Posts

din-syamsuddin

”Umat Islam Perlu Bertenggang Rasa Terhadap Umat Kristiani”

din-syamsuddinJAKARTA – Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia Din Syamsuddin menyesalkan peristiwa pembubaran kegiatan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) ITB, Bandung, Jawa Barat, Selasa (6/12/2016) malam.

Din mengatakan, secara nilai, baik itu agama maupun negara, seseorang atau sekelompok masyarakat dijamin hak-hak serta kebebasannya dalam memeluk serta menjalankan ibadah sesuai ketentuan agama masing-masing.

“Itu jelas termaktub dalam Pasal 29 UUD 1945 dan juga ajaran Islam, yang mengedepankan toleransi yang jelas dengan mempersilakan masing-masing untuk menjalankan agamanya. Lakum dinukum waliyadin, bagiku agamaku bagimu agamamu tanpa saling mengganggu,” kata Din, saat dihubungi, Rabu (7/12/2016).

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu menekankan, pentingnya rasa saling pengertian dan tenggang rasa antarumat beragama.

“Bagi umat Islam kita perlu bertenggang rasa terhadap Saudara kita umat Kristiani yang ingin menjalankan ibadahnya atau merayakan hari kebesaran agamanya, seperti perayaan Natal. Begitu pula umat Kristiani menampilkan tenggang rasa yang sama ketika umat Islam ibadah Idul Fitri dan Idul Adha saat hari besar umat Islam,” ujarnya.

Din juga mengimbau agar masyarakat tidak main hakim sendiri jika ada kesalahan yang dilakukan pihak penyelenggara.

Ia meminta, agar kasus itu diserahkan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum yang memiliki otoritas untuk menyelesaikannya.

Sebaliknya, kepada penyelenggara, Din berpesan, agar memenuhi segala ketentuan yang telah ditetapkan negara.

“Kemudian, selama itu semua memenuhi ketentuan negara maka negara dan aparat negara harus memberikan kesempatan dan kebebasan,” ujar Ketua Dewan Nasional Pergerakan Indonesia Maju itu.

Acara Kebaktian Kebangunan Rohani atau KKR di Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Jalan Tamansari, Bandung, Jawa Barat, Selasa (6/12/2016) malam, dihentikan setelah sejumlah orang datang ke acara tersebut dan meminta acara itu dibubarkan.

Ketua Pembela Ahlus Sunnah (PAS) Muhammad Roin mengatakan, ia dan sejumlah anggotanya meminta penyelenggara KKR menghentikan sesi kedua acara tersebut pada malam hari.

Roin mengatakan, pihaknya tidak melarang aktivitas keagamaan yang diselenggarakan oleh umat agama lain.

Namun, ia meminta agar KKR dipindahkan ke rumah ibadah sesuai dengan Surat Peraturan Bersama Tiga Menteri Nomor 9 Tahun 2006 dan Nomor 8 Tahun 2006. (Dani Prabowo)

Tribunnews.com

Doc. The 6th World Peace Forum

Din akui bahas Ahok dengan Jokowi

Doc. The 6th World Peace Forum

Doc. The 6th World Peace Forum

Jakarta – Chairman of Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC) Din Syamsuddin mengakui membahas masalah Gubernur Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta non-aktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), meskipun hanya selintas saat bertemu dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu.

“Walaupun sangat selintas tadi kami diskusikan kasus Gubernur Basuki Tjahaja Purnama, Ini beliau, sebagaimana sering diulang-ulang ,tidak mau mengintervensi proses hukum dan tidak akan melindungi dan oleh karena itu, ini harus kita percayai,” kata Din di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, terkait pertemuannya dengan Presiden Jokowi.

Din sendiri mengaku ingin mendalami tentang pernyataan Presiden yang sangat meyakinkan tersebut, yang meminta agar seluruh elemen masyarakat percaya pada proses hukum yang berkeadilan, cepat, transparan, dan memperhatikan rasa keadilan masyarakat.

Menurut Din, hal itu baik karena penegakan hukum merupakan jalan keluar terbaik bagi masalah-masalah bangsa ini.

“Hukum adalah cara beradab untuk menyelesaikan masalah yang ada, untuk menghindari perilaku dan tindakan yang boleh jadi tidak beradab, maka harus kita dukung. Apalagi, Indonesia adalah negara berdasarkan hukum yang menegakan supremasi hukum,” ujarnya.

Ia pun menimpali, “Tinggal sekarang persoalan yang ada ini berkeadilan atau tidak. Nah, ini yang menurut hemat saya, saya terima dari Bapak Presiden, dan itu satu keyakinan satu konfirmasi, maka biarlah ini berlanjut.”

Din, yang juga Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), menyampaikan kepada Presiden Jokowi bahwa sikap dasar dari umat Islam yang diwakili oleh organisasi massa (ormas) Islam tersebut adalah formal dan sangat cinta kepada Tanah Air.

Selain itu, ia pun mengemukakan, mereka juga sangat cinta kepada bangsa dan negara serta sangat berwawasan kemajemukan, Bhineka Tunggal Ika.

Menurut dia, umat Islam sangat besar jasanya bagi kemerdekaan, bagi penegakan negara, dan itu tidak perlu dikhawatirkan.

“Justru kalau ada orang lain yang mengganggu, semacam menuduh umat Islam intoleran, ini mengusik rasa kesadaran batin mereka,” katanya.

Din mengatakan Presiden telah berjanji akan terus berkomunikasi dan bersikap dialogis dengan berbagai elemen masyarakat, khususnya umat Islam.

“Pemerintah akan semakin memberikan perhatian untuk mengatasi kesenjangan khususnya dalam bidang ekonomi. Saya katakan kepada beliau kalau rakyat di lapis bawah yang mayoritas adalah umat Islam merasakan ada ketidakadilan, kesenjangan ekonomi. Ini yang mereka untuk bangkit bereaksi, dan itulah rakyat Indonesia jangan lihat itu sebagai umat Islam,” katanya.

Din juga menegaskan dalam pertemuan tersebut terkait adanya aktor politik yang cenderung memanfaatkan situasi terakhir bahwa ormas-ormas Indonesia akan berada di belakang atau di depan pemerintah untuk menolak segala niat yang tidak baik yang ingin merongrong kekuasaan pemerintah yang sah berdasarkan konstitusi.

“Saya pribadi, saya enggak tahu persis baik NU, Muhammadiyah, dan ormas-ormas Islam ini, sangat berwawasan konstitusional, maka akan menolak ada gelagat dan gejala yang ingin membelokkan dan membalikkan proses konstitusional lima tahunan bagi seorang presiden wakil presiden terpilih secara sah lewat proses demokrasi,” demikian Din Syamsuddin.

Editor: Priyambodo RH | Pewarta: Hanni Sofia Soepardi\

seruan-tokoh-agama-ttg-pilkada

Tokoh-tokoh agama serukan pilkada hindari isu perpecahan

din-syamsuddin_wpf

Ahok Sudah Minta Maaf, Harus Dimaafkan

din-syamsuddin_wpfJakarta – Ketua Umum Inter-Religious Counsil (IRC) Indonesia Din Syamsuddin mengharapkan semua pihak memaafkan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang sudah menyampaikan permohonan maaf atas ucapannya yang memicu kontroversi di beberapa kalangan umat muslim. Din mengapresiasi langkah Ahok tersebut dan berharap tidak diulang lagi.

“Dia sudah minta maaf, harus dimaafkan. Meminta maaf sudah sangat baik dan jangan sampai terulang,” kata Din dalam konferensi pers bersama tokoh-tokoh lintas agama di kantor The Centre for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CDCC), Jalan Kemiri 24, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (17/10/2016).

Dia sudah mewanti-wanti para calon kepala daerah untuk tidak memasuki wilayah sensitif seperti suku, agama, ras dan golongan dalam berkampanye. Pasalnya, pernyatan-pernyataan tersebut bisa menyulut perpecahan dan ketersinggungan.

“Saya sudah mewanti-wanti, agar tidak masuk wilayah yang sensitif. Kita harus tetap mengedepankan sikap saling menghormati dan menghargai,” tandas dia.

Tekait proses hukum kasus dugaan penistaan agama oleh Ahok, Din mengaku tidak mau ikut campur tangan. Menurut dia, hal tersebut merupakan otoritas dan kewenangan Bareskrim Polri untuk menyelidikinya.

“Penegakan hukum urusan negara, kami tidak masuk ranah itu. Negara harus hadir, jangan sampai terlambat karena bisa berdampak lebih buruk lagi,” pungkas Din.

Yustinus Paat/FMB | BeritaSatu.com

din syamsuddin_IRC

Religious figures urge candidates not to upset people’s beliefs

Prof. Din Syamsuddin bersama para tokoh agama

Prof. Din Syamsuddin bersama para Tokoh Agama dalam konferensi pers “Pesan Bersama Para Tokoh Agama Indonesia, 17/10/16

Inter-Religious Council (IRC) president Din Syamsuddin has urged electoral candidates and their campaign teams not to upset people in their religious beliefs. Doing so would kindle public rejection, as had happened to Jakarta Governor Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama.

“We hope none of the [candidates] will interfere with the beliefs of other people, as it will touch a sensitive area and cause a [public] reaction,” he said at the Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC) in Central Jakarta on Monday.

Regarding Ahok’ statement on Surah Al Maidah: 51 during his visit to Thousand Islands on Sept. 27, Din said there were various interpretations of the verse and Ahok should not have offered any.

The problem in this case lay with Ahok’s interpretation of the verse, he added.

However, because Ahok had apologized, Muslims needed to forgive him, Din said.

The Indonesian Communion of Churches (PGI) general secretary Gomar Gultom had made a similar suggestion.

“We suggest all parties refrain from saying or doing things that may cause dispute among residents, especially regarding sensitive issues like those connected to ethnic, religious, racial or intergroup affiliation,” he said. (bbn)

Callistasia Anggun Wijaya | The Jakarta Post

din_pim

Rekonsiliasi Agama dan Budaya ala Din Syamsuddin

din_pimNusa Dua – Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin menjadi salah satu pembicara pada rangkaian acara World Culture Forum (WCF) 2016 di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC).

Dia mengatakan, masih ada ketegangan antara budaya dan agama. Hal itu disebabkan, budaya yang berkembang bisa jadi justru bertolak belakang dengan agama yang ada.

“Budaya sebagai produk hasil rasa karya cita manusia yang boleh jadi tidak berdasarkan agama. Sekarang tugas agamawan dan umat beragama bagaimana budaya itu tidak keluar dari nilai-nilai agama dan sekaligus keagamaan itu tidak keluar dari nuansa kebudayaan. Rekonsiliasi ini yang harus kita lakukan,” kata Din Syamsuddin di Nusa Dua Bali, Rabu 12 Oktober 2016.

Din menuturkan betapa beruntungnya Indonesia memiliki Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika untuk menghadapi kemajemukan yang ada. Namun, pemahaman terhadap dua simbol negara itu masih minim di mata masyarakat.

“Sehingga era reformasi ini ada gejala dan gelagat individualisme, egoisme kelompok, dan akhirnya sempat menimbulkan konflik berdarah-darah di Ambon, Poso, Kalimantan, atau yang bersifat vertikal seperti di Aceh. Dan ini tugas kita merajut kemajemukan ini, dan ini memang tidak ada jalan lain yang strategis selain lewat pendidikan, pendidikan, dan pendidikan,” kata Din.

Din juga menegaskan, seluruh agama dapat menerima beragam kemajemukan. Meski begitu, persoalan yang dihadapi saat ini adalah ancaman multikulturalisme atau kemajemukan itu sendiri.

“Karena di dunia sekarang ini muncul individualisme, sektarianisme, egosentrisme, baik atas nama agama, rasionalitas, maupun kesukuan, etnis, dan lain-lain. Termasuk juga kepentingan politik, ini akan menjadi ancaman bagi peradaban manusia kalau tidak segera diatasi,” ungkap Din.

Din mengusulkan multikulturalisme kalau bisa ditingkatkan, tidak sekadar pada tataran pasif dan normatif belaka, tapi menjadi sebuah kemajemukan yang progresif, aktif, dan berkemajuan.

“Sebuah wawasan tentang kemajemukan yang kita tampilkan dalam kebersamaan dan kerja sama. Jadi kata kuncinya adalah kerja sama, tentu dalam hal-hal yang bersifat kemanusiaan. Agama-agama sebagai contoh ada perbedaan-perbedaan soal konsep ketuhanan,” papar Din Syamsuddin.

Devira Prastiwi | news.liputan6.com

din-syamsuddin

Maafkan Ahok Tapi dengan Syarat

din-syamsuddin

Doc. Pergerakan Indonesia Maju (PIM)

Cendekiawan Muslim Din Syamsuddin menilai, pernyataan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok masuk kategori penodaan agama.

Din mengaku telah menonton video utuh pernyataan Ahok di Kepulauan Seribu itu sebelum mengambil kesimpulan tersebut. Kendati begitu, Din mengimbau kepada semua pihak untuk tidak perlu membalas kekerasan verbal yang telah dilakukan oleh Ahok tersebut.

“Saya harus ingatkan sekali lagi, Islam harus memberikan maaf, tetapi dengan beberapa persyaratan yang harus dilakukan Ahok. Harap kalimat saya ini jangan dipotong ya. Umat Islam harus memberikan maaf kepada kepada Ahok dengan beberapa persyaratan yang harus dilakukan Gubernur DKI tersebut. Jadi, Ahok diberikan maaf dengan syarat,” kata Din di Nusa Dua, Bali, Rabu 12 Oktober 2016.

Inilah syarat yang diajukan Din. Ahok harus meminta maaf kepada seluruh umat Islam di Indonesia. Sebab, itu telah menimbulkan reaksi di kalangan umat Islam di seluruh Indonesia.

Untuk permintaan maaf yang telah dilakukan Ahok, Din menilai hal itu dilakukan bukan atas dasar kesadaran diri. Ahok seperti masih belum menerima jika ucapannya itu ternyata sudah memasuki wilayah kesucian agama tertentu, dalam hal ini Islam.

“Seorang pemimpin siapa pun dia, tidak perlu masuk terlalu jauh di wilayah suci sebuah agama. Dan, ini dilakukan Ahok,” kata Din.

Persyaratan kedua yang mesti dilakukan Ahok adalah memberi jaminan untuk tidak mengulang hal sama di kemudian hari. Sebab, kata-kata yang dilontarkan Ahok saat bertemu warga di Kepulauan Seribu itu sering diucapkan Ahok di berbagai kesempatan berbeda.

“Saya harus mengklarifikasi hal ini dan saya tidak mau masuk ke hal yang politis. Kepada saya ditunjukkan rekaman lain yang dilakukan Ahok, bukan hanya di Kepulauan Seribu saja, tetapi sudah seringkali dilakukan di tempat lain,” ujar Din.

Din mengaku sudah berkali-kali mempelajari beredarnya tayangan video, baik yang sudah diedit, potongan editing, maupun rekaman video yang utuh atau yang belum diedit. Menurut Din, tidak bisa dipungkiri jika di sana terjadi pelecehan dan penistaan agama yakni kitab suci umat Islam. “Tetapi Islam memang harus memaafkan Ahok,” kata Din.

Persyaratan ketiga adalah proses hukum terhadap kasus ini harus tetap berjalan. Menurut Din, kasus ini bukan delik aduan, yang mewajibkan adanya aduan terlebih dahulu agar diproses lebih lanjut. Menurutnya, tanpa adanya aduan dari siapapun, kepolisian bisa memproses kasus ini.

“Memang berat bagi kepolisian untuk memproses kasus ini. Tetapi, mau tidak mau, harus dilakukan untuk memenuhi rasa keadilan masyarakat yang merasa kitab sucinya dilecehkan dan demi menjaga kondusifitas dan keharmonisan umat beragama,” kata Din. (ase)

Oleh : Suryanta Bakti Susila, Bobby Andalan (Bali) | Viva.co.id

Din Syamsuddin

Soal Surat Al-Maidah, Din Syamsudin Minta Ahok Diperiksa

Din SyamsuddinNUSA Dua – Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Din Syamsudin, meminta kepolisian memproses secara hukum terkait pernyataan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang menyebut Surat al-Maidah 51 dalam sambutannya di depan pubilk. Menurut dia, kasus tersebut sebenarnya tidak memerlukan delik aduan karena termasuk kategori menodai kesucian kitab agama islam.

“Ini masalah besar bagi kepolisian, karena kalau tidak diselesaikan secara hukum, saya khawatir kelompok tertentu menganggap ini belum selesai,” kata Din disela acara World Culture Forum (WCF) II di Bali Nusa Dua Convention Center, Rabu, 12 Oktober 2016.

Isu penistaan terhadap agama yang diduga dilakukan Ahok berawal pada 30 Maret 2016. Ketika itu, dalam pidatonya, Ahok mengaku sering mendapat tekanan dari sebagian orang yang berkiblat pada Al-Quran Surat Al-Maidah ayat 51. Adapun dalam ayat tersebut disebutkan bahwa orang Islam dilarang memilih pemimpin dari orang-orang yang beragama Yahudi dan Nasrani.

“Bapak-Ibu enggak bisa pilih saya karena dibohongin pakai Surat Al-Maidah 51 macem-macem itu. Itu hak Bapak-Ibu, ya. Jadi, kalau Bapak-Ibu perasaan enggak bisa pilih nih, karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu, ya, enggak apa-apa. Karena ini, kan, hak pribadi Bapak-Ibu. Program ini jalan saja. Jadi Bapak-Ibu enggak usah merasa enggak enak. Dalam nuraninya enggak bisa pilih Ahok,” kata Ahok dalam pidato tersebut.

Ahok sendiri sudah meminta maaf terkait ucapannya yang mengutip salah satu surat dalam kitab suci Al-Quran, yakni Al-Maidah ayat 51. “Saya sampaikan kepada semua umat Islam ataupun orang yang merasa tersinggung, saya sampaikan mohon maaf,” kata Ahok.

Dia mengaku tidak bermaksud melecehkan agama Islam ataupun Al-Quran. Menurut dia, masyarakat bisa melihat video sesungguhnya untuk mengetahui suasana yang terjadi saat ia melontarkan ucapannya itu. “Tidak ada niat apa pun. Orang di Kepulauan Seribu pun saat itu, satu pun tidak ada yang tersinggung, mereka tertawa, kok.”

Din mengaku sudah menyimak seluruh video rekaman pidato Ahok, baik yang telah diedit maupun yang diklaim asli. Menurut dia, ucapan dari Ahok tersebut berkonotasi mendiskreditkan kesucian agama islam. Sebab, kata dia, walaupun Ahok mengaku pernyataan tersebut bukan ditujukan terhadap Al-Quran, tapi menilai pemahaman umat islam salah dalam menafsirkan surat Al-Maidah dan dibawa ke ranah politik hal itu salah dan merendahkan.

“Dia (Ahok) melakukan judgement terhadap pemahaman orang lain. Seyogianya, pejabat publik tidak masuk ke dalam zona sensitif seperti itu. Ini yang harus diakui sebagai kesalahan, sehingga tidak perlu dibela oleh siapapun,” kata Din, yang juga tokoh Muhammadiyah tersebut.

Terkait permintaan maaf yang sudah disampaikan Ahok, Din menilai hal tersebut belum cukup. Sebab, belum ada penjelasan dari Ahok apakah permintaan maaf tersebut disampaikan karena adanya kegaduhan politik, atau terkait persoalan sensitif terkait agama.

“Pak Basuki harus jelaskan pada publik. Dia harus tulus meminta maaf dengan kesadaran serta tidak akan mengulanginya lagi. Sebab, untuk kalangan Islam tertentu, mereka punya record, ternyata ucapan di Kepulauan Seribu itu bukan yang pertama,  tapi sudah kesekian kalinya,” katanya.

Angga Sukmawijaya | Bram Setiawan | nasional.tempo.co

din-syamsuddin-terima-penghargaan-dari-duta-besar-jepang

Din Syamsuddin Terima Penghargaan dari Kemlu Jepang

Foto: Arief Ikhsanudin/detikcom

Foto: Arief Ikhsanudin/detikcom

Jakarta – Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin mendapat Penghargaan Menteri Luar Negeri Jepang. Penghargaan itu diberikan oleh Duta Besar (Dubes) Jepang untuk Indonesia, Yasuaki Tanizaki di kediaman Dubes Jepang di Jl Daksa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

“Penghargaan ini diberikan kepada individu atau lembaganya yang telah berkontribusi dalam hubungan Jepang dengan negara sahabat,” kata Tanizaki dalam sambutannya pada Jumat (30/09/2016).

Tanizaki menilai Din Syamsuddin berkontribusi dalam menjelaskan Islam kepada masyarakat dan pemerintah Jepang. “Bapak Din Syamsuddin beberapa kali berkunjung ke Jepang dalam kegiatan yang memberi pengertian tentang Islam. Bapak Din Syamsuddin berperan besar memberi pengertian Islam di Jepang, terutama terkait penyediaan makanan halal,” kata Tanizaki.

Din menjadi Presiden Asian Conference on Religion and Peace (ACRP) yang berpusat di Tokyo, Jepang. Organisasi ini terdiri dari 22 negara Asia.

Din Syamsuddin berterima kasih kepada pemerintah Jepang atas penghargaan yang diberikan kepada dirinya. Mantan Ketua MUI ini memuji harmonisasi di Jepang yang merupakan nilai dalam Islam.

“Jepang meski menghayati nilai Shinto tapi ada yang menganut Kristen Katolik Budha. Tapi sejauh yang saya ketahui sangat harmonis tidak ada masalah,” kata Din.

“Kami melihat Islam di Jepang. Sementara kami bertemu orang Islam di Indonesia. Kehidupan masyarakat Jepang sesuai dengan Islam. Kebersihan, kedisiplinan waktu. Semua adalah ajaran Islam,” Sambung Din Syamsuddin.

(tor/tor)

Arief Ikhsanudin – detikNews
img-20160921-wa0012

Interfaith leaders committed to peace at Assisi summit

Muslim, Jewish, Christian and Buddhist religious leaders applauded the “Spirit of Assisi” in interreligious meetings launched by Pope St. John Paul II thirty years ago in the Italian hill town. At the conclusion of a four day peace summit of interfaith leaders in Assisi, representatives who addressed the gathering thanked Pope Francis for, in the words of the Muslim representative from Indonesia, “his endless commitment for peace.” Pope Francis arrived in Assisi Tuesday morning to attend the final day of the meeting, organized by the Sant Egidio lay community.

img-20160921-wa0012Din Syamsuddin, Chairman of the Advisory Council of the Indonesian Council of Ulama, expressed “high appreciation” to the lay Community of Sant’Egidio for “having kept alive the spirit of Assisi” by organizing the event each year. Noting that Indonesia is the world’s most populous Muslim country, Chairman Syamsuddin said the cooperation “has brought concrete fruits of peace such as our common work in interfaith dialogue, peace education among youth, peace process and conflict resolution in Mindanao, South Philippines.”

Violent extremism in the name of religion is an abuse of religion

The gathering each year has helped moreover, he added, “to materialize our common ideals for peaceful coexistence and collaboration. To say, and to show, with concrete actions, that violent extremism in the name of religion is indeed misuse and even abuse of religion. Never violence can use the name of religion, never!”

The Spirit of Assisi, he insisted, “is the true dialogue of life that should be continued for the sake of our world,” and he added, “we want to strengthen our commitment for this noble cause. Let’s walk together in unity and diversity on the path to peace.”

Jewish Rabbi: despite diversity, it is possible to become friends and live in peace

In his remarks, Rabbi Brodman, Chief Rabbi of Savyon, Israel, recalled his own childhood at a Nazi concentration camp, and his frequent talks to young people today “because [he] who does not know history is condemned to repeat it.” The Spirit of Assisi, he affirmed, “is the best example for humility and holiness and it is the answer to the tragedy of the Shoah and of every war.”
In Assisi, he stressed, “we say to the world that it is possible to become friends and to live together in peace, even if we are different.” With the courage of dialogue, he said, conflicts can be prevented and a human world created “where everybody can recognize in others the image of God.”

Anglican Archbishop: listen, eat, come and trust

In an ecumenical prayer ceremony in Assisi, the Archbishop of Canterbury, Justin Welby reflected on the misconception in today’s world that money makes one rich: “We think ourselves rich. Our money and wealth is like the toy money in a children’s game: it may buy goods in our human economies which seem so powerful, but in the economy of God it is worthless. We are only truly rich when we accept mercy from God, through Christ our Saviour.”
And, he offered this consideration about Europe: “The greatest wealth in European history has ended in the tragedies of debt and slavery. Our economies that can spend so much are merely sandy foundations. Despite it all, we find dissatisfaction and despair: in the breakdown of families; in hunger and inequality; in turning to extremists. Riddled with fear, resentment and anger, we seek ever more desperately, fearing the stranger, not knowing where to find courage.”
God, he said, “offers wealth that is real and will bring satisfaction.” In order to receive God’s mercy, one must listen to the “most helpless and the poorest;” eat “above all in the Eucharist, in sharing the body and blood of Christ;” come to the Lord and trust in His mercy. “When we receive mercy and peace,” he said, “we become the bearers of mercy and peace.”

Ecumenical Patriarch Bartholomew I: need for examination of conscience

In his remarks, the Patriarch Archbishop of Constantinople said peace “needs a few cornerstones to uphold it even when it is endangered.”

“There can be no peace without mutual respect and acknowledgment,” he added. “There can be no peace without justice; there can be no peace without fruitful cooperation among all the peoples in the world.”
He also said peace comes from “mutual knowledge and cooperation”, and spoke of the need for the leaders gathered in Assisi to revive these.

“We need to be able to ask ourselves where we may have been wrong, or where we have not been careful enough; because fundamentalisms have risen, threatening not only dialogue with others, but even dialogue within our own selves, our very own consciences. We have to be able to isolate them, to purify them, in the light of our faiths, to transform them into richness for all,” he said.

Buddhist priest: prayers and dialogue a “shortcut to peace”

91 year old Koei Morikawa Tendaizasu, Supreme Priest of the Tendai Buddhist Denomination of Japan described being able to pray with world religious leaders at these interfaith meetings as “one of the most joyous occasions” of his life.

“History has shown us that the peace attained by force will be overturned by force,” he observed. “We should know that prayers and dialogue are not the long way but the shortcut to peace…We cannot, however, overlook the current world movements which separate dialogue from unity and cooperation and demand isolation and power.”
“In order to create a world with virtue where abhorrence exists and with love where hatred exists, we clergy must pray together hand in hand and continue to do our very best.”

Victim of Syrian war: Before, there was no difference between Christians and Muslims

One of the many victims of conflict attending the summit, Tamar Mikalli described being heartbroken when saying the name of her home city of Aleppo, Syria.

“I remember my many Muslim and Christian friends. Now distinctions are made between Christians and Muslims, but before the war there was no difference. Everyone practiced his or her own religion, in a land that formed a mosaic through different cultures, languages and religions.”

“When the heavy bombings were close to our houses,” she said, “we met with our neighbours, sharing bread and water, the most precious goods that go missing during wartime. We encouraged each other and prayed.” She explained how she and her family escaped to Lebanon and then finally were given refuge in Italy where they are doing their best to integrate, and asked for prayers “for peace and love to return to Syria and all over the world.”

Archbishop of Assisi: need for a “world-scale policy of brotherhood”

Archbishop of Assisi, Domenico Sorrentino, described the interfaith summit as offering “a spirit of prayer, understanding, and peace that aims at being an answer in a world darkened by many wars. Wars that sometimes, improperly, even blasphemously and in satanic ways, weave religious banners.”

Addressing Pope Francis, Archbishop Sorrentino said, “during this year…you have taught us to live this culture of peace as the culture of mercy. That is a culture of love, capable of caring, of being moved, and of forgiving, according to the Evangelical beatitude: “Blessed are the merciful, for they will be shown mercy”.

By practicing and testifying to our religious beliefs and by respectfully listening to those of others during such meetings, he said, “we have experienced true friendship.”

“But we need to go further. Our friendship must turn into a contribution for a world-scale policy of brotherhood.”
“Is it possible,” he asked, “for humanity to perceive itself as one single family? We believers think it is possible. This is the motive for our work, while we search for what unites us together and disregard what divides us.”

Source: Vatican Radio