Ketua Pergerakan Indonesia Maju bersama Dewan Nasional temui Ketua DPD RI

BERSAMA PENGURUS PIM, DIN SYAMSUDDIN TEMUI KETUA DPD RI

Ketua Pergerakan Indonesia Maju bersama Dewan Nasional temui Ketua DPD RI

Ketua Pergerakan Indonesia Maju bersama Dewan Nasional temui Ketua DPD RI

Ketua Pergerakan Indonesia Maju (PIM) Din Syamsuddin bersama jajarannya akan menemui Ketua DPD RI Irman Gusman di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta (Rabu, 18/5).

Dalam pertemuan yang diagendakan pukul 11.00 WIB tersebut, Din akan beraudiensi dan memperkenalkan organisasi yang baru didirikannya tersebut bersama puluhan tokoh nasional.

Bersama Din akan hadir pengurus PIM lainnya. Di antaranya Ali Masykur Musa, Akhmaloka, Widya Murni, Handoyo, M Arief Rosyid Hasan, Nyoman Udayana, Weinata S, Miryam S Haryani, Uda Yuna, Paiman Mak, R Siti Zuhro, Chusnul Mar’iyah, Margie Ririhena, Veronica WS, dan Isran Noor.

Kepada Irman Gusman, Din Cs juga akan menyampaikan rencana deklarasi PIM yang akan digelar di Plenary Hall Jakarta Convention Center (JCC) pada Sabtu (21/5) mendatang.

Sebelumnya, Din dan kawan-kawan menemui Ketua MPR Zulkifli Hasan.

Organisasi PIM didirikan 45 tokoh sebagai sebuah gerakan masyarakat Indonesia yang bersifat lintas agama, suku, profesi, dan gender pada 4 April 2016 lalu.

Saat itu, Din menjelaskan, perkumpulan ini memiliki misi utama, yakni kemanusiaan, kemajemukan dan kebersamaan.

“Kami 45 aktivis bangsa, bersepakat membentuk perkumpulan, dinamakan Pergerakan Indonesia Maju. Secara resmi berdiri per tanggal hari ini, lewat akte notaris,” ujar Din. [zul]

1821148

Watak Islam di Indonesia Itu Moderat dan Anti Kekerasan

1821148Islam di Indonesia memiliki watak berbeda dengan Islam di negeri-negeri lain termasuk Timur Tengah. Hal ini disebabkan oleh modus masuknya Islam secara damai dan latar sosial-budaya masyarakat Indonesia yang cinta damai.

“Islam di Indonesia berwatak damai, moderat, inklusif, toleran, dan anti-kekerasan. Watak ini dianut oleh mayoritas mutlak umat Islam dan telah berlangsung berabad lamanya,” kata mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Din Syamsudin, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (05/11)

Maka hampir dapat dikatakan, lanjut Din, sejak dulu tidak ada ketegangan dan pertentangan serius antara Muslim dan non-Muslim, dan juga antara sesama Muslim.

“Karena dari dulu Indonesia dikenal sebagai model kerukunan hidup, baik antar umat beragama maupun intra umat satu agama.” ucapnya

Namun Din juga mengatakan akhir-akhir ini suasana damai sedikit berubah dengan adanya ketegangan bahkan konflik antar kelompok umat beragama, khsususnya antara kelompok Muslim dan Kristiani, seperti terjadi terakhir di Tolikara, Singkil, dan Manokwari.

Hal ini, menurut Din, disebabkan oleh bergesernya tata nilai yg dianut oleh sebagian masyarakat Indonesia sejalan dengan modernisasi, globalisasi, dan liberalisasi yg melanda Indonesia sejak satu dua dasawarsa terakhir.

“Radikalisme keagamaan yang muncul di Indonesia didorong oleh faktor keagamaan dan faktor-faktor non agama.

Pertama, Din menjabarkan, mengambil bentuk pemahaman yg salah akibat penafsiran sempit teks-teks Kitab Suci dengan mengabaikan misi utama Islam untuk kerahmatan dan kesemestaan.

Kedua, berupa ketidakadilan sosial, ekonomi dan politik yang sering menjadi faktor picu kekerasan dan sikap radikal dan agama menjadi faktor pembenar sikap tersebut. [ysa]

RMOL

din_syam51

Din Syamsuddin bertemu tokoh Jepang bahas hubungan bilateral

1845693Jakarta (ANTARA News) – Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, bertemu dengan dua tokoh Jepang yaitu Mantan Perdana Menteri Yoshihiko Noda dan Yutaka Iimura selaku Utusan Khusus PM Jepang untuk Asia Tenggara.

Pada kesempatan bertemu secara terpisah itu, Din berdiskusi dengan mereka tentang kebangkitan Asia Timur dan upaya-upaya peningkatan hubungan bilateral Jepang-Indonesia.

Peningkatan hubungan yang dibahas yakni pada tingkat Pemerintah dengan Pemerintah (G to G), Rakyat dengan Rakyat (P to P), dan Rakyat dengan Pemerintah (P to G) khususnya antara masyarakat madani Indonesia dengan penerintah Jepang.

Saat bertemu mantan PM Noda, yang sekarang menjadi anggota Diet/Parlemen Jepang dari Partai Demokrat, kedua tokoh membahas peningkatan hubungan yang selama ini sudah berlangsung baik.

Noda dan Din merupakan sahabat karib terutama sejak Noda sudah tiga kali berkunjung ke Kantor Muhammadiyah sejak 2008 (sebelum Noda menjadi Menteri dan kemudian menjabat PM Jepang).

Walaupun partainya tidak sedang berkuasa, Noda berjanji untuk mendorong upaya peningkatan investasi Jepang ke Indonesia.

Pada pertemuan itu, Din, yang sekarang menjabat Ketua Dewan Pertimbangan MUI itu, menyambut baik rencana ekspor daging sapi (wagyu) Jepang yang terkenal lezat dan bergizi ke Indonesia dan bekerjasama dengan MUI untuk sertifikasi halalnya.

Secara berkelakar, Din mendoakan Partai Demokrat Jepang meraih kemenangan sehingga Noda dapat berkunjung ke Indonesia sebagai PM dan bersedia untuk kembali diajak makan di restoran makanan laut di kawasan Pecenongan, Jakarta.

Sementara dalam pertemuan dengan Yutaka Iimura, Din juga membahas peningkatan hubungan kerjasama Jepang-Indonesia khususnya dalam bidang pendidikan dan perdagangan.

Dalam diskusi dengan Utusan Khusus PM Jepang tersebut, Din menangkap rona kekecawaan Jepang atas “pembatalan” rencana proyek KA cepat Jakarta – Bandung.

Namun disepakati bahwa, hubungan bilateral kedua bangsa yang sudah berlangsung lama, terlalu mahal untuk dikorbankan hanya karena satu proyek, apalagi Jepang adalah negara investor terbesar di Indonesia.

Kedua tokoh sependapat hubungan Jepang – Indonesia sangat vital dan strategis dalam mengarahkan kebangkitan Asia Timur menjadi kawasan pertumbuhan masa depan yang sejahtera dan adil bagi bangsa-bangsa penghuninya.

Din Syamsuddin berada di Jepang selama delapan hari atas undangan Sasakawa Peace Foundation, sebuah lembaga di bawah naungan Nippon Foundation yang berpengaruh di Jepang.

Sasakawa Peace Foundation sejak tahun lalu mengundang seorang tokoh Asia sebagai tamu kehormatan dalam Program Opinion Leaders of Asia. Dr. Surin Pitsuwan, Mantan Sekjen Asean, adalah tokoh yang diundang tahun lalu, dan tahun ini, Prof. Din Syamsuddin.

Selama di Jepang, Din diagendakan berkunjung ke Tokyo, Hiroshima, Kyoto, dan Kobe. Selain bertemu dengan para pejabat tinggi Jepang, Din juga bertemu dengan sejumlah akademisi, agamawan dan pengusaha Jepang, serta pada hari terakhir berdialog dengan ratusan tokoh Jepang dari berbagai kalangan.

Pewarta: Try Reza Essra | AntaraNews.com

Syamsudin-Din

Hadiri Konferensi Nigeria, Din Ingatkan Pentingnya Toleransi Beragama

Syamsudin-DinJakarta – Tokoh-tokoh Islam dan Kristen dari penjuru dunia berkumpul di Nigeria untuk membahas perdamaian beberapa provinsi di negara itu akibat kurangnya toleransi. Ketua PP Muhammadiyah hadir menjadi salah satu perwakilan muslim di Asia.

Para tokoh agama yang berkumpul dalam acara tersebut merupakan bagian dari joint delegation yang diprakarsai Alul Bait Foundation dari Jordan dan World Council of Churches, Jenewa. Ketua Umum Muhammadiyah Din Syamsuddin ikut mewakili Muslim Asia.

Delegasi mengunjungi dua provinsi, Kaduna dan Plateu, yang dilanda konflik beberapa waktu lalu, guna mencari fakta dari para tokoh agama lokal dan para korban.

“Konflik-konflik yang terjadi dipicu faktor-faktor non-agama, seperti sosial, ekonomi, dan politik, tapi agama kemudian dijadikan sebagai alat justifikasi dan basis solidaritas kelompok,” ujar Ketua Muhammadyah Din Syamsuddin, dalam rillisnya yang diterima detikcom, Sabtu, (26/5/2012).

Din menjelaskan ada faktor kesukuan yang kental, yang sering berhimpit dengan afiliasi keagamaan. Ini yang membuat konflik mendalam dan sukar untuk diatasi.

“Sering saya ungkapkan perlunya toleransi, kesediaan untuk hidup berdampingan secara damai,” sambungnya

Din menilai kegiatan ini bisa menjadi model resolusi dala menyelesaikan konflik berdimenasi keagamaan.

“Kegiatan ini bisa jadi model resolusi konflik yg berdimensi keagamaan, dan jika berhasil dapat diterapkan di tempat lain,” tandasnya.

Detik.com: http://news.detik.com/berita/1925329/hadiri-konferensi-nigeria-din-ingatkan-pentingnya-toleransi-beragama