din-syamsuddin-bersama-mantan-pm-jepang-yoshihiko-noda-_151029222944-559

Dorong Kebangkitan Asia Timur Menjadi Kawasan Pertumbuhan

din-syamsuddin-bersama-mantan-pm-jepang-yoshihiko-noda-_151029222944-559

Din Syamsuddin bersama Mantan PM Jepang Yoshihiko Noda

JAKARTA — Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Din Syamsuddin melakukan pertemuan dengan mantan Perdana Menteri, Yoshihiko Noda dan utusan khusus Perdana Menteri Jepang untuk Asia Tenggara, Yutaka Limura, dalam lawatannya ke Jepang. Dalam siaran persnya, Din menyatakan pertemuan tersebut membahas upaya peningkatan hubungan bilateral Jepang-Indonesia. Baik pada tingkat pemerintah dengan pemerintah, rakyat dengan rakyat, dan rakyat dengan pemerintah, terutama antara masyarakat madani Indonesia dengan Jepang.

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu berada di Jepang untuk kunjungan delapan hari atas undangan Sasakawa Peace Foundation, sebuah lembaga perdamaian yang berada di bawah naungan Nippon Foundation. Din juga membahas hubungan yang sudah berlangsung cukup baik selama ini dengan dengan mantan PM Noda yang sudah bersahabat dengannya sejak lama.

Noda pernah berkunjung ke Kantor PP Muhammadiyah tiga kali sejak 2008 sebelum Noda menjadi menteri kemudian PM Jepang. “Walaupun partainya tidak sedang berkuasa, Noda berjanji mendorong upaya peningkatan investasi Jepang ke Indonesia,” kata Din.

Dengan Yutaka Limura, Din membahas peningkatan hubungan kerja sama Jepang-Indonesia, terutama dalam bidang pendidikan dan perdagangan. Din sempat menangkap nuansa kekecewaan Jepang atas pembatalan rencana proyek kereta api cepat, namun disepakati hubungan bilateral kedua negara harus tetap terus ditingkatkan apalagi Jepang adalah negara investor terbesar di Indonesia.

“Kami sependapat bahwa hubungan Jepang-Indonesia adalah penting dan strategis dalam mendorong kebangkitan Asia Timur menjadi kawasan pertumbuhan masa depan, dengan kesejahteraan dan keadilan bagi bangsa-bangsa yang berada di wilayahnya,” jelas Din.

Selama kunjungan yang didukung Sasakawa Peace Foundation melalui program Opinion Leaders of Asia ini, Din juga bertemu dengan sejumlah akademisi, tokoh agama dan pengusaha Jepang. Dia pun dan berdialog dengan seratusan tokoh Jepang dari berbagai kalangan.

Tahun lalu, Sasakawa Peace Foundation mengundang mantan Sekretaris Jenderal ASEAN, Surin Putsuwan. Tahun ini giliran tokoh Muslim Indonesia Din Syamsuddin.  Dalam kunjungannya kali ini, Din mengunjungi Tokyo, Hiroshima, Kyoto dan Kobe dan berkesempatan meletakkan karangan bunga sebagai penghormatan bagi mereka yang menjadi korban perang dunia di Peace Memorial Park di Hiroshima.

Republika.co.id

24c0de71-176b-47db-9b1a-80ac98683065_169

Din Syamsuddin Bertemu dengan Tokoh Jepang Bahas Kebangkitan Asia Timur

24c0de71-176b-47db-9b1a-80ac98683065_169

Dokumentasi Din Syamsuddin

Jakarta – Mantan Ketum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin bertemu dengan dua tokoh Jepang. Mereka adalah mantan PM Jepang Yoshihiko Noda dan Utusan Khusus PM Jepang untuk Asia Tenggara Mr Yutaka Iimura.

Menurut keterangan tertulis yang diterima detikcom, Jumat (30/10/2015) Din, Noda dan Iimura membahas kebangkitan Asia Timur dan peningkatan hubungan antara Jepang dengan Indonesia. Peningkatan kerja sama yang dimaksud adalah antar pemerintah (G to G), masyarakat dengan masyarakat (P to P), serta rakyat dengan pemerintah (P to G).

Dalam pertemuan secara terpisah, Din dengan Noda membahas peningkatan investasi Jepang ke Indonesia. Kebetulan Din dan Noda memang telah lama saling kenal dan bersahabat.

Kemudian dalam pertemuan dengan Iimura, Din lebih membahas mengenai peningkatan kerja sama di bidang pendidikan dan perdagangan. Iimura tampak kecewa atas batalnya proyek kerja sama kereta cepat Jakarta-Bandung antara RI dan Jepang, menurut Din. tetapi itu tak membuat hubungan bilateral lantas berhenti begitu saja.

Din dan Iimura sepakat bahwa kerja sama antara RI dan Jepang adalah vital dan strategis. Kedua negara ini dapat mengarahkan kebangkitan Asia Timur menjadi kawasan pertumbuhan masa depan dengan kesejahteraan dan keadilan bagi bangsa-bangsa penghuninya.

Din Syamsuddin berada di Jepang untuk kunjungan delapan hari atas undangan Sasakawa Peace Foundation, sebuah lembaga di bawah naungan Nippon Foundation yang berpengaruh di Jepang. Sasakawa Peace Foundation sejak tahun lalu mengundang seorang tokoh Asia sebagai tamu kehormatan dalam Program Opinion Leaders of Asia.

Pada tahun lalu diundang Mantan Sekjen ASEAN Dr Surin Pitsuwan. Kemudian pada tahun ini Prof Din Syamsuddin diundang sebagai tokoh Muslim dari Indonesia.

Selama berada di Jepang, Din diagendakan berkunjung ke Tokyo, Hiroshima, Kyoto, dan Kobe. Selain bertemu dengan para pejabat tinggi Jepang, Din juga bertemu dengan sejumlah akademisi, agamawan, dan pengusaha Jepang, dan para hari terakhir berdialog dengan seratusan tokoh Jepang dari berbagai kalangan.

Sambut Baik Wagyu Halal

Dalam perbincangan dengan mantan PM Jepang Yoshihiko Noda, Din Syamsuddin sempat bernostalgia. Mereka mengenang saat-saat bersantap seafood bersama di sebuah rumah makan di Pecenongan, Jakarta Pusat.

Noda memang sudah tiga kali mengunjungi Indonesia dan setiap kunjungan bertemu dengan Din. Salah satu yang dibicarakan waktu itu adalah mengenai rencana ekspor daging sapi dari Jepang ke Indonesia.

Waktu itu tahun 2008 dan Partai Demokrat Jepang yang menjadi kendaraan politik Noda belum menjadi partai penguasa. Tetapi Noda berjanji, saat itu, mendorong upaya peningkatan investasi Jepang ke Indonesia.

Pada pertemuan itu, Din yang sekarang menjabat Ketua Dewan Pertimbangan MUI, menyambut baik rencana ekspor daging sapi (wagyu) Jepang yang terkenal lezat dan bergizi ke Indonesia dan bekerjasama dengan MUI untuk sertifikasi halal.

(bag/rna)

din_syamsuddin

Tepati Janji Memimpin Ranting Muhammadiyah

din_syamsuddin

Doc. CDCC

Jakarta ­ Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, Din Syamsuddin, menyatakan jabatannya yang baru sebagai pemimpin ranting Muhammadiyah di Kelurahan Pondok Labu, Jakarta Selatan, merupakan hal yang biasa.

“Hal seperti ini adalah biasa dan sering terjadi. Seseorang yang pernah mendapat amanat pada jajaran tertinggi organisasi, tapi pada periode setelahnya di jajaran lebih rendah,” kata Din kepada Tempo, Senin, 26 Oktober 2015. Din mengatakan tidak bermasalah dengan jabatannya

sebagai pemimpin yang hanya di tingkat kelurahan. “Ibaratnya, dari Presiden Muhammadiyah dua periode, kemudian jadi Lurah Muhammadiyah,” katanya. “Bagi kami tidak masalah, yang penting di mana saja dapat berbuat untuk organisasi.”

Setelah menjabat sebagai ketua umum selama dua periode, dari 2005 hingga 2015, Din mengatakan masih punya kesempatan untuk menjabat sebagai pemimpin pusat, misalnya sebagai wakil ketua. Namun hal itu tidak dipilih dengan alasan bakal menutup peluang bagi tokoh Muhammadiyah lainnya.

“Saya tidak mengembalikan formulir pencalonan dengan alasan memberi kesempatan kepada tokoh

Muhammadiyah lain untuk ikut mengabdi lewat struktur organisasi,” katanya.

Din mengatakan peresmian ranting Muhammadiyah Pondok Labu akan diadakan pada November. “Peresmian ranting baru dan pengurus baru 18 November. Bertepatan dengan hari jadi Muhammadiyah ke­103,” katanya.

thumb_741342_09583130102015_din

Hadiri World Alliance Of Religions Peace Dialogue

thumb_741342_09583130102015_dinJAKARTA – Ketua Badan Pertimbangan Majlis Ulama Indonesia (MUI) Prof. DR. KH. Din Syamsudin hadiri dialog antar umat beragama yang diselenggarakan Heavenly Culture, World Peace, Restoration of Light (HWPL) Kamis, (3/9).
Dalam pidatonya, Din Syamsudin mengetengahkan sikap islam dalam dalam konteks membangun perdamaian yang menjadi tema dalam dialog antar agama itu dengan slogan “lakum dinukum wa liya din”.
Konsep Islam dengan slogan tersebut memberi peluang bagi kebebasan agama lain melakukan ibadah sesuai dengan aturan agama masing.
Din juga menekankan dalam dialog tersebut bahwa untuk mencapai perdamaian perlu dicari persamaan dalam perbedaan dengan acuan nilai persaudaraa.
“Kita berbeda namun harus berupaya mencari titik persamaan. Kita semua bersaudara.” Tegas Din Syamsudin dalam diskusi dan dialog yang diprakarsai oleh sebuah lembaga NGO yang bermarkas di Korea Selatan itu.
World Alliance Of Religions Peace Dialogue menjadi ajang dialogue para pemuka agama, seperti Islam, Katholik, Protestan, Hindu, Budha dan paparan tentang upaya damai menurut kitab suci mereka.
Dalam dialog tersebut, radarindonesianews.com sebagai publicity ambassador HWPL menekankan keterlibatan dan dukungan bagi gerakan damai yang dicanangkan HWPL seperti yang diharapkan oleh Josef Jeong.
“Kita berkumpul di sini bukan untuk bicara soal agama tetapi kita berbuat untuk mencari solusi damai dalam bentuk dialog.” Ujar Josef.[f]
RadarIndonesia: http://www.radarindonesianews.com/2015/09/din-syamsudin-hadiri-world-alliance-of.html
Perdana Menteri Inggris David Cameron. ©Reuters

PM Inggris curhat 5 ribu warganya gabung ISIS

Perdana Menteri Inggris David Cameron. ©Reuters

Perdana Menteri Inggris David Cameron. ©Reuters

Merdeka.com – Perdana Menteri Inggris David Cameron curhat pada ketua PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin mengenai warganya yang gabung dengan kelompok radikal Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Menurut Din, PM Inggris itu menganggap Indonesia berhasil menekan penduduknya untuk tidak bergabung dengan ISIS.

“Indonesia dinilai relatif berhasil untuk mengerem menghadapi tantang tersebut. Paling tidak terindikasi dari pendukung ISIS yang di Suriah sana. Beberapa ratus dari Indonesia, dibanding UK yang sampai 5.000 sedangkan kita hanya 500 orang,” ujar Din saat ditemui di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta Pusat, Selasa (28/7).

Menurut Din, PM Cameron ingin belajar untuk menghadapi dan menangani tantangan serta ancaman radikalisme yang menggunakan kekerasan. Secara spontan, ujar Din, berbagi cerita mengenai faktor-faktor yang terjadi di Indonesia.

“Di Indonesia, ormas-ormas Islam memiliki kepercayaan diri dan mampu menampilkan naratif yang berseberangan seperti ISIS. MUI langsung mengumpulkan ormas-ormas tersebut dan kita sepakat ISIS kelompok politik radikal yang menggunakan bahkan menyalahgunakan agama untuk kepentingan tertentu,” lanjut dia.

Din sendiri merasa bersyukur dan bangga Inggris mau meminta pendapat dari Indonesia, dan mau belajar dari Indonesia cara menghadapi kasus radikalisme ini.

“Saya pribadi merasa bersyukur, berbangga, dan sedikit tersanjung jika Indonesia dianggap oleh pihak luar, dalam hal ini Inggris, berhasil menghadapi tantangan radikalisme tersebut,” sambung Din.

Din berpesan kepada umat muslim di Inggris dan Indonesia, jika watak Islam yang rukun dan damai harus dikembangkan. Dia mengatakan, watak Islam sebagai agama rahmatan lil al amin yang sama dengan prinsip jalan tengah harus terus menerus disampaikan kepada umat Islam dunia.

Selain Din Syamsuddin, tokoh Islam lain yang bertemu dengan PM Inggris itu adalah Profesor Alwi Shihab, Yenny Wahid, serta ketua Masjid Sunda Kelapa Hasan Mahmud.

http://www.merdeka.com/dunia/kepada-din-syamsudin-pm-inggris-curhat-5-ribu-warganya-gabung-isis.html

Din Syamsuddin.img_assist_custom-513x289

Represents Islam in Vatican conference on climate change

Din Syamsuddin.img_assist_custom-513x289

Natural religion: Muhammadiyah chairman Din Syamsuddin (second right) delivers a speech explaining an Islamic view of nature and the environment and human’s responsibility thereto during a conference on climate change and sustainable development at the Vatican on Tuesday. The conference gathered clerics from various religious backgrounds as well as scientists and researchers, politicians and businessmen. (Courtesy of Din Syamsuddin)

Muhammadiyah chairman Din Syamsuddin has represented Islam at a conference entitled Protect the Earth Dignify Humanity: the Moral Dimensions of Climate Change and Sustainable Development.

The conference was held in Vatican City on Tuesday and was organized by the Pontifical Academy of Sciences, Religions for Peace and the United Nations Sustainable Development Network, Din said in a statement on Wednesday.

There were some 100 participants, including diplomats, policy makers, scientists and researchers, businessmen and clerics. The event aimed to find a consensus on the significance of climate change to sustainable development.

UN Secretary-General Ban Ki-moon opened the conference, while the president of the Pontifical Council for Justice and Peace, Cardinal Peter Turkson, delivered the keynote speech. The event discussed science and technological perspectives, local and global practical aspects for solutions and the moral dimensions of climate change and sustainable development.

Din was a speaker in the session themed Justice and Responsibility, Moral Dimensions of Sustainable Development and Climate Change. The other speakers were Rabbi David Roshen from Israel, Olve Tveit of the World Church Council, Metropolitan Immanuel France from the Orthodox church, Rev. Kosho Niwano from Japan and Swami Brahmanda from India.

Din said that Islam was a religion of nature with some 750 of around 6,000 verses in the Koran mentioning nature and environment and all its inter-connections.

As well as presenting verses on the creation of the universe, biodiversity, and the balance in creation and the environment, Din highlighted a number of Islamic moral values and ethics key to sustainable development and environmental protection.

The principals included that nature and the environment were God’s creations and thus had a sacred dimension; that the earth was God’s blessing for humans, and that humans did not own it but were merely inhabiting it and borrowing it from the next generations. As such, Din argued, humans had to treat nature justly and responsibly for the benefit of future generations.

Din asked all parties to build a coalition to glorify the environment, involving clerics, politicians and businessmen, as well as other stakeholders. (nvn)

http://www.thejakartapost.com/news/2015/04/29/din-represents-islam-vatican-conference-climate-change.html-0#sthash.IiGqlt28.dpuf

1821148

PP Muhammadiyah Desak KPK Selesaikan Century Sebelum Pemilu

1821148

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin

KOMPAS.com — Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyelesaikan kasus dugaan korupsi dalam bail out Bank Century sebelum Pemilu 2014. Jika tidak, maka pemerintahan sekarang akan meninggalkan warisan yang buruk pada pemerintahan berikutnya.

“Kami mendorong, mendesak, mendukung agar diselesaikan secara tuntas pada periode pemerintahan sekarang, tentu sebelum pemilu. Kalau tidak, ini berpotensi jadi dosa warisan,” kata Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, Jumat (31/1/2014).

Hal itu disampaikan Din ketika berbincang-bincang dengan tim pengawas DPR untuk kasus Bank Century. Pertemuan itu antara lain dihadiri oleh anggota timwas dari Fraksi Partai Golkar Bambang Soesatyo, Fraksi PKS Fahri Hamzah, dan dari Fraksi PAN Tjandra Tirta Wijaya.

Menurut Din, kasus Century harus menjadi prioritas KPK. PP Muhammadiyah, kata dia, selalu konsisten memberikan dukungan moral untuk pengusutan kasus ini. Ia juga berharap masyarakat tidak melupakan kasus yang menjerat Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia Budi Mulya itu.

“Kasus mahaskandal harus dipentingkan. Jangan sampai ada pihak yang berusaha menguburnya, membuat bangsa ini lupa,” kata Din.

Din menambahkan, pihaknya juga mendukung KPK melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah pihak tanpa pandang bulu. Ia berharap KPK dapat terbuka kepada publik terkait perkembangan kasus korupsi dalam pemberian fasilitas pendanaan jangka pendek (FPJP) dan penetapan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik itu.

“Saya termasuk yang bergembira KPK periksa Boediono (Wakil Presiden RI), walaupun di rumahnya, tidak di KPK. Kami mendukung, mendorong, mendesak KPK melanjutkan langkah hukum itu. Kalau diam-diam menjadi pertanyaan besar bagi rakyat termasuk DPR,” ujarnya.

Fahri Hamzah mengatakan, kedatangan Timwas Century ke PP Muhammadiyah untuk meminta dukungan agar kasus Century segera tuntas. Timwas Century juga mendesak KPK agar kasus ini tuntas pada 2014.

“Intinya semua tokoh kita mintai dukungan, mengingatkan bangsa ini bahwa ada kasus besar. SKRT Kemenhut hanya ratusan miliar, ini Rp 6,7 triliun,” kata Fahri.

Sebelumnya, KPK menyebut berkas kasus Century akan segera dilimpahkan ke tahap penuntutan pada Februari 2014.

Kompas.com

prof-dr-m-din-samsudin-ma-hidup

Hadiri Interfaith Conference di Peja

prof-dr-m-din-samsudin-ma-hidupKetua Umum Muhammadiyah Din Syamsuddin hadiri Interfaith Conference di Peja, Kosovo 25­26 Mei. Konperensi diselenggarakan Soul of Europe Dan Kemlu Kosovo, dihadiri 300an tokoh dan cendekiawan berbagai agama dari berbagai negara di dunia. Konperensi dibuka oleh Presiden Kosovo   Ms. Atifete Yahyaga, mengangkat tema besar Peace and Reconciliation.

Din Syamsuddin menjadi pembicara pada sesi ketiga ttg Shared Space, From A Common Word to   Common Action. Dlm ceramahnya, DS menekankan pentingnya berbagi ruang dlm later kemajemukan pada era globalisasi dewasa ini. Keengganan berbagi

hanya menunjukkan sikap egoisme, ekslusfisme, dan kecenderungan akan monopoli dan dominasi.

Di sela­sela konperensi DS sempat berjumpa Presiden Kosovo Ms. Atifete Jahjaga, dan Menlu Kosovo Enver Hoxhaj. Keduanya melalui DS mengharapkan agar Pemerintah RI dapat memberi pengakuan thd kemerdekaan Kosovo, baik atas alasan perwujudan perdamaian dunia maupun alasan subyektif sbg negara dgn mayoritas penduduk beragama Islam. Kosovo yg mempunyai penduduk 2,5 juta 96 % di antaranya Muslim. Pada saat pertemuan, DS nyatakan lagi pengakuan dan dukungan Muhammadiyah dan sejumlah ormas Islam thd kemerdekaan Kosovo.

Mururut DS, pengakuan RI thd kemerdekaan Kosovo sejalan dgn amanat Pembukaan UUD bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan penjajahan harus dienyahkan dari muka bumi.

2005398-din-hadiri-kongres-tokoh-yahudi-sedunia-620X310

Hadiri Kongres Tokoh Yahudi Sedunia

Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin (paling kanan) saat berbicara di World Jewish Congress di Budapest, Hongaria.JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Din Syamsuddin baru saja tiba di Jakarta, Jumat (10/5/2013) petang, setelah memenuhi undangan untuk menyampaikan pidato di World Jewish Congress di Budapest, Hongaria, pada 5-7 Meil lalu. Ini merupakan pertemuan tokoh Yahudi sedunia.

Menurut Din, dia tampil pada sesi tentang Freedom of Religious Practices bersama President of Bishop Conference of Europe, Chief Rabbi of Ukraine, dan Prof Choel Meyer dari New York.

“Dalam pidato itu saya sampaikan tentang kebebasan beragama merupakan hak asasi manusia yang melekat dalam diri manusia. Bahkan, Tuhan Maha Pencipta memberi kebebasan kepada manusia, apakah mau beriman atau tidak,” ujarnya.

Din juga menjelaskan perspektif Islam tentang kebebasan beragama dan perlunya hidup berdampingan secara damai dalam prinsip bagimu agamamu, bagiku agamaku.

Menurut Din, dia merupakan satu-satunya pembicara Muslim pada kongres para tokoh Yahudi sedunia itu. Din yang juga menjabat sebagai President of ACRP dan Co-President of WCRP merasa gembira bisa menjelaskan pandangan Islam kepada umat Yahudi.

“Yahudi, Kristen, dan Islam, sebagai tiga agama samawi atau Abrahamic religions perlu semakin mendekat dan hidup berdampingan secara damai, serta mengembangkan kerja sama peradaban untuk kemanusiaan,” ujarnya.

Kompas.com: http://nasional.kompas.com/read/2013/05/10/20123926/Din.Hadiri.Kongres.Tokoh.Yahudi.Sedunia

145905

Pengesahan RUU Ormas Antidemokrasi

145905Jakarta – Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menilai persoalan dengan RUU Ormas adalah karena posisioning-nya yang salah kaprah. Menurutnya, UU ini dibahas dan masuk ke dalam kategori administrasi, dengan menerapkan rezim perizinan hingga pembubaran.

“Ini yang kami rasa berbeda dengan esensi Pasal 28 UUD 45 tentang kebebasan berserikat dan menyatakan pendapat. Negara tidak boleh mengintervensi kewenangan itu. Itu hak dasarnya,” pungkas Din di Jakarta, Kamis (11/4).

Din mengaku sudah bertemu dengan Pansus RUU Ormas, Kemendagri, Kemlu, Kemenkum HAM, dan sejumlah pakar. Tetapi proses sosialisasi itu belum melegakannya. Bukan sekadar menunda pembahasan tetapi pihaknya berposisi untuk menolak pembahasan.

“Isu sentralnya bukan soal asas tunggal dan sebagainya, itu keniscayaan saja. Pansus tidak memfokuskan perhatian yang esensial,” tandasnya.

Din menilai apa yang dilakukan Pansus Ormas hanya memutar jarum jam sejarah, karena dengan mengesahkan UU ini tandanya adalah sebuah antidemokrasi.

“Kalau memang negara mau berperan dan menindak Ormas yang nakal, silahkan lewat aparat penegak hukum jangan dari hal administrasinya. Kalau mau dipaksakan tidak akan efektif, karena aparat saja tidak berjalan dengan baik,” tutup Din. (Astri Novaria)

sumber: http://news.metrotvnews.com/read/2013/04/11/145905/din-syamsuddin-pengesahan-ruu-ormas-antidemokrasi