Prof. Dr. Din Syamsuddin - Doc CDCC/WPF5

Krisis Lingkungan Hidup Manifestasi Krisis Moral

Prof. Dr. Din Syamsuddin - Doc CDCC/WPF5

Prof. Dr. Din Syamsuddin – Doc CDCC/WPF5

Paris, Prancis – Ketua Komite Pengarah Indonesia Bergerak Selamatkan Bumi (SiagaBumi) Din Syamsuddin menegaskan bahwa krisis lingkungan hidup merupakan manisfestasi dari krisis moral. Karena itu, solusi atas krisis ini harus pendekatan agama dan etika.

Hal ini disampaikan Din Syamsuddin saat menjadi pembicara pada Conference Of Parties (COP-21) atau Konferensi PPB tentang Lingkungan Hidup di Paris, Prancis, pada Senin (30/11). Din berbicara di Pavilion Indonesia pada sesi Interfaith Dialogue: Faith Action for Climate Solution bersama empat tokoh atau aktivis lintas agama lain dengan moderator mantan Menlu Hasan Wirayuda.

“Kerusakan lingkungan hidup, perubahan iklim dan pemanasan global adalah masalah moral. Krisis lingkungan adalah manifestasi krisis moral. Oleh karena itu, solusi terhadap perubahan iklim yang menjadi salah satu fokus COP-21 harus menyertakan pendekatan moral dan etika agama,” ujar Din dalam diskusi tersebut.

Menurut Ketua Dewan Pertimbangan MUI ini, Al Qur’an empat belas abad silam sudah menegaskan bahwa semua kerusakan di bumi akibat ulah manusia.  “Padahal alam diciptakan dan diperuntukkan manusia sebagai subyek, yakni untuk dihuni dan dimanfaatkan. Karena itu, penanggulangan masalah perubahan iklm harus menjadi tanggung jawab bersama semua umat beragama,” imbuh Din.

Dalam sesi ini juga Din berbagi pengalaman Indonesia melalui SiagaBumi ikut menanggulangi dampak perubahan iklim dan kerusakan ekosistem melalui pendekatan keagamaan. SiagaBumi, yang merupakan gerakan nasional lintas agama, kata Din tengah melakukan gerak aksi berupa penyadaran untuk pemuliaan lingkungan hidup, penciptaan Eco-Rumah Ibadat (Eco-RI), dan penciptaan kali bersih.

Terkait Eco-RI, SiagaBumi telah meluncurkan Eco-Vihara di Bogor akhir Oktober lalu, dan Eco-Masjid pasa awal Januari di tahun yang akan datanh, yang akan disusul oleh Eco-Masjid, Eco-Gereja, Eco-Pura, Eco-Klenteng, dan seterusnya. “Kita perlu mulai dari menjadikan rumah Tuhan sebagai tempat ramah lingkungan, sebelum kita bergerak memuliakan bumi ciptaanNya,” tegas mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini di hadapan tamu asing yang hadir.

Eco-Rumah Ibadat, kata dia akan mengambil bentuk pengasrian bangunan, pengasrian halaman melalui penanaman pohon, dan perbaikan sanitasi atau saluran air. “Untuk itu, SiagaBumi akan bekerja sama dengan semua pihak yang peduli, baik pemerintah, dunia usaha, maupun masyatakat luas untuk memberikan solusi terhadap kerusakan lingkungan hidup, perubahan iklim dan pemanasan global yang tidak dapat ditangani satu pihak saja, tetapi merupakan tanggung jawab bersama,” ungkapnya.

Yustinus Paat/WBP – BeritaSatu.com

dinsyamsuddin_COP21

DAMPAK PERUBAHAN IKLIM TANGGUNG JAWAB SEMUA UMAT BERAGAMA

dinsyamsuddin_COP21Ketua Dewan Pengarah Siaga Bumi (Indonesia Bergerak Menyelamatkan Bumi) Din Syamsuddin menegaskan bahwa bahwa kerusakan lingkungan hidup, perubahan iklim dan pemanasan global adalah masalah moral.

Oleh karena itu, lanjut Din, solusi terhadap perubahan iklim yg menjadi salah satu fokus COP-21 di Paris harus menyertakan pendekatan moral dan etika agama.

“Tanpa landasan dan pendekatan moral, solusi menjadi tidak berarti dan tak akan sejati,” kata Din saat tampil sebagai pembicara pada Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim (Conference of Parties, atau COP-21) di Paris, Perancis, kemarin (Senin, 30/11). Din berbicara di Pavilion Indonesia pada sesi Interfaith Dialogue: Faith Action for Climate Solution, bersama empat tokoh/aktivis lintas agama lain dengan moderator mantan Menteri Luar Negeri, Hasan Wirayuda.

Menurut Ketua Dewan Pertimbangan MUI ini, Al Qur’an sejak 14 abad silam sudah mengingatkan bahwa semua kerusakan di muka bumi akibat ulah perbuatan manusia. Maka, penanggulangan masalah perubahan iklm dengan segala dampaknya harus menjadi tanggung jawab bersama semua umat beragama.

Din pada sesi yang juga dihadiri sejumlah tamu asing itu berbagi pengalaman Indonesia melalui Siaga Bumi dalam ikut menanggulangi dampak perubahan iklim dan kerusakan ekosistem melalui pendekatan keagamaan.

Siaga Bumi, jelas Din, yang merupakan gerakan nasional lintas agama, tengah melakukan gerak aksi berupa penyadaran untuk pemuliaan lingkungan hidup, penciptaan Eco-Rumah Ibadat (Eco-RI), dan penciptaan sungai bersih.

“Terkait Eco-RI, Siaga Bumi telah meluncurkan Eco-Vihara di Bogor akhir Oktober lalu, dan Eco-Masjid pasa awal Januari yang akan datang, yg akan disusul oleh Eco-Masjid, Eco-Gereja, Eco-Pura, Eco-Klenteng, dan seterusnya. Kita perlu mulai dari menjadikan Rumah Tuhan sebagai tempat ramah lingkungan, sebelum kita bergerak memuliakan bumi ciptaan-Nya, tegas mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah yang sekarang menjadi Ketua Ranting Muhammadiyah Pondok Labu.

Lanjut Din yang juga pendiri Centre for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CDCC) ini menegaskan, solusi terhadap kerusakan lingkungan hidup,  perubahan iklim dan pemanasan global tidak dapat ditangani satu pihak saja, tapi merupakan tanggung jawab bersama.

“Pada titik tanggung jawab kolektif inilah agama-agama menemukan rendevous-nya,”  tukas Din. [wid]

RMOL – http://www.rmol.co/read/2015/12/01/226440/Din-Syamsuddin:-Dampak-Perubahan-Iklim-Tanggung-Jawab-Semua-Umat-Beragama-

a1c77ac0-319e-4bd7-8a8b-08c720c26fe6_341

Bicara di KTT Iklim, Din Singgung Krisis Moral Penyebab Kerusakan Lingkungan

a1c77ac0-319e-4bd7-8a8b-08c720c26fe6_341Jakarta – Ketua Dewan Pengarah Siaga Bumi (Indonesia Bergerak Menyelamatkan Bumi) Din Syamsuddin, tampil sebagai pembicara dalam Conference of Parties 21 (COP 21) atau KTT Perubahan Iklim di Paris, Prancis.

Dalam presentasinya, Din menegaskan kerusakan lingkungan hidup, perubahan iklim dan pemanasan global adalah masalah moral. Krisis lingkungan menurutnya adalah wujud dari krisis moral.

“Oleh karena itu, solusi terhadap perubahan iklim yang menjadi salah satu fokus COP-21 di Paris harus menyertakan pendekatan moral dan etika agama. Tanpa landasan dan pendekatan moral, solusi menjadi tidak berarti dan tak akan sejati,” kata Din saat berbicara di Paviliun Indonesia pada sesi Interfaith Dialogue: Faith Action for Climate Solution, Senin (30/11/2015).

Ketua Dewan Pertimbangan MUI ini, menegaskan kerusakan di muka bumi adalah akibat ulah perbuatan manusia. Karena itu, penanggulangan masalah perubahan iklim dengan segala dampaknya sambung Din harus menjadi tanggung jawab bersama semua umat beragama.

Selain itu, Din juga berbagi pengalaman Indonesia melalui Siaga Bumi dalam penanggulangan dampak perubahan iklim dan kerusakan ekosistem melalui pendekatan keagamaan.

Siaga Bumi, yang merupakan gerakan nasional lintas agama, tengah melakukan gerak aksi berupa penyadaran untuk pemuliaan lingkungan hidup, penciptaan Eco-Rumah Ibadat (Eco-RI), dan penciptaan sungai bersih.

“Terkait Eco-RI, Siaga Bumi telah meluncurkan Eco-Vihara di Bogor akhir Oktober lalu, dan Eco-Masjid pada awal Januari yang akan datang, yang akan disusul oleh Eco-Masjid, Eco-Gereja, Eco-Pura, Eco-Klenteng, dan seterusnya. Kita perlu mulai dari menjadikan Rumah Tuhan sebagai tempat ramah lingkungan, sebelum kita bergerak memuliakan bumi ciptaanNya,” ujar Din dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi.

Eco-Rumah Ibadat tersebut akan mengambil bentuk pengasrian bangunan, pengasrian halaman melalui penanaman pohon, dan perbaikan sanitasi atau saluran air.

Sedangkan gerakan kali bersih akan diawali dengan perubahan cara pandang dan budaya masyarakat bahwa kali bukan tempat pembuangan barang-barang buruk, tapi aliran air dan sumber mata air kehidupan serta penghidupan.

Din menegaskan, Siaga Bumi akan bekerja sama dengan semua pihak yang peduli, baik pemerintah, dunia usaha, maupun masyarakat.

“Solusi terhadap kerusakan lingkungan hidup, perubahan iklim dan pemanasan global tidak dapat ditangani satu pihak saja, tapi merupakan tanggung jawab bersama. Pada titik tanggung jawab kolektif inilah agama-agama menemukan rendevous-nya,” ujarnya.
(fdn/fdn)

Ferdinan – detikNews | http://news.detik.com/berita/3084750/bicara-di-ktt-iklim-din-singgung-krisis-moral-penyebab-kerusakan-lingkungan

 

7b4befb7-c14a-4127-9f68-9f69cc6e2d4e_169

No signs of Paris copycat attacks in RI: Police

7b4befb7-c14a-4127-9f68-9f69cc6e2d4e_169The National Police has urged the public to remain calm, saying that there had not yet been any indication that last Friday’s terror attacks in Paris would inspire similar attacks in Indonesia.

“There has been no signs [of potential copycat attacks],” National Police spokesman Brig. Gen. Agus Rianto told The Jakarta Post on Thursday.

The radical Islamic State (IS) group has since claimed responsibility for the attack in the French capital that claimed over 120 lives.

Agus said that the National Police had launched preventive measures including stepping up surveillance to ensure a similar attack would not happen in the country.

“[The National Police chief] has ordered the leaders of each police precinct nationwide to step up security measures in areas where people mostly gather. But, for this we need support and information from the public,” Agus said.

Coordinating Political, Legal and Security Affairs Minister Luhut Panjaitan also called on the public not to be concerned by the possibility of the influence of IS growing in Indonesia following reports that a number of Indonesians who had joined the movement in Syria had been trying to return home.

“Do not worry, we are serious about handling this,” Luhut told a press conference on Thursday. “Until now, we have yet to see any indication that the country is a potential target of IS.”

A recent public opinion poll conducted by the Indonesian Survey Institute (LSI) found that there were growing fears that Indonesia could be targeted by terrorists.

The survey revealed that 84.62 percent of 600 respondents from the country’s 33 provinces were worried that an attack like the one in Paris would take place here.

The survey, conducted between Nov. 15 and 17, found that those who were most concerned about possible terrorist attacks came from the middle to high socio-economic bracket.

The LSI found that 54.11 percent of respondents feared that terrorists would target the country.

“Those from the middle to upper classes have easier access to information and more knowledge from media and other sources of reference,” LSI researcher Fitri Hani said on Thursday.

The survey also found that at least 86 percent of respondents were convinced that IS militants already had a presence in the country.

According to data presented in March by Nanyang Technological University terrorism expert Rohan Gunaratna, 19 of the 27 militant groups in Southeast Asia that had declared their support for IS were from Indonesia.

Recent data from the National Counterterrorism Agency (BNPT) shows that 297 Indonesians were thought to have joined IS in Syria, with 129 thought to still be in Syria while 120 had been deported and 37 already dead.

The majority of survey respondents also wanted President Joko “Jokowi” Widodo to step up government measures against radical groups to suppress growing fundamentalism in the country.

“They also wanted the religious groups, especially the country’s two largest Muslim organizations, to speak out and lead by example in the fight against terrorism,” Fitri said, referring to Muhammadiyah and Nahdlatul Ulama (NU).

Former Muhammadiyah chairman Din Syamsuddin, currently the chairman of the Indonesian Ulema Council (MUI) advisory council, said that most Muslim groups had relentlessly campaigned for peace and tolerance.

However, Din urged the government to lead efforts to suppress radicalization that was often the result of social, economic and political factors.

Fedina S. Sundaryani and Ina Parlina, The Jakarta Post, Jakarta | National | Fri, November 20 2015

http://www.thejakartapost.com/news/2015/11/20/no-signs-paris-copycat-attacks-ri-police.html

dinsyamsuddin-islam

Religious radicalism an ‘abuse of Islam,’ says prominent Indonesian leader

dinsyamsuddin-islam

Former President of Muhammadiyah, a prominent Islamic organisation in Indonesia, speaks at a lecture on Nov. 4.

TOKYO — The religious radicalism practiced by the Islamic State militant group is an “abuse of Islam,” a prominent Indonesian Islamic leader said at a conference in Tokyo on Wednesday.

Speaking at an event hosted by the Sasagawa Peace Foundation, Din Syamsuddin, former president of Muhammadiyah, an Islamic social and educational organization that claims 30 million members, said the teachings and actions of radical religious groups “contradict [Islam’s] teaching of peace and mercy” and are “a threat to human civilization.”

Indonesia has been dogged by terrorism carried out by religious radicals in recent years. An attack on the holiday destination of Bali in 2005 saw more than 20 people killed, while twin attacks on hotels in Jakarta in 2009 claimed more lives. Both incidents are said to be the work of Jemaah Islamiyah, a Southeast Asian Islamist terrorist group. The growing influence of IS among young Indonesians is raising fears that more violence may lie ahead.

Syamsuddin said the appeal of IS among younger people is not due solely to religious factors. “Young people want an alternative to the current system,” he said. “In their eyes, republicanism, monarchy, Emirati failed to bring peace, and they perceive IS to be the alternative.”

The Islamic leader also pointed to economic reasons. “IS offers salaries of $250 per month, higher than the minimum wage in Indonesia,” Syamsuddin said. “So many people bring their family to IS, not as soldiers but as servants.”

Syamsuddin said one way to prevent religious radicalism is to “give food, education [and] to create prosperity,” which he said organizations like Muhammadiyah have been trying to do for years. He said “88% of Indonesia’s population follows Islam. Taking this into account, we are [preventing] many Muslims from joining IS.”

http://asia.nikkei.com/Politics-Economy/Policy-Politics/Religious-radicalism-an-abuse-of-Islam-says-prominent-Indonesian-leader

cdcc-santegidio

Indonesian Religious Leaders Pledge to Improve Interfaith Dialogue

cdcc-santegidioIn September, the U.N.’s 193 member states agreed to adopt 17 new development goals to be achieved by 2030. The new goals replace the eight Millennium Development Goals adopted at a summit in 2000. Those expire at the end of 2015.

“All those 17 goals are related to religion, our duties and responsibilities as religions, because the whole goals are problems of humanity, problems of human beings,” Din Syamsuddin, chairman of the Center for Dialogue and Cooperation Among Civilizations, said during an interfaith dialogue program held Nov. 14 in Jakarta.

Therefore, “religion must play a significant role in addressing the problems,” he said.

The Interfaith Dialogue for Peace and Coexistence program was jointly organized by the center and the Rome-based Community of Sant’Egidio.

“With this interfaith dialogue, it’s hoped that we can collect our thoughts and ideas and then deliver them to our government and the United Nations as well,” Syamsuddin said.

Syamsuddin told ucanews.com that communication among different faiths has long been promoted by religious leaders in the country.

He cited a hospital program in Yogyakarta where a Muslim-run facility joined forces with Catholic- and Protestant-run hospitals to run a program to help mothers and children.

Father Agustinus Ulahayanan, executive secretary of the Indonesian bishops’ Commission for Ecumenical and Interreligious Affairs, highlighted the importance of educating people about interfaith dialogue.

“We must not firstly talk about religions or people will fight each other. We must firstly talk about humanity and also about human beings that have the same dignity whatever their religions are,” he said.

State of interfaith dialogue

Meanwhile, Andrea Riccardi, founder of the Community of Sant’Egidio, praised Indonesia for promoting interfaith dialogue.

Riccardi said peace can be maintained through interfaith dialogue.

“Interfaith dialogue is a weapon. It changes a war into peace, can find the same values in human beings, and shows elements which can unite all people instead of separating them,” he said.

Indonesia’s six recognized religions are Islam, Buddhism, Catholicism, Confucianism, Hinduism, and Protestantism.

Katharina R. Lestari, Jakarta, Indonesia | November 17, 2015

http://www.ucanews.com/news/indonesian-religious-leaders-commit-to-improving-interfaith-dialogue/74625

DS RAPAT CALON PRM  PONDOK LABU

Pertama Kali Dalam Sejarah Muhammadiyah: Din Syamsuddin Dilantik Jadi Ketua Ranting Muhammadiyah

DS RAPAT CALON PRM  PONDOK LABU

Suasana Rapat Pemilihan Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Pondok Labu, Cilandak, Jaksel, beberapa waktu lalu (25/10/15)

Jakarta—Pertama kali terjadi dalam sejarah Muhammadiyah, mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat  Muhammadiyah dilantik menjadi Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM). Hal ini akan berlangsung pagi ini, Rabu (18/11/2015) pukul 09.00 di Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan. Sesuai undangan yang diterima redaksi, pagi ini Prof. Dr. Din Syamsuddin, MA akan dilantik menjadi Ketua PRM Pondok Labu oleh Ketua PDM Jakarta Selatan dan disaksikan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Dr.  H. Haedar Nashir, M.Si.

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Dr. Abdul Mu’ti di Jakarta langsung mengucapkan  selamat atas pelantikan Pimpinan Ranting Muhammadiyah ini, dan memberikan apresiasi positif serta mengaku banggga dan menilai terobosan yang dilakukan Din benar-benar sangat luar biasa karena pada susunan pengurus yang diterima, terdapat banyak tokoh nasional dan  internasional yang ikut bergabung.

“Salut. Mas Din telah melakukan hal baru. Bahwa beliau sebagai mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, kemudian mau turun langsung membina Umat di Pimpinan Ranting. Mas Din benar-benar membuktikan bahwa berkhidmat di  Muhammadiyah itu bukan sekedar karena  mencari kedudukan, tetapi yang dia lakukan adalah untuk memajukan Muhammadiyah dan bangsa di tingkat akar rumput,”ujar Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah periode 2002-2006 ini.

Mu’ti  berharap,  Pimpinan Ranting Muhammadiyah Pondok Labu yang dipimpin Din nantinya akan menjadi Ranting Teladan bagi Ranting yang lain di berbagai daerah di Indonesia.  “Yang  kita tunggu nanti, bagaimana Ranting ini akan menjadi Ranting ideal  dimana akan memiliki  amal usaha yang unggul dan tentu amal usaha yang bisa dibanggakan warga Muhamadiyah khususnya dan rakyat Indonesia pada umumnya,”tegas pria kelahiran Kudus, 2 September 1968 itu.

Sekretaris Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah 2005-2010 dan salahsatu  Advisor di The British Council London sejak 2006 ini mengakui, ini memang peristiwa pertama dalam sejarah Muhammadiyah. “Benar, ini pertama kali terjadi. Dulu Pak AR juga pernah, tetapi bukan menjadi Ketua Pimpinan Ranting. Pak AR masih berkenan masuk anggota PP Muhammadiyah setelah sukses menjadi Ketum beberapa periode. Tetapi kalau mantan Ketua Umum kemudian menjadi Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah, ini baru pertama,” jelasnya.

Ditambahkan, adanya susunan pengurus yang diisi orang besar, tentu akan menjadi tantangan tersendiri. Mu’ti  punya harapan besar akan segera adanya amal usaha yang unggul menjadi role model bagi Ranting yang lain.

Dalam dokumen yang diterima redaksi, memang terdapat nama-nama yang turut menjadi penasehat  Pimpinan Ranting Muhammadiyah Pondok Labu. Sebut saja, ada nama Jimmly Ashshidiqie, Ryaas Rasyid, Adi Sasono, bahkan ada nama Menteri Anies Baswedan. Ada anggota DPR RI Rully Chairul Azwar, dan Pengacara Senior Henry Yosodiningrat. Pelantikannya sendiri, akan dilaksanakan di Komplek Masjid Al Bay’ah Jalan Tridarma Pondok Labu, Cilandak Jakarta Selatan, tidak jauh dari kediaman Din Syamsuddin. (mst)#

Muhammadiyah.or.id: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-4952-detail-pertama-kali-dalam-sejarah-muhammadiyah-din-syamsuddin-dilantik-jadi-ketua-ranting-muhammadiyah.html

7b4befb7-c14a-4127-9f68-9f69cc6e2d4e_169

Kecam Serangan Paris, Din Syamsudin Minta Semua Pihak Tak Saling Tuduh

7b4befb7-c14a-4127-9f68-9f69cc6e2d4e_169Jakarta – Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsuddin mengecam aksi brutal pelaku penembakan dan pengeboman tragedi Friday 13th di Paris, Prancis. Apapun motifnya, menurut Din, tindakan tersebut jelas tak bisa dibenarkan.

“Sangat menyedihkan bahwa tindak kekerasan ekstrim yang menghilangkan nyawa orang-orang tidak bersalah terjadi kembali,” kata Din dalam rilis yang diterima detikcom, Sabtu (14/11/2015).

“Kita semua mengecam sekeras-kerasnya aksi kekerasan tersebut. Apapun motifnya, dan siapapun pelakunya, tetap tindak kekerasan yang mengambil bentuk pembunuhan itu tdk dapat dibenarkan,” lanjutnya.

Din menyatakan, sebaiknya semua pihak tidak berspekulasi terkait siapa pelaku dan apa motifnya. Apalagi menuduh pihak tertentu tanpa bukti yang kuat.

“Sebaiknya semua pihak tidak berspekulasi tentang siapa pelaku dan apa motifnya, dan apalagi menuduh pihak tertentu, yang boleh jadi akan memunculkan aksi reaksi yang tidak perlu,” tutur Chairman The Centre for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CDCC) itu.

Lebih lanjut, Din berharap tragedi tersebut tak akan mengganggu rencana gelara konferensi perubahan iklim atau Conference of Parties (COP) yang akan digelar di Paris, Desember 2015 mendatang.

“Jelas aksi tersebut akan membawa implikasi psikologis terhada COP 21 yang akan digelar di Paris mulai dua minggu lagi. Mudah-mudahan Pemerintah Prancis dapat mengatasi keadaan dan menciptakan suasana kondusif sehingga perhelatan akbar dunia COP 21 dapat terlaksana,” pungkasnya.
(rna/imk)

DetikNews: http://news.detik.com/berita/3071249/kecam-serangan-paris-din-syamsudin-minta-semua-pihak-tak-saling-tuduh

dinsyamsuddin-china

Kebangkitan China Harus untuk Kesejahteraan Bersama

dinsyamsuddin-chinaJAKARTA — Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Din Syamsuddin, mengatakan kebangkitan Asia Timur yang dimotori Cina, harus dapat berkontribusi menciptakan perdamaian dan kesejahteraan kawasan dan dunia secara umum.

Hal itu disampaikan Din ketika menjadi salah satu pembicara dalam sesi Economic Growth: Climate Change, Green Economy and Sustainable Development, World Chinese Economic Summit (WCES) ketujuh, di London, Rabu (11/11), yang dihadiri 300 tokoh diaspora Tionghoa dari seluruh dunia.

Ia menambahkan, sebagai sebuah kekuatan raksasa, Cina diharapkan tidak menjadi adikuasa hegemonik yang melanjutkan kerusakan yang sudah ada.

Din yang pada WCES 2014 menerima Lifetime Achievement Award for Leadership in Culture and Religion Security, menegaskan kebangkitan Cina perlu diintegrasikan ke kawasan Asia Timur dan diselenggarakan dalam mekanisme institusi pertumbuhan, baik regional maupun global.

Din menerangkan kebangkitan Asia Timur perlu dicermati yang ditandai dengan pergeseran pusat gravitasi ekonomi dunia dari Atlantik ke Pasifik, dengan adanya dua negara besar, Cina dan India. Terlebih, lanjut Din, Asia Timur masih memiliki potensi ketegangan dan konflik, seperti masalah yang belum terselesaikan yaitu sengketa teritorial antar negara.

“Kedua negara harus dapat berdimensi ganda, agar dapat mendorong hegemoni atau distribusi kesejahteraan ke negara lain yang ada di kawasan Asia Timur,” kata Din.

Acara itu mengangkat tema “Cina and the World: Fogging Euro-Asian Partnership toward Shared Security”, yang turut dihadiri mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Presiden Indonesia keenam yang hadir sebagai salah satu pembicara utama pada perhelatan tahun ini, sempat menerima The Benevolent Award dari WCES di Chongging yang diselenggarakan tahun lalu.

Sebagai Ketua Center for Dialogie and Cooperation among Civilizations (CDCC), Din mengusulkan dikembangkannya dialog dan kerja sama multi tingkatan, baik antara Pemerintah dan Pemerintah (G to G), Rakyat dan Rakyat (P to P), Pengusaha dan Pengusaha (B to.B). Bahkan, pengembangan dialog dan kerja sama, juga diusulkan untuk dilakukan antara Pemerintah dan Rakyat atau Pengusaha (G to P/B).

“Dialog adalah jalan terbaik atasi masalah yang ada, dan kerjasama adalah jalan menuju kesejahteraan bersama,” ujar Din.

Sumber: http://internasional.republika.co.id/berita/internasional/global/15/11/12/nxpd9j254-din-kebangkitan-cina-harus-untuk-kesejahteraan-bersama

15456ff7-d72c-4767-8c34-f85da9f62bc2

Ceramah di Jepang, Din Syamsuddin Bicara Soal ISIS dan Radikalisasi Agama

c46c1122-8a1d-4981-969f-c94f8217a077Jakarta – Pada akhir kunjungan di Jepang, Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin berceramah di Markas Sasakawa Peace Foundation, Tokyo, (4/11). Ceramah dihadiri seratus tokoh dari berbagai kalangan, baik tokoh agama, akademisi, mahasiswa, profesional, pengusaha, dan umum.

Ikut hadir mendengarkan ceramah Din Syamsuddin adalah Prof Nakamura dan isteri, Prof Hisae Nakanishi dari Doshisa University, Prof Khalid Higuchi, mantan Presiden Japanese Muslim Association, sejumlah peminat dan pengamat tentang Indonesia, dan para pejabat Sasakawa Peace Foundation seperti Dr Chano dan Dr Akiko Horiba.

Dalam ceramah bertajuk “Masalah, Tantangan dan Masa Depan Islam di Indonesia” itu, Din menjelaskan bahwa Islam di Indonesia memiliki watak berbeda dengan Islam di negeri-negeri lain, termasuk Timur Tengah, disebabkan oleh modus masuknya Islam secara damai dan latar sosial-budaya masyarakat Indonesia yang cinta damai.

Sebagai akibatnya, Islam di Indonesia berwatak damai, moderat, inklusif, toleran, dan anti-kekerasan. Watak ini dianut oleh mayoritas mutlak umat Islam Indonesia dan telah berlangsung berabad lamanya. Maka hampir dapat dikatakan, sejak dulu tidak ada ketegangan dan pertentangan serius antara Muslim dan non-Muslim, dan juga antara sesama Muslim. Indonesia sejak lama dikenal sebagai model kerukunan hidup, baik antarumat beragama maupun intraumat satu agama.

Namun akhir-akhir ini, suasana demikian sedikit berubah dengan adanya ketegangan bahkan konflik antarkelompok umat beragama, khususnya antara kelompok Muslim dan Kristiani, seperti terjadi terakhir di Tolikara, Singkil, dan Manokwari. Hal ini, menurut Din, disebabkan oleh bergesernya tata nilai yang dianut oleh sebagian masyarakat Indonesia sejalan dengan modernisasi, globalisasi, dan liberalisasi yang melanda Indonesia sejak satu dua dasawarsa terakhir. Dalam kaitan ini, menurut Din, radikalisme keagamaan yang muncul di Indonesia didorong oleh faktor keagamaan dan faktor-faktor non agama.

Faktor yang pertama mengambil bentuk pemahaman yang salah akibat penafsiran sempit teks-teks Kitab Suci dengan mengabaikan misi utama Islam untuk kerahmatan dan kesemestaan. Faktor yang kedua berupa ketidakadilan sosial, ekonomi dan politik yang sering menjadi faktor picu kekerasan dan sikap radikal dan agama menjadi faktor pembenar sikap tersebut.

Ceramah Din mendapat sambutan antusias audiens dengan banyaknya pertanyaan. Terhadap pertanyaan tentang ISIS, Din menegaskan bahwa ideologi dan perilaku ISIS tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam yang menekankan kasih sayang dan perdamaian. ISIS bukan gerakan Islam tapi gerakan politik yang menyalahgunakan Islam untuk tujuan politik.

15456ff7-d72c-4767-8c34-f85da9f62bc2Din Syamsuddin yang adalah Ketua Dewan Pertimbangan MUI ini berkunjung ke Jepang selama delapan hari atas undangan Sasakawa Peace Foundation, sebuah yayasan Jepang yang terkenal di mancanegara dan aktif mendorong perdamaian di dunia. SPF mulai tahun lalu mengundang tokoh-tokoh dari luar Jepang dalam program kunjungan Asia’s Opinion Leaders. Tahun lalu diundang mantan Sekjen ASEAN Dr Surin Pitsuwan dari Thailand, dan tahun ini tokoh Muslim Indonesia Din Syamsuddin.

Dalam kunjungannya ke Jepang kali ini, Din Syamsuddin yang juga Presiden Asian Conference of Religions for Peace (ACRP) yang berpusat di Tokyo, mengunjungi Hiroshima, Miyajima, Kurainiki, Kyoto, Kobe, dan Tokyo. Di Hiroshima Din berkesempatan meletakkan karangan bunga di Peace Memorial Park, sedangkan di Kyoto mengunjungi beberapa pusat Agama Shinto dan Agama Budha. Di Kobe dan Tokyo, Din juga berkunjung ke Jami Mosque (masjid), serta berdialog dengan para tokoh agama dan politik Jepang.

Dari kunjungannya tersebut, Din yang juga pendiri dan ketua lembaga perdamaian Centre for Dialogue and Cooperation among Civlilisations (CDCC) ini mengagumi masyarakat Jepang yang dinilainya mengamalkan nilai-nilai Islam seperti kebersihan, kejujuran, kedisiplinan, penghargaan akan waktu, dan kerja keras. Menurut Din, nilai-nilai tersebut justru sering tidak nyata dalam perilaku sebagian umat Islam di negara-negara Muslim.

“Ceramah dan dialog Din Syamsuddin di Jepang ini sedikit banyak dapat mengisi kekosongan pemahaman masyarakat Jepang selama ini tentang Islam di Indonesia,” ujar Direktur Eksekutif CDCC Alpha Amirrachman.
(tor/dra)

DetikNews: http://news.detik.com/berita/3062728/ceramah-di-jepang-din-syamsuddin-bicara-soal-isis-dan-radikalisasi-agama