@WAHYU WIRAWAN

Besok Akan Pimpin Demo Tolak RUU Ormas

Dokumentasi CDCC

JAKARTA ­ Ribuan orang dari berbagai organisasi masyarakat (ormas) Islam akan berunjuk rasa menolak

Rancangan Undang­undang Ormas di depan Gedung MPR/DPR. Jumat (12/4/2013) siang pukul 13.30 WIB.

“Besok kami ramai­ramai akan unjuk rasa di depan gedung DPR. Diharapkan semua bisa hadir setelah salat Jumat,” ujar Ketua Umum PP Muhamadiyah, Din Syamsuddin di sela­sela sambutanya dalam diskusi bertema “Memberantas Terorisme Tanpa Teror dan Melanggar HAM” di Gedung PP Muhamadiyah, Jakarta, Kamis (11/4/2013). Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal (Pol) Boy Rafli Amar, mempersilakan kepada ormas untuk melakukan unjuk rasa. Namun, dia mengimbau agar aksi tersebut dilakukan secara damai dan tidak menggangu ketertiban umum.

“Unjuk rasalah sebagaimana yang diatur dalam undang­undang, tidak boleh melanggar hukum, melanggar ketertiban, tidak boleh melanggar hak­hak orang lain,” kata Boy.

Sebelumnya, Din Syamsuddin secara tegas menolak RUU Ormas karena bertentangan dengan Undang­Undang Dasar 1945. “Kami meminta DPR dan pemerintah menghentikan semua proses pembahasan karena RUU Ormas tidak ada urgensi atau mendesak,” kata Din.

Din menegaskan, jika RUU Ormas disahkan DPR dan pemerintah, maka hari berikutnya Muhammadiyah akan mengajukan uji materi ke Mahkamah Konstitusi (MK). Dia mengaku heran DPR mengajukan RUU yang tidak bersentuhan langsung dengan masyarakat. Padahal RUU yang berhubungan langsung dengan kepentingan masyarakat justru tidak dibahas dan bukan menjadi prioritas utama.

Menurutnya, RUU Ormas mengandung substansi dan implikasi yang akan memutar arah jarum jam sejarah kehidupan demokrasi Indonesia ke arah rezim represif dan otoriter. Pasalnya, RUU itu berbicara tentang administrasi ormas seperti pendirian, pembubaran, dan sebagainya.

Bila RUU Ormas tetap disahkan, kata Din, maka yang dirugikan adalah ormas yang berdiri sebelum Indonesia merdeka, seperti Muhammadiyah, NU, dan organisasi gereja seperti Persekutuan Gereja Indonesia (PGI), Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).

Din_Silaturrahmi

Muhammadiyah tidak bisa dibeli

SUKOHARJO ­ Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin meminta kepada warga Muhammadiyah untuk tidak berpolitik praktis. Menurut Din, tawaran agar warga Muhammadiyah memberi dukungan pada partai politik tertentu sangat mungkin terjadi.

Apalagi sepanjang 2013 hingga 2015 pesta demokrasi banyak di gelar, mulai dari Pilkada, Pemilu Legislatif, hingga Pemilihan Presiden.

“Organisasi Muhammadiyah tidak akan berafiliasi dengan partai politik manapun, dan tidak akan terjun ke politik praktis. Muhammadiyah bukan organisasi yang mudah dibeli dengan uang atau harta benda. Meski tak berpolitik, tapi kami mempersilakan warga Muhammadiyah berpolitik secara pribadi,” kata Din usai tabligh akbar di alun­alun Satya Nagara Sukoharjo, Jawa Tengah, Minggu (31/3/2013).

Meskipun Din yakin warga Muhammadiyah bisa memilah mana yang baik dan mana yang benar, namun Din tetap meminta kepada warga Muhammadiyah untuk tidak menerima bantuan materi dari pihak manapun bila bantuan tersebut dikaitkan dengan pemberian dukungan dalam berpolitik.

Pasalnya, tegas Din, Muhammadiyah bukan partai politik. Tetapi Muhammadiyah merupakan wadah untuk masyarakat Indonesia untuk bersama­sama membangun negara sesuai dengan tuntutan Islamiyah yang benar.

“Muhammadiyah bukan organisasi yang bisa seenaknya dibeli dengan sejumlah uang untuk memberikan dukungan hanya demi sebuah imbalan jabatan. Tapi Muhammadiyah adalah organisasi untuk membangun bangsa sesuai dengan kaidah Islamiyah yang benar,” ujarnya.

sumber: http://news.okezone.com/read/2013/03/31/339/784003/din-syamsuddin-muhammadiyah-tidak-bisa-dibeli

prof-dr-m-din-samsudin-ma-hidup

Jangan Lupa Berzakat, Jangan Lupa Pulang

prof-dr-m-din-samsudin-ma-hidupDoha – Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin mengingatkan warga negara Indonesia di Qatar agar tidak lupa menyisihkan sebagian penghasilan untuk berzakat. “Jangan lupa berzakat, jangan lupa pulang ke Indonesia,” katanya saat bertemu dengan warga negara Indonesia di Wisma KBRI Doha, Qatar, Rabu (30/5/2012) malam.

Menurut Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI di Doha, Deddy Saiful Hadi, setidaknya terdapat 36.000 WNI yang terdaftar tinggal di Qatar. Mereka terdiri dari tenaga kerja domestik hingga tenaga kerja profesional yang bekerja di perusahaan-perusahaan minyak bumi dan gas di Qatar.

Seperti dilaporkan wartawan Kompas Anita Yosihara dari Doha, Kamis (31/5/2012), Ketua Persatuan Warga Indonesia di Qatar Farid Riyadi mengatakan, masyarakat Indonesia di Qatar berhasil mengumpulkan donasi hingga Rp 2 miliar. Dana itu berasal dari WNI di Qatar yang dikumpulkan selama dua tahun.

Dana tersebut sudah didistribusikan untuk membantu pembangunan fasilitas pendidikan dan beasiswa untuk warga di Tanah Air. Namun, menurut Din, jumlah tersebut seharusnya masih bisa ditingkatkan.

“Saya yakin, kalau dihitung 2,5 persen, bisa lebih dari itu,” katanya.

Kompas.com

1857202620X310

Tokoh Islam­Kristen Dunia ke Nigeria

1857202620X310JAKARTA ­ Sejumlah tokoh Islam dan Kristen berada di Nigeria sejak Rabu (23/5/2012). Mereka bagian dari joint delegation yang diprakarsai Alul Bait Foundation dari Jordan dan World Council of Churches, Jenewa.

Ketua Umum Muhammdyah Prof Din Syamsudin ikut mewakili Muslim Asia. “Delegasi mengunjungi dua provinsi, Kaduna dan Plateu, yang dilanda konflik beberapa waktu lalu, guna mencari fakta dari para tokoh agama lokal dan para korban,” ujar Din dalam pesan singkatnya kepad Kompas di Jakarta, Minggu (27/5/2012).

Menurut Din, konflik­konflik yang terjadi dipicu faktor non­agama, seperti sosial, ekonomi, dan politik. Tapi agama kemudian dijadikan sebagai alat justifikasi dan basis solidaritas kelompok.

Terdapat juga faktor kesukuan yang kental, yang sering berhimpit dengan afiliasi keagamaan. Ini yang membuat konflik mendalam dan sukar untuk diatasi.

Dalam pertemuan sering diungkapkan perlunya toleransi, kesediaan untuk hidup berdampingan secara damai. “Kegiatan ini bisa jadi model resolusi konflik yang berdimensi keagamaan, dan jika berhasil dapat diterapkan di tempat lain,” ujarnya.

Diantara tokoh yang ikut dari kalangan muslim ada Prince Ghazi bin Talal (Jordan) Mustofa Ceric, Mufti Bosnia, Syeikh Hussein Abubakar (Chad).

Dari kelompok kristen ada Dr Olav Fykse Tvelt (Sekjen Dewan Gereja Sedunia), Dr Michel Jackson (AS), Rev

John Onaiyekan (Nigeria).

Kompas.com

gl-1

Aktif bersafari ke negara-negara sahabat untuk misi perdamaian

gl-1JAKARTA — Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin aktif bersafari ke negara-negara sahabat untuk misi perdamaian. Kosovo dan Nigeria menjadi titik awal kepedulian ormas bentukan KH Ahmad Dahlan menciptakan perdamaian antarumat beragama.

Pada kunjungan pertamanya, Din menyambangi Presiden Kosovo, Atifa Yahya, di Kantor Kepresidenan di Prishtina, Selasa (15/5) sampai Kamis (17/5). Dalam kesempatan itu, Din menjadi salah satu pembicara dalam konferensi tentang dialog antar peradaban. Dalam kesempatan bertemu dengan Presiden Atifa, Din menyatakan dukungan Muhammadiyah bagi kemerdekaan Kosovo atas dua alasan.

“Sesuai amanat Pembukaan UUD 45 bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan penjajahan harus dienyahkan dari muka bumi, juga alasan subyektif bahwa 96 persen rakyat Kosovo adalah muslim,” jelas Din dalam pernyataannya, Jumat (18/5).

Dukungan itu juga sesuai dengan kondisi Kosovo yang telah merdeka dari Serbia empat tahun lalu. Maka, Din berharap pemerintah RI segera memberi pengakuan terhadap kemerdekaan Kosovo karena tak ada alasan lagi untuk menolaknya. Din juga menyatakan pihaknya ingin menjalin kerjasama dengan rakyat Kosovo. “Muhammadiyah memberi beasiswa bagi mahasiswa Kosovo yang ingin kuliah di Universitas Muhammadiyah,” ungkap Din.

Sambutan baik dinyatakan Presiden Atifa. Dia juga ingin membalas kunjungan Din dengan mendatangi Indonesia. secara langsung dia mengharapkan Indonesia juga dapat mendukung kemerdekaan Kosovo. Pasalnya Indonesia disematkan sebagai negeri berpenduduk Islam terbesar di dunia. “Pengaruh Indonesia juga besar, khususnya di kalangan dunia Islam,”sebut Atifa.

Usai menjelajah Kosovo, Din akan mengunjungi  Nigeria untuk sebuah misi perdamaian lima tokoh Islam, dan lima tokoh Kristen dunia pada  21-24 Mei mendatang. Misi ini  diprakarsai oleh lembaga Islam Common Word pimpinan Prince Ghazi dari Jordan dan World Council of Churches. “Saya mewakili Asia. Misinya untuk berdialog dengan para tokoh agama di tiga provinsi di Nigeria agar berdamai,” jelas Din.

Rep: Indah Wulandari/ Red: Dewi Mardiani

Republika Online: http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/05/18/m47sy2-din-syamsuddin-safari-perdamaian-dunia