simarmata
Rahmawati Husein
Syifa Fauzia
Uung Sendawa
Veronica Wiwiek Sulistyo
Weinata Sairin MTH
Widya Murni
(REN)

sumber: Metrotvnews.com

PIM Temui Ketua DPR RI 20/5/2016

Kenalkan Pergerakan Indonesia Maju Kepada Ketua DPR

PIM Temui Ketua DPR RI 20/5/2016

PIM Temui Ketua DPR RI 20/5/2016

JAKARTA — Ketua Dewan Nasional Pergerakan Indonesia Maju (PIM) Din Syamsuddin, bertemu dengan Ketua DPR RI Ade Komarudin. Dalam pertemuan yang berlangsung di ruang kerja Ade, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Din memperkenalkan Gerakan Nasional yang disebut Pergerakan Indonesia Maju, yang baru berdiri pada 4 April 2016.

Menurut Din, PIM merupakan gerakan masyarakat Indonesia yang berasal dari lintas agama, suku, profesi, dan gender. PIM mencoba Menggalang potensi kemajuan demi persatuan serta untuk ikut berpartisipasi memajukan bangsa.

Ia menuturkan, kemajemukan bisa menjadi faktor kelemahan yang membawa perpecahan. Tetapi bisa juga menimbulkan kebersamaan dan kekuatan untuk kemajuan bangsa.

”Karena itulah kami bersepakat mendirikan PIM. Dengan pengurus dewan nasional sebanyak 45 orang, dewan wilayah 8 orang, dewan daerah 17 orang, yang terdiri atas berbagai agama, suku, profesi,” kata Din.

Pertemuannya dengan Akom, tidak lain agar PIM bisa bekerja sama dengan semua pihak, termasuk DPR, DPRD, maupun partai politik dan lainnya. Dalam pertemuan tersebut, Din menjabarkan empat program aksi unggulan dari PIM kepada Akom. ”Program tersebut adalah desa pintar, desa maju mandiri energi, percepatan literasi rakyat, dan rumah aladin (atap, lantai, dinding) untuk rakyat,” ucap Din.

Ketua DPR RI Ade Komarudin mengaku setuju dengan filosofi dan tujuan dari gerakan PIM ini. Apalagi, kata dia, Din Syamsuddin merupakan dosennya semasa kuliah dulu.

”Kalau soal ideologinya kalau tidak bisa melawan kapitalisme, tapi kapitalisme yang baik hati. Pancasila itu kita isi dengan kapitalisme yang baik hati. Kalau yang jahatnya abad-19-nya yang berkembang biak dengan subur. Banyak UU seperti itu, terutama terkait dengan ekonomi,” ucap Akom.

Menyangkut gerakan desa pintar, Akom mengatakan sudah berpikir ingin mencari waktu untuk pergi ke beberapa perpustakaan besar yang telantar, seperti Jogja, Bung Hatta, Buya Hamka, dan Tan Malaka yang hampir roboh. ”Kita harus menghormati tokoh besar yang cerdas-cerdas ini,” katanya.

Sumber: Republika.co.id (Rep: eko supriyadi/ Red: Taufik Rachman)

Ketua Pergerakan Indonesia Maju temui Ketua MPR-RI 18/5/2016

Temui Pimpinan MPR, Din Syamsuddin Bersama Pergerakan Indonesia Maju Siap Bantu Pemerintah

Ketua Pergerakan Indonesia Maju temui Ketua MPR-RI 18/5/2016

Ketua Pergerakan Indonesia Maju temui Ketua MPR-RI 18/5/2016

JAKARTA – Ketua Dewan Nasional Pergerakan Indonesia Maju, Din Syamsuddin mengatakan pihaknya siap membantu pemerintah dan parlemen dalam pembangunan nasional.

Mereka yang terdiri dari beberapa tokoh politik, tokoh agama, dan peneliti, mengaku akan bekerjasama sebagai organisasi nonpolitik untuk bermitra.

“Kami meski organisasi baru, tetapi banyak nama-nama yang sudah terkenal dan tokoh-tokoh yang siap membantu pemerintah dan dewan dalam pembangunan nasional,” ujar Din di Komplek Parlemen, Jakarta, Senin (16/5/2016).

Dirinya menjelaskan hingga saat ini sudah banyak hal yang telah diperbuat organisasinya seperti bedah rumah, pemberian rumah gratis, perpustakaan, dan beberapa lainnya.

Organisasi yang baru dibentuk pada 4 April 2016 lalu tersebut, akan mendeklarasikan diri 21 Mei 2016 mendatang dan telah menyiapkan beberapa rencana untuk mendukung pembangunan pemerintah.

Menanggapi hal itu, Ketua MPR, Zulkifli Hasan menyampaikan bahwa dirinya menyambut positif hal tersebut dan membuka ruang untuk siapapun menemui pimpinan MPR.

“Pada intinya, kami berterimakasih dan membuka setiap ruang siapa saja yang membantu kinerja kami,” kata Zulkifli.

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Amriyono Prakoso

DSC_0717

Islam belum ambil keuntungan demokrasi

DSC_0717Jakarta – Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia Din Syamsuddin mengatakan umat Islam belum mengambil keuntungan dari era demokrasi Indonesia terkini, tampak dari terpinggirkannya aspirasi dari Muslim sebagai warga mayoritas bangsa.

“Umat Islam seperti pendorong mobil mogok, tapi begitu mobil jalan dia ditinggalkan,” kata Din di sela acara Rapat Pleno VIII Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia di kantor MUI Pusat, Jakarta, Rabu.

Din menjelaskan pengibaratan itu terjadi dalam dunia demokrasi Indonesia terkini yang cenderung mengarah liberal. Saat kampanye, umat Islam dirayu mendukung calon atau partai tertentu tetapi begitu yang bersangkutan ada di kursi kekuasaan melupakan janji-janjinya terhadap umat.

Atas dasar itu, dia meminta siapapun agar tidak sekadar memanfaatkan suara umat Islam saja, selanjutnya tidak dipedulikan aspirasinya di kemudian hari.

“Islam jangan disingkirkan dari pentas politik,” kata Din.

Sementara itu, Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Hamdan Zoelva mengatakan umat Islam saat ini tidak menguasai media dan ekonomi nasional. Oleh karena itu, umat sangat kesulitan untuk berjaya di pentas politik baik figur maupun partainya.

“Politik sekarang cenderung tumbuh secara pragmatis dan dipengaruhi dua kekuatan besar, yaitu ekonomi dan media. Di dua sisi itu umat tidak mempunyai kekuatan yang cukup. Setelah calon atau partai bersangkutan melenggang, umat Islam dilupakan dan kebijakan untuk umat tersingkir atau kalah dengan kepentingan pemodal yang memiliki ekonomi dan media. Ini masalah besar,” kata dia.

Untuk itu, dia mengharapkan umat Islam segera bangkit dari keterpurukan untuk memperkuat diri, terutama di bidang ekonomi dan media,

“Gerakan ekonomi sangat penting sehingga dalam pertarungan politik di era demokrasi yang bebas ini bisa menang. Kemampuan ekonomi dan modal ini sangat penting dalam persaingan pemilu yang cenderung melakukan praktik pertarungan bebas,” katanya.

Pewarta: Anom Prihantoro, Editor: Aditia Maruli (ANTARA News)

Ketua Pergerakan Indonesia Maju bersama Dewan Nasional temui Ketua DPD RI

BERSAMA PENGURUS PIM, DIN SYAMSUDDIN TEMUI KETUA DPD RI

Ketua Pergerakan Indonesia Maju bersama Dewan Nasional temui Ketua DPD RI

Ketua Pergerakan Indonesia Maju bersama Dewan Nasional temui Ketua DPD RI

Ketua Pergerakan Indonesia Maju (PIM) Din Syamsuddin bersama jajarannya akan menemui Ketua DPD RI Irman Gusman di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta (Rabu, 18/5).

Dalam pertemuan yang diagendakan pukul 11.00 WIB tersebut, Din akan beraudiensi dan memperkenalkan organisasi yang baru didirikannya tersebut bersama puluhan tokoh nasional.

Bersama Din akan hadir pengurus PIM lainnya. Di antaranya Ali Masykur Musa, Akhmaloka, Widya Murni, Handoyo, M Arief Rosyid Hasan, Nyoman Udayana, Weinata S, Miryam S Haryani, Uda Yuna, Paiman Mak, R Siti Zuhro, Chusnul Mar’iyah, Margie Ririhena, Veronica WS, dan Isran Noor.

Kepada Irman Gusman, Din Cs juga akan menyampaikan rencana deklarasi PIM yang akan digelar di Plenary Hall Jakarta Convention Center (JCC) pada Sabtu (21/5) mendatang.

Sebelumnya, Din dan kawan-kawan menemui Ketua MPR Zulkifli Hasan.

Organisasi PIM didirikan 45 tokoh sebagai sebuah gerakan masyarakat Indonesia yang bersifat lintas agama, suku, profesi, dan gender pada 4 April 2016 lalu.

Saat itu, Din menjelaskan, perkumpulan ini memiliki misi utama, yakni kemanusiaan, kemajemukan dan kebersamaan.

“Kami 45 aktivis bangsa, bersepakat membentuk perkumpulan, dinamakan Pergerakan Indonesia Maju. Secara resmi berdiri per tanggal hari ini, lewat akte notaris,” ujar Din. [zul]

Din Syamsuddin, PIM

Kenalkan Pergerakan Indonesia Maju ke Ketua DPD RI

Din Syamsuddin, PIMJAKARTA – ‎Ketua DPD RI, Irman Gusman menerima audiensi Dewan Nasional Pergerakan Indonesia Maju (PIM) di ruang rapat pimpinan DPD RI lantai 8 Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (18/5/2016). Dewan Nasional PIM itu dipimpin oleh Din Syamsuddin dan turut didampingi Sekretaris PIM Ali Masykur Musa.

Dalam kesempatan tersebut, Din menuturkan bahwa PIM akan melakukan deklarasi nasional sebagai gerakan Indonesia maju. Menurutnya, PIM hadir untuk menghadirkan kemajemukan sejati di Indonesia.

“Indonesia saat ini dihadapkan segala ancaman, seperti ancaman perpecahan dan ancaman pluralisasi. Untuk itu harus ada kesatuan untuk menciptakan kemajemukan sejati. Kami hadir untuk ciptakan kemajemukan sejati,” kata Din.

Menurut Din, ‎PIM ingin bergerak sebagai bentuk pengabdian kepada bangsa mewujudkan negara yang maju, adil, makmur berdaulat dan bermartabat. Karena menurutnya, pengaruh globalisasi sangat rentan mengancam stabilitas bangsa seperti adanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

“‎Kami ingin berbuat, tapi tidak berpretensi sebagai pahlawan kesiangan. Kami ingin mulai dari bawah, kita ingin mulai dari desa, ada desa ppintar, rumah aladin dan lainnya,” tuturnya.

‎”Kami ingin jadi problem solvers menjadi pihak penyelesaian masalah, tidak untuk menciptakan masalah,” tambahnya.

‎Menanggapi pemaparan PIM, Irman Gusman menyambut positif adanya Pergerakan Indonesia Maju. Sebagai pimpinan DPD, dirinya bangga dengan adanya pemimpin dan para tokoh bangsa yang mendorong Indonesia menjadi negara maju dengan program-program yang telah disiapkan.

“Kami di DPD sebagai wakil daerah sangat mengapresiasi. Kami bangga dengan adanya gerakan Indonesia Maju ini,” tegas Irman Gusman.

Penulis: Muhammad Zulfikar
Editor: Hendra Gunawan

Tribunnews.com

Dinsyamsuddin-siaga bumi (4)

Soal Kekerasan Seksual, Tidak Cukup Hanya Penegakan Hukum

Dinsyamsuddin-siaga bumi (4)JAKARTA – Tokoh Nasional, Din Syamsuddin mengatakan bahwa kekerasan seksual terhadap anak sudah sampai tahap mengkahawatirkan.

Menurutnya, ada beberapa faktor yang menyebabkan hal itu terjadi.

Pertama, adanya kesalahan dalam kehidupan anak-anak remaja saat ini.

Kedua, peran tokoh agama yang tidak maksimal dan media sosial yang terlalu bebas.

“Faktor-faktor ini yang harus segera kita kendalikan, tidak cukup hanya penegakan hukum, tapi juga harus membentenginya dengan moral,” ujarnya ketika ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (16/5/2016).

Din menjelaskan mulai saat ini, ceramah keagamaan harus segera digencarkan, begitu juga dengan pendidikan dalam keluarga dan pendidikan formal.

Namun, kasus-kasus kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan yang masih sering terjadi, kata Din, seharusnya menjadi bahan introspeksi bagi masyarakat dan tidak menyalahkan pihak lain.

“Sebaiknya, introspeksi ke dalam. Tanpa harus salahkan siapa pun. Intinya jangan sampai ada yang buka peluang kekerasan itu terjadi lagi,” katanya.

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Amriyono Prakoso