Posts

img-20160921-wa0013

Pope, Refugees and Religious Leaders Pray for Peace

By PAOLO SANTALUCIA AND FRANCES D’EMILIO
ASSOCIATED PRESS ASSISI, Italy — Sep 20, 2016, 2:50 PM ET

img-20160921-wa0013Pope Francis met with war refugees and religious figures on Tuesday in Assisi, the Italian hometown of the tolerance-preaching St. Francis, for a day of prayers for peace, openness toward refugees and calls for religions to marginalize fundamentalism.

He lamented in a prayer service in St. Francis Basilica that refugees from conflicts often receive “the bitter vinegar of rejection.”

“Who listens to them? Who bothers responding to them?” Francis said. “Far too often, they encounter the deafening silence of indifference, the selfishness of those annoyed at being pestered, the coldness of those who silence their cry for help with the same ease with which television channels are changed.”

Throughout his papacy, Francis has decried those who turn their backs on those fleeing wars and poverty.

Orthodox leader Bartholomew I, the Ecumenical Patriarch of Constantinople, exhorted fellow participants to work to isolate fundamentalisms, which threaten “our very coexistence,” from their religions.

img-20160921-wa0012A Muslim speaker, Din Syamsuddin, president of the Indonesian Council of Ulema, lamented that lack of peace in the world is expressed in injustice, terrorism and other evils, and that some groups use the name of Islam to carry out violent acts.

Francis told participants: “Peace alone is holy, not war!”

Later, the names of countries where war or other violence is raging were read aloud, in alphabetical order, with a tall, slender candle lit for each place. Places cited included Syria, Yemen, Nigeria, Mexico, Ukraine and Mindanao in the Philippines.

Participants signed an appeal to the world’s leaders to eliminate the “motives” of war such as greed for power and money, including in the arms business, and the thirst for vengeance.

Earlier, after chatting individually with each of dozens of participants, Francis dined with them in the Franciscan convent. The diners included 12 refugees from war and conflicts in Nigeria, Eritrea, Mali and Syria.

At the end of the day, an Armenian woman from the besieged Syrian city of Aleppo addressed the participants. Tamara Mikalli said that when she pronounces the name of her city her “heart tightens.” She recounted that she fled with her family to Lebanon after their house was bombed and reached Italy thanks to a “humanitarian corridor” that saw Syrian refugees flown from Lebanon.

Another woman, from Eritrea, identified only as Enes, recounted that during lunch the pope asked each of the refugees how they reached Italy. “I told him I made a voyage in boat, navigating in the Mediterranean after crossing the desert,” the Italian news agency quoted her as saying.

Still another participant in Assisi was a young girl, identified only as Kudus, who had already met the pope. She was one of 12 Syrian refugees who flew to Italy with the pontiff from Lesbos, the Greek island where thousands of refugees landed after fleeing across the Mediterranean on smugglers’ boats.

Christians, including the pope, prayed in the basilica, while those from other religions, including Jews, Muslims, Hindus, Buddhists and others, prayed elsewhere in the town. For centuries, Assisi has drawn admirers of the saint who abandoned family wealth for an austere existence of preaching tolerance.

Flanking the pope in the basilica was the Archbishop of Canterbury, Justin Welby, who decried how despite much wealth, people in Europe experience “dissatisfaction and despair, in the breakdown of families, in hunger and inequality, in turning to extremists.”

Earlier this week, Pope Francis urged people worldwide to pray on Tuesday for peace, whenever they could.

Francis took his papal name from the saint who was born in the Umbrian hill town, where Franciscans from the religious order founded by the medieval saint care for the basilica and its renowned artworks. St. John Paul II established the inter-religious prayer gathering in Assisi in 1986.

———

Frances D’Emilio reported from Rome | AbcNews

din syamsuddin - cdcc

Din Syamsuddin Minta Kewarganegaraan 177 Calon Haji tak Dicabut

din syamsuddin - cdccYogyakarta – Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin berharap status kewarganegaraan 177 calon haji asal Indonesia yang tertangkap menggunakan paspor palsu di Filipina tidak dicabut.

“Negara harus melihat mereka sebagai korban, maka jangan serta-merta paspor mereka dicabut karena sudah berpaspor dan berkewarganegaraan lain,” kata Din saat ditemui di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Senin, 29 Agustus 2016.

Menurut Din, dengan menempatkan mereka sebagai korban penipuan, Pemerintah justru perlu melakukan upaya diplomasi secara maksimal. Filipina sebagai negara anggota ASEAN, menurut dia, akan mengerti karena mereka bukan pelaku penipuan. “Mereka adalah korban yang tertipu dan ditipu yang harus segera dipulangkan,” ucapnya.

Kementerian Agama, menurut dia, perlu melakukan pembenahan besar-besaran terhadap manajemen pemberangkatan haji sebab kasus penggunaan paspor negara lain untuk berangkat haji bukan kali pertama terjadi. “Sungguh memprihatinkan, kasus semacam ini terulang kembali. Harus dicari secara serius faktor penyebab secara jeli. Ini berhubungan dengan manajemen haji yang dari waktu ke waktu harus diperbaiki,” tuturnya.

Din menyadari pengelolaan haji memang tidak mudah karena harus mengurusi ratusan ribu calon haji setiap tahunnya. Oleh karena itu, perlu melibatkan ahli serta organisasi masyarakat Islam.

“Dari dulu saya mengusulkan agar pengelolaan haji tidak menutup diri menggunakan jasa dari ormas Islam, apalagi calon haji banyak yang berasal dari ormas Islam,” ucapnya.

Agar kejadian serupa tidak terulang ia berharap pemerintah menindak tegas agen-agen travel haji dan umrah yang terlibat dalam pemalsuan paspor itu. “Orang-orang penting di dalamnya jangan dibolehkan lagi mendirikan PT, karena nanti akan bisa ganti nama saja,” katanya.

Selain itu, Din berharap agar pengelola haji tidak memberikan kesempatan lagi bagi masyarakat yang telah menunaikan ibadah haji mendaftar kembali. Sebab persoalan daftar tunggu haji yang saat ini telah mencapai 20 tahun, juga menjadi faktor dimanfaatkan oknum tertentu untuk memeroleh keuntungan.

“Mereka yang ingin menunaikan haji lagi bisa diarahkan untuk menunaikan ibadah umrah saja. Umrah bisa dilakukan berkali-kali,” ujarnya.***

Oleh: Wilujeng Kharisma | Pikiran Rakyat

Ketua Dewan Pengarah Pergerakan Indonesia Maju, Prof. Dr. M. Din Syamsuddin

Sikap Din Syamsuddin Soal Materi Bahaya Rokok dan Full Day School

Ketua Dewan Pengarah Pergerakan Indonesia Maju, Prof. Dr. M. Din Syamsuddin

Ketua Dewan Pengarah Pergerakan Indonesia Maju, Prof. Dr. M. Din Syamsuddin

Yogyakarta – Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin sepakat bila bahaya rokok dimasukkan dalam materi pelajaran di sekolah dasar (SD dan SMP).

Din mengatakan seyogianya hal itu menjadi materi atau konten dari proses belajar mengajar, karena   penanaman  nilai-nilai pada pendidikan dsar itu itu akan lebih efektif dibanding bila sudah dewasa.

“Karena rokok itu hal yang negatif, apalagi bagi anak,” katanya kepada wartawan usai memberikan ceramah  umum dengan tema “Menumbuhkan Kecendekiawanan dan Membangun Inovasi Gerakan Kaum Muda Berkemajuan” pada acara Muktamar Nasyiatul Aisyiyah di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Sabtu (27/8).

Lebih lanjut Din menegaskan jika bangsa Indonesia mau maju ke depan,   harus banyak belajar dan banyak waktu untuk pendidikan nilai.

Din berpendapat, pendidikan nilai tersebut di Indonesia sekarang terlalu longgar. Lemahnya watak bangsa karena pendidikan nasional belum mengambil bentuk atau kurang berorientasi pada pendidikan nilai, melainkan banyak pengajaran.

“Pendidikan nilai ini penting yang berorientasi pada penanaman nilai-nilai, karakter dan watak,” katanya. Dalam konteks revolusi mental dan pendidikan karakter bangsa harus ditekankan pendidikan nilai, imbuhnya.

Terkait gagasan full day school, Din menyarankan perlu pertimbangan dan persiapan yang matang. Tidak boleh langsung secara umum, melainkan perlu penyiapan infrastruktur, sarana, prasarana , guru dan ini akan berhubungan dengan anggaran .

Mungkin pendidikan di kalangan tertentu yang sudah bagus setelah pulang sekolah ada TPA, diniyah dan sebagainya yang sebetulnya sudah menerapkan fullday school yang dimaksud, tapi tidak diselenggarakan oleh pemerintah.  ‘’Karena itu pesan saya jangan apriori menolak dan menerima, melainkan mari dibahas bersama,’’ kata dia.

Din menangkap niat baik Menteri Pendidikan dan Budaya  yang dimaksud sebagai full day itu maksudnya menambah alokasi waktu 2-3 jam setelah pelajaran di sekolah untuk pendidikan watak Hal itu patut untuk dipertimbangkan. “Jangan apriori menolak dulu, melainkan dipelajari dulu kenaikan dan keburukannya,’’jelas dia.

Menurut dia, kalau full day itu didramatisir. Sesesungguhnya pendekatan belajar secara intensif pada kondisi ini sudah banyak dilakukan oleh beberapa lembaga pendidikan dan berhasil serta bermanfaat.

Seperti halnya  di lingkungan umat Islam, baik Muhammadiyah maupun non Muhammadiyah. ‘’Apalagi jika dikaitkan pesantren,  saya dulu belajar 24 jam  yakni full and night school,’’ tutur alumni Ponpes Gontor Ponorogo ini.

Rep: Neni Ridarineni/ Red: Nasih Nasrullah | Republika.co.id
dsc_0665

Din Syamsuddin Dapat Penghargaan dari Pemerintah Jepang

dsc_0665

Prof. Dr. M. Din Syamsuddin (Doc. CDCC)

JAKARTA — Ketua Umum Muhammadiyah periode 2005-2015 Din Syamsuddin mendapatkan Penghargaan Menteri Luar Negeri Jepang 2016. Dari keterangan pers yang diterima, penghargaan Menteri Luar Negeri Jepang 2016 diberikan kepada 142 individu dan 31 organisasi di seluruh dunia.

Di antara para penerima penghargaan itu, terdapat dua orang penerima penghargaan atas jasa yang terkait dengan hubungan Jepang dan Indonesia. Din Syamsuddin memperoleh penghargaan dari Pemerintah Jepang tersebut atas jasanya memberikan sumbangsih dalam peningkatan hubungan saling pengertian antara Jepang dan Indonesia.

Penghargaan Menteri Luar Negeri Jepang dalam bentuk surat penghargaan dan cenderamata akan diserahkan kepada Din Syamsuddin oleh Duta Besar Jepang untuk Indonesia Yasuaki Tanizaki dalam waktu dekat di Denpasar, Bali.

Selain Din Syamsuddin, satu orang lainnya yang menerima Penghargaan Menteri Luar Negeri Jepang 2016 terkait peningkatan hubungan Indonesia-Jepang adalah Tsuneo Sengoku. Dia merupakan pemilik, pelatih dan kepala Sengoku International Judo Hall yang dinilai berjasa dalam mempromosikan Judo di Indonesia.

Penghargaan Menteri Luar Negeri Jepang dianugerahkan untuk menghormati para individu dan organisasi yang dinilai telah memberikan sumbangsih luar biasa.

Penganugerahan itu juga bertujuan agar setiap lapisan masyarakat di berbagai negara lebih memahami, mendukung, dan aktif melakukan kegiatan di berbagai bidang dalam rangka peningkatan hubungan masyarakat internasional, serta memberikan sumbangsih besar terhadap peningkatan hubungan persahabatan dengan Jepang.

Red: Esthi Maharani | Republika.co.id
Sumber : antara
din-syamsuddin-tito

Din Syamsuddin Daulat Kapolri jadi Anggota Muhammadiyah

din-syamsuddin-titoJakarta: Mantan Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin mendaulat Kapolri Jenderal Tito Karnavian sebagai anggota baru Muhammadiyah. Din merasa sosok Tito senafas dengan perjuangan Muhammadiyah.

“Baru sekali datang ke (Gedung Pusat Dakwah) Muhammadiyah, kita daulat beliau sebagai anggota Muhammadiyah,” kata Din dalam acara Silaturrahim Idul Fitri 1437 Hijriah Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (18/7/2016).

Din mengatakan Kapolri terdahulu Jenderal Badrodin Haiti merupakan anggota Muhammadiyah berdasarkan biologis. Sementara itu, Jenderal Tito Karnavian adalah anggota ideologis. “Kita angkat beliau berdasarkan intelektualitas dan rasionalitasnya,” ucap Din.

Din menyambut baik semangat Kapolri membangun kemitraan yang lebih strategis dengan Muhammadiyah. Din berharap kemitraan itu dibangun tidak berdasarkan basa-basi belaka.

“Muhammadiyah itu menganut amar ma’ruf, nahi munkar. Kalau kritis kepada Polri, BNPT, Densus 88, itu mohon dipahami manivestasi cinta Muhammadiyah. Cinta sejati adalah yang tak segan-segan mengkritik kekasihnya. Kalau diam saja, itu cinta basa-basi. Cinta palsu. Muhammadiyah cinta sejati,” kata Din.

Din sempat menyitir Alquran, Surat Alquraisy. Menurut Din, kemitraan Muhammadiyah dan Polri itu harus berangkat dari surat itu. Terutama ayat 3 dan 4.

“Pertama, falya’budu rabba haadzal bait. Maka sembahlah Tuhan. Harus ada peningkatan keagamaan, peribadatan dan aspek ruhani bangsa berdasarkan agama. Jangan sampai ada warga negara yang tidak beribadat kepada Tuhan. Tetaplah konsisten dengan sila pertama,” kata Din.

Muhammadiyah, sebagai salah satu organisasi Islam terbesar dan termasuk pilar pendiri bangsa Indonesia ikut fokus memperjuangkan itu. Din mengatakan, penghambaan kepada Tuhan harus benar-benar sesuai esensinya. Bukan sebatas rutinitas belaka. “Kedua, alladzi atha’amahum min juu‘. Yang memberi makanan kepada untuk menghilangkan lapar,” kata dia.

Dalam konteks kemodernan, Muhammadiyah turut serta membantu perjuangan bangsa ini mewujudkan kesejahteraan bagi segenap tumpah darah Indonesia. “Yang ketiga, wa aamanahum min khauf. Yang mengamankan mereka dari ketakutan. Pertama dan kedua, itu (di antaranya) core business Muhammadiyah. Yang ketiga, core business Polri,” ucap dia.

Din menekankan, apapun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak harus semata-mata bertumpu pada pendekatan kesejahteraan dan keamanan. Semuanya harus mengacu dan bertumpu pada penghambaan kepada yang maha kuasa.

Tentunya penghambaan kepada Tuhan secara utuh. Penuh penghayatan bahwa hamba kepada Tuhannya. Bukan sekadar rutinitas belaka.

Sebab, lanjut Din, fakta banyaknya manusia tetap melakukan kejahatan, padahal mereka beragama. Itu terjadi lantaran tidak menempatkan Tuhan di atas segala-galanya. Din mengimbau agar seluruh warga negara beribadah dengan penuh penghayatan.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyampaikan permohonaan maaf lahir dan batin kepada seluruh keluarga besar Muhammadiyah dan Polri. Haedar merasa spesial dengan kunjungan perdana Tito menghadiri undangan organisasi sejak menjadi Kapolri.

“Percayalah, Muhammadiyah akan bersama bapak. Kalau di sana-sini memberi masukan, ini bentuk kecintaan kita,” tandas dia.

M Rodhi Aulia | YDH | Metrotv.news

Ketua Dewan Pengarah Pergerakan Indonesia Maju, Prof. Dr. M. Din Syamsuddin

Din Syamsuddin ajak umat Islam peduli lingkungan

Ketua Dewan Pengarah Pergerakan Indonesia Maju, Prof. Dr. M. Din Syamsuddin

Ketua Dewan Pengarah Pergerakan Indonesia Maju, Prof. Dr. M. Din Syamsuddin

Jakarta – Ketua Dewan Pengarah Indonesia Bergerak Selamatkan Bumi (Siaga Bumi) Din Syamsuddin mengajak umat Islam untuk peduli terhadap lingkungan hidup.

“Manusia sebagai khalifah di muka bumi memiliki amanah dan tanggung jawab untuk memakmurkan bumi seisinya serta tidak hanya memanfaatkannya saja,” ujar Din di Jakarta, Senin.

Dia menjelaskan inti dari Islam yang memberikan rahmat bagi seluruh alam adalah Islam yang kehadirannya di tengah kehidupan masyarakat mampu memberikan rahmat di dunia maupun di akhirat melalui kedamaian dan kasih sayang bagi bumi.

“Umat muslim sebagai potensi terbesar bangsa yang seharusnya menjadi subjek sekaligus objek gerakan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dan sumber daya alam itu sendiri dengan kesadaran akan hak serta kewajiban dalam hal pelestarian lingkungan hidup dan pengelolaan sumber daya alam,” tambah dia.

Ketua Umum Dewan Penggerak Siaga Bumi, Hayu Prabowo, mengatakan MUI telah menetapkan Fatwa tentang Pengelolaan Sampah Untuk Mencegah Kerusakan Lingkungan.

“Salah satu ketentuan hukumnya adalah setiap muslim wajib menjaga kebersihan lingkungan, memanfaatkan barang-barang untuk kemaslahatan serta menghindarkan diri dari berbagai penyakit serta perbuatan tabdzir dan israf,” jelas Hayu.

Tabdzir adalah menyia-nyiakan barang/harta yang masih bisa dimanfaatkan menurut ketentuan syari ataupun kebiasan umum di masyarakat. Israf adalah tindakan yang berlebih-lebihan, yaitu penggunaan barang/harta melebihi kebutuhannya.

Hayu menghimbau umat Islam di bulan Ramadhan untuk dapat menjaga alam dengan mengonsumsi sesuatu dari alam seperlunya.

Sekretaris Umum Dewan Penggerak Siaga Bumi, Alpha Amirrachman, menambahkan bahwa selain bernilai ibadah, kepedulian ini penting untuk memelihara kesehatan tubuh yang sekaligus menjaga alam sebagai bentuk tanggung jawab khalifah di bumi.

“Kita perlu menghindari konsumsi yang berlebihan, misalnya jangan makan hingga terlalu kenyang, (memilih, red) membeli makanan lokal, mengurangi makanan impor karena makanan impor memproduksi banyak sampah seperti energi penyimpanan dan transportasi. Umat Islam perlu meningkatkan kepedulian akan lingkungan hidup,” kata Alpha.

Pewarta: Indriani | Editor: Suryanto | AntaraNews.com

PIM_21052016

Pergerakan Indonesia Maju, Murni Ormas Lintas Agama dan Suku, Bukan Partai Politik

PIM_21052016JAKARTA- Para tokoh masyarakat seperti Din Syamsuddin, Ali Maskyur Musa, Siti Zuhro, dan Chusnul Mariyah, resmi mendeklarasikan organisasi kebangsan Pergerakan Indonesia Maju (PIM), Sabtu (21/06/2016) malam, di JCC Jakarta.

Din Syamsudin dalam sambutan deklarasi PIM mengatakan, bahwa Pergerakan Indonesia Maju (PiM) bukanlah Partai seperti isu yang beredar.

Saat ditemui usai deklarasi, Ketua Umum PIM Din Syamsuddin mengatakan Pergerakan Indonesia Maju (PIM), yang didirikan pada tanggal 4 April 2016 dan dideklarasikan pada 21 Mei 2016 bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional bukan perahu politik maupun Partai baru.

“Ini organisasi masyarakat, bukan partai, kita merupakan perkumpulan yang berazaskan Pancasila, dan dilatar belakangi dengan Bhineka Tunggal Ika,” katanya.

PIM menurut Din Syamsuddin, adalah sebuah gerakan masyarakat lintas agama, suku, gender, dan profesi. Menurut Din organisasi itu anggotanya 40 persen adalah kaum perempuan.

Lebih lanjut dikatakan, PIM dibentuk untuk menggalang potensi kemajemukan yang ada di Indonesia. Diakui beberapa pihak selama ini kemajemukan yang ada dianggap sebagai kelemahan di saat bangsa mengalami krisis. Untuk itu PIM ingin kemajemukan yang ada digalang untuk menjadi kekuatan dan persatuan. “PIM ingin menjadikan kemajemukan sebagai kekuatan yang dahsyat untuk kemajuan bangsa dan negara,” ujarnya.

Pengurus PIM lainya, yakni Ali Maskyur Musa juga menambahkan, PIM dibentuk untuk mengembalikan etos para founding fathers. Dalam kesempatan itu Siti Zuhro juga menyebut bahwa PIM adalah organisasi tanpa sekat dan ingin ikut memberdayakan masyarakat desa.

“Ya pastinya keinginan kita bersama untuk menyatukan visi dan misi demi tercapainya pembangunan yang adil dan menyentuh langsung ke masyarakat, maka kita gandeng semua tokoh dari berbagai elemen dan lintas agama,” ujar Ali Masykur Musa.

“Kalau ini dikatakan partai, terlalu jauh. Visi kita bukan mencari kekuasaan politik, tapi benar-benar mendorong pemerintah, mengajak pemerintah untuk memperhatikan dan memberdayakan masyarakat pedesaan,” timpal Siti Zahro. ***

GoRiau.com

PIM_DS1

Deklarasikan Perkumpulan Pergerakan Indonesia Maju

PIM_DS1Jakarta – Din Syamsuddin mendeklarasikan berdirinya perkumpulan Pergerakan Indonesia Maju (PIM). Berdirinya PIM disepakati 45 tokoh nasional.

Din yang juga didapuk sebagai Ketua mengatakan, PIM dibentuk sebagai wadah untuk merealisasikan cita-cita kemerdekaan. Dia bilang, di era globalisasi saat ini, masyarakat diarahkan menjadi individualis yang menguras rasa kepedulian antaranak bangsa.

Untuk itu, kata Din, PIM melibatkan elemen-elemen bangsa lintas agama, suku, ras dan profesi, bergerak dalam aksi sosial kemasyarakatan. “Kini Indonesia mengahadapi tantangan baru dari luar yang mengancam kedaulatan negara. Indonesia tidak boleh kehilangan harapan dan kepercayaan menghadapi masa depan,” kata Din dalam acara deklarasi PIM di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta Selatan, Sabtu (21/5/2016) malam.

Din menjelaskan, organisasi PIM meyakini kemajemukan merupakan kekuatan, maka kemajemukan harus dijelmakan menjadi kebersamaan. Dia menegaskan, hanya dengan kebersamaan, cita-cita pendiri bangsa akan menjadi kenyataan.

Selain itu, berdirinya PIM juga dilatarbelakangi semakin tingginya kesenjangan ekonomi politik dalam kehidupan masyarakat. Dalam bidang sosial-ekonomi, ketidakadilan ekonomi masih menyebabkan ketimpangan pendapatan antara masyarakat kelas bawah dan kelas atas.

“Nilai-nilai budaya bangsa terus tergerus oleh penetrasi budaya luar, kemajemukan harus menjadi kekuatan untuk bersatu bukan menjadi kelemahan,” ungkap Din.

Dalam waktu dekat, PIM segera menjalankan empat program utama, yakni membangun smart village (desa pintar), terdiri dari taman pustaka bacaan dan ruang interaksi masyarakat. Kedua, membangun Desa Mandiri Energi, yakni mendorong pemanfaatan segala potensi energi yang ada di desa untuk pergerakkan ekonomi. Ketiga membangun rumah Aladin (Atap, lantai dan dinding), membangun rumah layak huni bagi masyarakat miskin. Dan keempat akselerasi penuntasan buta aksara yang akan dilakukan dengan kegiatan-kegiatan penetasan buta aksara.

“Merupakan kewajiban semua warga negara untuk terus bangkit bergerak, bekerjasama, bahu-membahu mengahdapi tantangan dan mengatasi permsalahan bangsa,” harap dia.

Perkumpulan PIM memiliki struktur dengan jenjang kepengurusan yang tersusun di tingkat nasional yang disebut Dewan Nasional (DN) yang berjumlah 45 orang. Di tingkat Provinsi disebut Dewan Wilayah (DW) yang berjumlah delapan orang dan tingkat Kabupaten/Kota yang disebut Dewan Daerah (DD) yang berjumlah 17 orang. Masa bakti kepengurusan untuk semua tingkatan adalah lima tahun.

Berikut daftar kepengurusan Dewan Nasional PIM di tingkat Dewan Nasional:
Ketua: Din Syamsuddin
Wakil Ketua: Siti Zuhro
Wakil Ketua: Philip Kuntjoro Widjaja

Sekretaris: Ali Masykur Musa
Wakil Sekretaris: Umar Husin
Wakil Sekretaris: Amanah Abdul Kadir

Bendahara: Ulla Nuchrawaty
Wakil Bendahara: Yohanes Handojo Budhi Sedjati
Wakil Bendahara: Lieus Sungkharisma

Anggota:
Achmad Syauqi
Ahmadie Thaha
Akhmaloka
Airin Rachmi Diany
Cyrullus I Kerong
Chusnul Mariyah
Amidhan
Azizah Aziz
Darmon Djabar
Fadhilah Suralaga
Lucky Aziza B
Nadjamuddin Ramly
Nyoman Udayana S
Rustriningsih
Fahmi Darmawansyah
Hamdan Zoelva
Hanifah Husein
Dharmasilan
Isran Noor
Krisnina Akbar Tandjung
Margie Ivonnie Ririhena
Miryam S Haryani
Muhammad Arief Rosyid Hasan
Maurits Alex Paath
Meuthia Ganie
Muljawan Marganada
Pastono Chandra Dana
Paiman Mak
Phil Erapi
Willem TP Simarmata
Rahmawati Husein
Syifa Fauzia
Uung Sendawa
Veronica Wiwiek Sulistyo
Weinata Sairin MTH
Widya Murni
(REN)

sumber: Metrotvnews.com

PIM Temui Ketua DPR RI 20/5/2016

Kenalkan Pergerakan Indonesia Maju Kepada Ketua DPR

PIM Temui Ketua DPR RI 20/5/2016

PIM Temui Ketua DPR RI 20/5/2016

JAKARTA — Ketua Dewan Nasional Pergerakan Indonesia Maju (PIM) Din Syamsuddin, bertemu dengan Ketua DPR RI Ade Komarudin. Dalam pertemuan yang berlangsung di ruang kerja Ade, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Din memperkenalkan Gerakan Nasional yang disebut Pergerakan Indonesia Maju, yang baru berdiri pada 4 April 2016.

Menurut Din, PIM merupakan gerakan masyarakat Indonesia yang berasal dari lintas agama, suku, profesi, dan gender. PIM mencoba Menggalang potensi kemajuan demi persatuan serta untuk ikut berpartisipasi memajukan bangsa.

Ia menuturkan, kemajemukan bisa menjadi faktor kelemahan yang membawa perpecahan. Tetapi bisa juga menimbulkan kebersamaan dan kekuatan untuk kemajuan bangsa.

”Karena itulah kami bersepakat mendirikan PIM. Dengan pengurus dewan nasional sebanyak 45 orang, dewan wilayah 8 orang, dewan daerah 17 orang, yang terdiri atas berbagai agama, suku, profesi,” kata Din.

Pertemuannya dengan Akom, tidak lain agar PIM bisa bekerja sama dengan semua pihak, termasuk DPR, DPRD, maupun partai politik dan lainnya. Dalam pertemuan tersebut, Din menjabarkan empat program aksi unggulan dari PIM kepada Akom. ”Program tersebut adalah desa pintar, desa maju mandiri energi, percepatan literasi rakyat, dan rumah aladin (atap, lantai, dinding) untuk rakyat,” ucap Din.

Ketua DPR RI Ade Komarudin mengaku setuju dengan filosofi dan tujuan dari gerakan PIM ini. Apalagi, kata dia, Din Syamsuddin merupakan dosennya semasa kuliah dulu.

”Kalau soal ideologinya kalau tidak bisa melawan kapitalisme, tapi kapitalisme yang baik hati. Pancasila itu kita isi dengan kapitalisme yang baik hati. Kalau yang jahatnya abad-19-nya yang berkembang biak dengan subur. Banyak UU seperti itu, terutama terkait dengan ekonomi,” ucap Akom.

Menyangkut gerakan desa pintar, Akom mengatakan sudah berpikir ingin mencari waktu untuk pergi ke beberapa perpustakaan besar yang telantar, seperti Jogja, Bung Hatta, Buya Hamka, dan Tan Malaka yang hampir roboh. ”Kita harus menghormati tokoh besar yang cerdas-cerdas ini,” katanya.

Sumber: Republika.co.id (Rep: eko supriyadi/ Red: Taufik Rachman)

Ketua Pergerakan Indonesia Maju temui Ketua MPR-RI 18/5/2016

Temui Pimpinan MPR, Din Syamsuddin Bersama Pergerakan Indonesia Maju Siap Bantu Pemerintah

Ketua Pergerakan Indonesia Maju temui Ketua MPR-RI 18/5/2016

Ketua Pergerakan Indonesia Maju temui Ketua MPR-RI 18/5/2016

JAKARTA – Ketua Dewan Nasional Pergerakan Indonesia Maju, Din Syamsuddin mengatakan pihaknya siap membantu pemerintah dan parlemen dalam pembangunan nasional.

Mereka yang terdiri dari beberapa tokoh politik, tokoh agama, dan peneliti, mengaku akan bekerjasama sebagai organisasi nonpolitik untuk bermitra.

“Kami meski organisasi baru, tetapi banyak nama-nama yang sudah terkenal dan tokoh-tokoh yang siap membantu pemerintah dan dewan dalam pembangunan nasional,” ujar Din di Komplek Parlemen, Jakarta, Senin (16/5/2016).

Dirinya menjelaskan hingga saat ini sudah banyak hal yang telah diperbuat organisasinya seperti bedah rumah, pemberian rumah gratis, perpustakaan, dan beberapa lainnya.

Organisasi yang baru dibentuk pada 4 April 2016 lalu tersebut, akan mendeklarasikan diri 21 Mei 2016 mendatang dan telah menyiapkan beberapa rencana untuk mendukung pembangunan pemerintah.

Menanggapi hal itu, Ketua MPR, Zulkifli Hasan menyampaikan bahwa dirinya menyambut positif hal tersebut dan membuka ruang untuk siapapun menemui pimpinan MPR.

“Pada intinya, kami berterimakasih dan membuka setiap ruang siapa saja yang membantu kinerja kami,” kata Zulkifli.

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Amriyono Prakoso