Ketua Umum PP Muhammadiyah 2005-2015, Prof Din Syamsuddin (2 dari kiri) saat menjadi pembicara di International Conference on Paths of Peace di Münster, Jerman (foto: dok pwmu.co)

Din Syamsuddin Bahas Isu Kebebasan Beragama di Jerman dan New York

Monday, 18 September 2017 21:12

Ketua Umum PP Muhammadiyah 2005-2015, Prof Din Syamsuddin (2 dari kiri) saat menjadi pembicara di International Conference on Paths of Peace di Münster, Jerman (foto: dok pwmu.co)

Ketua Umum PP Muhammadiyah 2005-2015, Prof Din Syamsuddin (2 dari kiri) saat menjadi pembicara di International Conference on Paths of Peace di Münster, Jerman (foto: dok pwmu.co)

 

Munster & New York, GATRAnews – Mantan Ketua Umum Muhammadiyah Din Syamsuddin menjadi pembicara pada dua pertemuan internasional berturut-turut di Jerman dan Amerika Serikat. Pada (12/9), Din menjadi panelis pada International Conference on Paths of Peace di Münster, Jerman. Konferensi tahunan yang diadakan Community of Sant Egidio (organisasi internasional orang awam Katholik) ini dihadiri 600 peserta dari mancanegara, di antaranya tokoh2-tokoh utama berbagai agama dunia.

Konferensi yang dibuka Kanselir Markel turut dihadiri oleh Syaikh Al-Azhar At-Tayyib, Wakil Paus Fransiscus, Pemimpin Gereja Ortodoks Yunani, Pemimpin Buddha Risho Kosakai Jepang, dan Presiden Nigeria. Din Syamsuddin menjadi pembicara pada Sesi tentang “Agama-Agama Asia Menghadapi Pasar Global”. Dalam presentasinya, Din mengatakan bahwa era pasar bebas global meningkatkan arus sekularisasi dan orientasi materialistik yang anti Tuhan, maka agama-agama harus menampilkan peran profetik untuk meluruskan kehidupan duniawi tersebut dengan nilai-nilai moral dan etik. Era globalisasi, lanjut Din yang juga menjadi Presiden ACRP (Organisasi Tokoh-Tokoh Agama Se-Asia) menciptakan peluang besar, tidak hanya pasar bebas perdagangan tapi juga pasar bebas agama. Hal ini juga harus diatasi oleh para agamawan dengan terus meningkatkan dialog antar agama.

Setelah mampir sehari di London menemui Dubes RI Rizal Sukma guna membicarakan kerjasama Perguruan Tinggi Muhammadiyah dengan berbagai universitas di Inggris, Din melanjutkan perjalanan ke New York untuk menghadiri Konferensi in Cultural Rapproachement between the USA and the Islamic World, pada 16-17 September. Konferensi yang diprakarsai Rabithah Alam Islami (Liga Muslim Sedunia) ini dihadiri sejumlah 200 tokoh Muslim dari seluruh dunia serta sejumlah tokoh non Muslim dari Amerika dan beberapa negara. Dari Indonesia ikut hadir Dr. Hidayat Nurwahid, Prof. Bahtiar Effendy (Ketua PP Muhammadiyah), dan Muhammad Siddiq (Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia).

Din Syamsuddin hadir sebagai Ketua Dewan Pertimbangan MUI, menjadi moderator pada sesi kedua yang membahas isu-isu kebebasan beragama, faktor pengetahuan, dan agenda kerjasama AS dan Dunia Islam di bidang peradaban. Tampil sebagai pembicara pada sesi ini dari kalangan Islam Prof. Yahya Michot dari AS, Dr. Bishari dari Perancis, dan Dr. Abu Halima dari Aljazair, serta dari kalangan non Muslim antara lain Prof. Bernardini dari Italia, Prof. Dolzer dari Jerman, dan Prof. Faulker dari Austria. Din Syamsuddin dalam pengantar diskusi, mengatakan bahwa kerjasama peradaban antara Amerika dan Dunia Islam tidak hanya mungkin tapi harus terjadi. Keduanya saling memerlukan.

“Dunia Islam memerlukan Amerika sebagai adidaya dunia, tapi Amerika juga memerlukan Islam sebagai bagian dunia yg memiliki kekuatan-kekuatan besar baik sumber daya manusia, sumber daya alam, maupun sumber daya nilai, dan sumber daya sejarah, yakni dunia islam pernah tampil sebagai pemegang supremasi peradaban dunia di abad2-abad pertengahan,” ujarnya.

Menurut Din, konferensi yg baru pertama diadakan dalam skala luas di Amerika ini, diharapkan dapat mengurangi Islamofobia di sementara kalangan masyarakat di Amerika maupun Eropa. Tentu konperensi tersebut diharapkan membawa resonansi kepada para pemimpin dunia yang sedang menghadiri Sidang Umum PBB di kota yang sama pada waktu hampir bersamaan.


Reporter: Dewi Fadhilah S dan ASK

https://www.gatra.com/international/285501-din-syamsuddin-bahas-isu-kebebasan-beragama-di-jerman-dan-new-york

WhatsApp-Image-2017-06-20-at-11.29.39-e1497946986265

Din Ikut Luncurkan Prakarsa Pelestarian Hutan Lindung Oslo

Selasa , 20 June 2017, 21:15 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, OSLO — Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Din Syamsuddin, ikut meluncurkan Interfaith Rainforest Initiativedi  Oslo, Norwegia, Senin (19/6). Bertempat di Markas Nobel Perdamaian, acara dihadiri oleh Raja Norwegia, Menteri LH Norwegia, Wali Kota Oslo dan seratusan tokoh agama, ilmuan, dan aktifis lingkungan hidup seluruh dunia.

Sejumlah komunitas yang hadir di antaranya Vatikan, Dewan Gereja Sedunia, Sekjen Religions for Peace, Norwegian Rainforest, UNDP, Parliament of World Religilns, Green Faiths, dan para tokoh LSM lingkungan hidup dunia lain. Dari Indonesia, turut hadir Dr. Zainal Bagir (UGM), Abdon Nababan (AMAN) dan Aziz Asman (Institut Naladwipa).

Din Syamsuddin mendapat kehormatan berbicara pada sesi peluncuran bersama wakil-wakil dari agama lain seperti Kristen, Yahudi, Hindu, Buddha dan Agama Tradisi. Dipandu Presiden Tokoh Lintas Agama se Eropa, Bishop GUnnar Stalsett, sesi berlangsung dengan penyampaian pandangan dan pesan masing-masing agama untuk pelestarian lingkungan hidup.

Din yang mewakili Islam, menyampaikan pandangan Islam tentang solusi terhadap krisis lingkungan hidup yang dianggap sebagai krisis moral, sehingga perlu diatasi dengan pendekatan nilai moral dan etika keagamaan. Menurut Din, Islam agama alam semesta dan ada 750 ayat Alquran bicara alam, pelestarian lingkungan hidup dan pembangunan bumi.

“Sesungguhnya, alam itu sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Suci, mengandung kesucian dan memiliki jiwanya tersendiri. Kosmologi Islam menjelaskan, ada korespondensi segitiga antara Tuhan, Manusia, Alam, selain ada analogi antara manusia dan alam sebagai mikrokosmos dan makrokosmos. Maka, perlu ada harmoni dlm hubungan antara ketiganya,” kata Din yang juga Ketua Dewan Pengarah Gerakan Nasional Indonesia Bergerak Selamatkan Bumi (Siaga Bumi), melalui rilis yang diterima Republika.co.id, Selasa (20/6).

Ia menerangkan, sebagai konsekuensi logis pandangan teologis tadi, Islam mengajarkan manusia memuliakan alam. Alquran, lanjut Din, menggunakan istilah thabi’ah (subjek) bukan mathnu’ (obyek) untukk alam, dan melihat kerusakan dan krisis lingkungan hidup dewasa ini karena manusia lebih memandang alam sebagai obyek daripada subyek yang berjiwa. Maka itu, ia merasa banyak terjadi eksploitasi bukan konservasi.

Terkait kerusakan dan perusakan yang menimpa hutan-hutan penampung hujan di banyak negara termasuk Indonesia, ia mengimbau segera dihentikan karena telah berdampak munculnya perubahan iklim dan pemanasan global. Din turut mengapresiasi Pemerintah Indonesia yang memberi perhatian pelestarian lingkungan hidup dan hutan tropis.

Untukk itu, ia melihat perlu ditingkatkan kolaborasi antar agama dan antara umat beragama dengan pemerintah dalam melestarikan lingkungan hidup, khususnya hutan tropis, yang di Indonesia merupakan salah satu paru-paru dunia yang penting. Din pun berjanji akan mendorong Siaga Bumi untuk lebih aktif bergerak melakukan upaya-upaya pelestarian hutan tropis melalui program-program konservasi dan restorasi.

number: http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/02/07/dunia-islam/islam-nusantara/17/06/20/oruhtt-din-ikut-luncurkan-prakarsa-pelestarian-hutan-lindung-oslo

Din Syamsuddin: Aliansi Russia-Dunia Islam Bisa Jadi Model

JAKARTA – Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin mengatakan bahwa Aliansi Strategis Russia-Dunia Islam dapat menjadi model kemitraan dan kerja sama yang positif untuk membangun peradaban dunia baru yg berkemajuan, berkeadilan dan berkeadaban.

Demikian salah satu pokok pidato DS pada Sidang Kelompok Visi Strategis Russia-Dunia Islam (Group for Strategic Vision “Russia-Islamic World”) di Grozny City, Federasi Russia, Rabu 17 Mei 2017.

Din Syamsuddin yang menjadi anggota kelompok ini sejak 2007 menjelaskan bahwa dunia pasca Perang Dingin memang membawa ketidakpastian. Kedua tesis The End of History Fukuyama dan tesis The Clash of Civilization Huntington memang terjadi, namun mendorong konvergensi.

“Sayangnya konvergensi itu tidak berwajah positif terhadap Dunia Islam sebagai pilar penting peradaban dunia. Yang terjadi justeru ‘permusuhan’ terhadap Islam baik secara langsung maupun tidak langsung, seperti adanya Proxy War antara sesama negara Islam,” ujarnya melalui rilis yang diterima SINDOnews, Jumat (19/5/2017).

Dia berpandangan, globalisasi yang semula dimaksudkan untuk adanya keadaan monolitik dalam bidang politik dan ekonomi yang bersifat liberalistik, justru membangkitkan negara-negara lain, yang ditandai oleh kebangkitan Asia Timur. Sebagai akibatnya, negara-negara Barat merasa terkalahkan sehingga membangkitkan ultra-nasionalisme seperti yang terjadi di Amerika Serikat dan beberapa negara Barat.

Sayangnya, menurut Guru Besar Politik Islam Global FISIP UIN Jakarta ini, Dunia Barat masih melihat Islam sebagai ancaman daripada mitra strategis untuk kemajuan bersama. Maka, lanjut Din, aliansi strategis Russia-Dunia Islam merupakan alternatif positif.

“Walaupun tidak ada makan siang gratis, namun Russia dapat mengedepankan pendekatan ‘kemitraan ramah Islam’ (Islam friendly partnership), yang tentu saling menguntungkan,” tuturnya.

Menurut Din, Russia memerlukan Dunia Islam terutama untuk dukungan politik dan kerja sama ekonomi. Dunia Islam pun dapat memanfaatkan kekuatan Russia yang masih menyisakan keunggulan iptek dan juga ekonomi.

“Maka, jika aliansi strategis Russia-Dunia Islam dapat mengubah visi strategis ke dalam aksi-aksi strategis, tidak mustahil akan ikut mendukung terwujudnya tatanan dunia baru yang damai, adil dan sejahtera,” paparnya.

Pertemuan Kelompok tersebut dihadiri oleh Presiden Republik Tatarstan Rustam Minikhanov sebagai Ketua Kelompok, Presiden Chechnya Ramadan Kadirov sebagai tuan rumah, sejumlah tokoh Federasi Russia, dan tokoh dari berbagai negara Islam.

https://nasional.sindonews.com/read/1206423/15/din-syamsuddin-aliansi-russia-dunia-islam-bisa-jadi-model-1495174493

Ketua Pergerakan Indonesia Maju bersama Dewan Nasional temui Ketua DPD RI

BERSAMA PENGURUS PIM, DIN SYAMSUDDIN TEMUI KETUA DPD RI

Ketua Pergerakan Indonesia Maju bersama Dewan Nasional temui Ketua DPD RI

Ketua Pergerakan Indonesia Maju bersama Dewan Nasional temui Ketua DPD RI

Ketua Pergerakan Indonesia Maju (PIM) Din Syamsuddin bersama jajarannya akan menemui Ketua DPD RI Irman Gusman di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta (Rabu, 18/5).

Dalam pertemuan yang diagendakan pukul 11.00 WIB tersebut, Din akan beraudiensi dan memperkenalkan organisasi yang baru didirikannya tersebut bersama puluhan tokoh nasional.

Bersama Din akan hadir pengurus PIM lainnya. Di antaranya Ali Masykur Musa, Akhmaloka, Widya Murni, Handoyo, M Arief Rosyid Hasan, Nyoman Udayana, Weinata S, Miryam S Haryani, Uda Yuna, Paiman Mak, R Siti Zuhro, Chusnul Mar’iyah, Margie Ririhena, Veronica WS, dan Isran Noor.

Kepada Irman Gusman, Din Cs juga akan menyampaikan rencana deklarasi PIM yang akan digelar di Plenary Hall Jakarta Convention Center (JCC) pada Sabtu (21/5) mendatang.

Sebelumnya, Din dan kawan-kawan menemui Ketua MPR Zulkifli Hasan.

Organisasi PIM didirikan 45 tokoh sebagai sebuah gerakan masyarakat Indonesia yang bersifat lintas agama, suku, profesi, dan gender pada 4 April 2016 lalu.

Saat itu, Din menjelaskan, perkumpulan ini memiliki misi utama, yakni kemanusiaan, kemajemukan dan kebersamaan.

“Kami 45 aktivis bangsa, bersepakat membentuk perkumpulan, dinamakan Pergerakan Indonesia Maju. Secara resmi berdiri per tanggal hari ini, lewat akte notaris,” ujar Din. [zul]

1821148

Watak Islam di Indonesia Itu Moderat dan Anti Kekerasan

1821148Islam di Indonesia memiliki watak berbeda dengan Islam di negeri-negeri lain termasuk Timur Tengah. Hal ini disebabkan oleh modus masuknya Islam secara damai dan latar sosial-budaya masyarakat Indonesia yang cinta damai.

“Islam di Indonesia berwatak damai, moderat, inklusif, toleran, dan anti-kekerasan. Watak ini dianut oleh mayoritas mutlak umat Islam dan telah berlangsung berabad lamanya,” kata mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Din Syamsudin, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (05/11)

Maka hampir dapat dikatakan, lanjut Din, sejak dulu tidak ada ketegangan dan pertentangan serius antara Muslim dan non-Muslim, dan juga antara sesama Muslim.

“Karena dari dulu Indonesia dikenal sebagai model kerukunan hidup, baik antar umat beragama maupun intra umat satu agama.” ucapnya

Namun Din juga mengatakan akhir-akhir ini suasana damai sedikit berubah dengan adanya ketegangan bahkan konflik antar kelompok umat beragama, khsususnya antara kelompok Muslim dan Kristiani, seperti terjadi terakhir di Tolikara, Singkil, dan Manokwari.

Hal ini, menurut Din, disebabkan oleh bergesernya tata nilai yg dianut oleh sebagian masyarakat Indonesia sejalan dengan modernisasi, globalisasi, dan liberalisasi yg melanda Indonesia sejak satu dua dasawarsa terakhir.

“Radikalisme keagamaan yang muncul di Indonesia didorong oleh faktor keagamaan dan faktor-faktor non agama.

Pertama, Din menjabarkan, mengambil bentuk pemahaman yg salah akibat penafsiran sempit teks-teks Kitab Suci dengan mengabaikan misi utama Islam untuk kerahmatan dan kesemestaan.

Kedua, berupa ketidakadilan sosial, ekonomi dan politik yang sering menjadi faktor picu kekerasan dan sikap radikal dan agama menjadi faktor pembenar sikap tersebut. [ysa]

RMOL

din_syam51

Din Syamsuddin bertemu tokoh Jepang bahas hubungan bilateral

1845693Jakarta (ANTARA News) – Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, bertemu dengan dua tokoh Jepang yaitu Mantan Perdana Menteri Yoshihiko Noda dan Yutaka Iimura selaku Utusan Khusus PM Jepang untuk Asia Tenggara.

Pada kesempatan bertemu secara terpisah itu, Din berdiskusi dengan mereka tentang kebangkitan Asia Timur dan upaya-upaya peningkatan hubungan bilateral Jepang-Indonesia.

Peningkatan hubungan yang dibahas yakni pada tingkat Pemerintah dengan Pemerintah (G to G), Rakyat dengan Rakyat (P to P), dan Rakyat dengan Pemerintah (P to G) khususnya antara masyarakat madani Indonesia dengan penerintah Jepang.

Saat bertemu mantan PM Noda, yang sekarang menjadi anggota Diet/Parlemen Jepang dari Partai Demokrat, kedua tokoh membahas peningkatan hubungan yang selama ini sudah berlangsung baik.

Noda dan Din merupakan sahabat karib terutama sejak Noda sudah tiga kali berkunjung ke Kantor Muhammadiyah sejak 2008 (sebelum Noda menjadi Menteri dan kemudian menjabat PM Jepang).

Walaupun partainya tidak sedang berkuasa, Noda berjanji untuk mendorong upaya peningkatan investasi Jepang ke Indonesia.

Pada pertemuan itu, Din, yang sekarang menjabat Ketua Dewan Pertimbangan MUI itu, menyambut baik rencana ekspor daging sapi (wagyu) Jepang yang terkenal lezat dan bergizi ke Indonesia dan bekerjasama dengan MUI untuk sertifikasi halalnya.

Secara berkelakar, Din mendoakan Partai Demokrat Jepang meraih kemenangan sehingga Noda dapat berkunjung ke Indonesia sebagai PM dan bersedia untuk kembali diajak makan di restoran makanan laut di kawasan Pecenongan, Jakarta.

Sementara dalam pertemuan dengan Yutaka Iimura, Din juga membahas peningkatan hubungan kerjasama Jepang-Indonesia khususnya dalam bidang pendidikan dan perdagangan.

Dalam diskusi dengan Utusan Khusus PM Jepang tersebut, Din menangkap rona kekecawaan Jepang atas “pembatalan” rencana proyek KA cepat Jakarta – Bandung.

Namun disepakati bahwa, hubungan bilateral kedua bangsa yang sudah berlangsung lama, terlalu mahal untuk dikorbankan hanya karena satu proyek, apalagi Jepang adalah negara investor terbesar di Indonesia.

Kedua tokoh sependapat hubungan Jepang – Indonesia sangat vital dan strategis dalam mengarahkan kebangkitan Asia Timur menjadi kawasan pertumbuhan masa depan yang sejahtera dan adil bagi bangsa-bangsa penghuninya.

Din Syamsuddin berada di Jepang selama delapan hari atas undangan Sasakawa Peace Foundation, sebuah lembaga di bawah naungan Nippon Foundation yang berpengaruh di Jepang.

Sasakawa Peace Foundation sejak tahun lalu mengundang seorang tokoh Asia sebagai tamu kehormatan dalam Program Opinion Leaders of Asia. Dr. Surin Pitsuwan, Mantan Sekjen Asean, adalah tokoh yang diundang tahun lalu, dan tahun ini, Prof. Din Syamsuddin.

Selama di Jepang, Din diagendakan berkunjung ke Tokyo, Hiroshima, Kyoto, dan Kobe. Selain bertemu dengan para pejabat tinggi Jepang, Din juga bertemu dengan sejumlah akademisi, agamawan dan pengusaha Jepang, serta pada hari terakhir berdialog dengan ratusan tokoh Jepang dari berbagai kalangan.

Pewarta: Try Reza Essra | AntaraNews.com

Syamsudin-Din

Hadiri Konferensi Nigeria, Din Ingatkan Pentingnya Toleransi Beragama

Syamsudin-DinJakarta – Tokoh-tokoh Islam dan Kristen dari penjuru dunia berkumpul di Nigeria untuk membahas perdamaian beberapa provinsi di negara itu akibat kurangnya toleransi. Ketua PP Muhammadiyah hadir menjadi salah satu perwakilan muslim di Asia.

Para tokoh agama yang berkumpul dalam acara tersebut merupakan bagian dari joint delegation yang diprakarsai Alul Bait Foundation dari Jordan dan World Council of Churches, Jenewa. Ketua Umum Muhammadiyah Din Syamsuddin ikut mewakili Muslim Asia.

Delegasi mengunjungi dua provinsi, Kaduna dan Plateu, yang dilanda konflik beberapa waktu lalu, guna mencari fakta dari para tokoh agama lokal dan para korban.

“Konflik-konflik yang terjadi dipicu faktor-faktor non-agama, seperti sosial, ekonomi, dan politik, tapi agama kemudian dijadikan sebagai alat justifikasi dan basis solidaritas kelompok,” ujar Ketua Muhammadyah Din Syamsuddin, dalam rillisnya yang diterima detikcom, Sabtu, (26/5/2012).

Din menjelaskan ada faktor kesukuan yang kental, yang sering berhimpit dengan afiliasi keagamaan. Ini yang membuat konflik mendalam dan sukar untuk diatasi.

“Sering saya ungkapkan perlunya toleransi, kesediaan untuk hidup berdampingan secara damai,” sambungnya

Din menilai kegiatan ini bisa menjadi model resolusi dala menyelesaikan konflik berdimenasi keagamaan.

“Kegiatan ini bisa jadi model resolusi konflik yg berdimensi keagamaan, dan jika berhasil dapat diterapkan di tempat lain,” tandasnya.

Detik.com: http://news.detik.com/berita/1925329/hadiri-konferensi-nigeria-din-ingatkan-pentingnya-toleransi-beragama