Posts

24c0de71-176b-47db-9b1a-80ac98683065_169

Din Syamsuddin Bertemu dengan Tokoh Jepang Bahas Kebangkitan Asia Timur

24c0de71-176b-47db-9b1a-80ac98683065_169

Dokumentasi Din Syamsuddin

Jakarta – Mantan Ketum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin bertemu dengan dua tokoh Jepang. Mereka adalah mantan PM Jepang Yoshihiko Noda dan Utusan Khusus PM Jepang untuk Asia Tenggara Mr Yutaka Iimura.

Menurut keterangan tertulis yang diterima detikcom, Jumat (30/10/2015) Din, Noda dan Iimura membahas kebangkitan Asia Timur dan peningkatan hubungan antara Jepang dengan Indonesia. Peningkatan kerja sama yang dimaksud adalah antar pemerintah (G to G), masyarakat dengan masyarakat (P to P), serta rakyat dengan pemerintah (P to G).

Dalam pertemuan secara terpisah, Din dengan Noda membahas peningkatan investasi Jepang ke Indonesia. Kebetulan Din dan Noda memang telah lama saling kenal dan bersahabat.

Kemudian dalam pertemuan dengan Iimura, Din lebih membahas mengenai peningkatan kerja sama di bidang pendidikan dan perdagangan. Iimura tampak kecewa atas batalnya proyek kerja sama kereta cepat Jakarta-Bandung antara RI dan Jepang, menurut Din. tetapi itu tak membuat hubungan bilateral lantas berhenti begitu saja.

Din dan Iimura sepakat bahwa kerja sama antara RI dan Jepang adalah vital dan strategis. Kedua negara ini dapat mengarahkan kebangkitan Asia Timur menjadi kawasan pertumbuhan masa depan dengan kesejahteraan dan keadilan bagi bangsa-bangsa penghuninya.

Din Syamsuddin berada di Jepang untuk kunjungan delapan hari atas undangan Sasakawa Peace Foundation, sebuah lembaga di bawah naungan Nippon Foundation yang berpengaruh di Jepang. Sasakawa Peace Foundation sejak tahun lalu mengundang seorang tokoh Asia sebagai tamu kehormatan dalam Program Opinion Leaders of Asia.

Pada tahun lalu diundang Mantan Sekjen ASEAN Dr Surin Pitsuwan. Kemudian pada tahun ini Prof Din Syamsuddin diundang sebagai tokoh Muslim dari Indonesia.

Selama berada di Jepang, Din diagendakan berkunjung ke Tokyo, Hiroshima, Kyoto, dan Kobe. Selain bertemu dengan para pejabat tinggi Jepang, Din juga bertemu dengan sejumlah akademisi, agamawan, dan pengusaha Jepang, dan para hari terakhir berdialog dengan seratusan tokoh Jepang dari berbagai kalangan.

Sambut Baik Wagyu Halal

Dalam perbincangan dengan mantan PM Jepang Yoshihiko Noda, Din Syamsuddin sempat bernostalgia. Mereka mengenang saat-saat bersantap seafood bersama di sebuah rumah makan di Pecenongan, Jakarta Pusat.

Noda memang sudah tiga kali mengunjungi Indonesia dan setiap kunjungan bertemu dengan Din. Salah satu yang dibicarakan waktu itu adalah mengenai rencana ekspor daging sapi dari Jepang ke Indonesia.

Waktu itu tahun 2008 dan Partai Demokrat Jepang yang menjadi kendaraan politik Noda belum menjadi partai penguasa. Tetapi Noda berjanji, saat itu, mendorong upaya peningkatan investasi Jepang ke Indonesia.

Pada pertemuan itu, Din yang sekarang menjabat Ketua Dewan Pertimbangan MUI, menyambut baik rencana ekspor daging sapi (wagyu) Jepang yang terkenal lezat dan bergizi ke Indonesia dan bekerjasama dengan MUI untuk sertifikasi halal.

(bag/rna)

din_syamsuddin

Tepati Janji Memimpin Ranting Muhammadiyah

din_syamsuddin

Doc. CDCC

Jakarta ­ Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, Din Syamsuddin, menyatakan jabatannya yang baru sebagai pemimpin ranting Muhammadiyah di Kelurahan Pondok Labu, Jakarta Selatan, merupakan hal yang biasa.

“Hal seperti ini adalah biasa dan sering terjadi. Seseorang yang pernah mendapat amanat pada jajaran tertinggi organisasi, tapi pada periode setelahnya di jajaran lebih rendah,” kata Din kepada Tempo, Senin, 26 Oktober 2015. Din mengatakan tidak bermasalah dengan jabatannya

sebagai pemimpin yang hanya di tingkat kelurahan. “Ibaratnya, dari Presiden Muhammadiyah dua periode, kemudian jadi Lurah Muhammadiyah,” katanya. “Bagi kami tidak masalah, yang penting di mana saja dapat berbuat untuk organisasi.”

Setelah menjabat sebagai ketua umum selama dua periode, dari 2005 hingga 2015, Din mengatakan masih punya kesempatan untuk menjabat sebagai pemimpin pusat, misalnya sebagai wakil ketua. Namun hal itu tidak dipilih dengan alasan bakal menutup peluang bagi tokoh Muhammadiyah lainnya.

“Saya tidak mengembalikan formulir pencalonan dengan alasan memberi kesempatan kepada tokoh

Muhammadiyah lain untuk ikut mengabdi lewat struktur organisasi,” katanya.

Din mengatakan peresmian ranting Muhammadiyah Pondok Labu akan diadakan pada November. “Peresmian ranting baru dan pengurus baru 18 November. Bertepatan dengan hari jadi Muhammadiyah ke­103,” katanya.

din_syamsuddin

Profil

Biodata of Professor Dr. Din Syamsuddin
Professor Dr. Din Syamsuddin is a prominent Muslim leader from Indonesia. He is a professor of Islamic Political Thought at National Islamic University, Jakarta. He served as President of Muhammadiyah, the largest modernist Islamic organization in Indonesia from 2005 to 2015, as well as President of the Indonesian Council of Ulama (MUI) during 2014-2015, and now (2015-2020) acting as Chairman of its Advisory Council. He has been active in interfaith dialogues and cooperations, as he initiated the creation of and becoming Presidium of Inter Religious Council – Indonesia,  He is currently acting as President-Moderator of Asian Conference of Religions for Peace (ACRP), Co-President of Religions for Peace International, as well as Chairman of Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC), and Chairman of World Peace Forum based in Jakarta. He is also member of Group for Strategic Vision Russia – Islamic World, and member of Leadership Council of the United Nations Sustainable Development Solution Network (UNSDSN). He recently initiated the creation of Indonesia’s Movement to Save the Earth (Indonesia Bergerak Selamatkan Bumi) and acts as Chairman of the Movement’s Steering Committee. He obtained both Master and Doctoral degrees from Interdepartmental Program in Islamic Studies, University of California Los Angeles (UCLA), USA, in 1998 and 1991 consecutively.
Perdana Menteri Inggris David Cameron. ©Reuters

PM Inggris curhat 5 ribu warganya gabung ISIS

Perdana Menteri Inggris David Cameron. ©Reuters

Perdana Menteri Inggris David Cameron. ©Reuters

Merdeka.com – Perdana Menteri Inggris David Cameron curhat pada ketua PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin mengenai warganya yang gabung dengan kelompok radikal Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Menurut Din, PM Inggris itu menganggap Indonesia berhasil menekan penduduknya untuk tidak bergabung dengan ISIS.

“Indonesia dinilai relatif berhasil untuk mengerem menghadapi tantang tersebut. Paling tidak terindikasi dari pendukung ISIS yang di Suriah sana. Beberapa ratus dari Indonesia, dibanding UK yang sampai 5.000 sedangkan kita hanya 500 orang,” ujar Din saat ditemui di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta Pusat, Selasa (28/7).

Menurut Din, PM Cameron ingin belajar untuk menghadapi dan menangani tantangan serta ancaman radikalisme yang menggunakan kekerasan. Secara spontan, ujar Din, berbagi cerita mengenai faktor-faktor yang terjadi di Indonesia.

“Di Indonesia, ormas-ormas Islam memiliki kepercayaan diri dan mampu menampilkan naratif yang berseberangan seperti ISIS. MUI langsung mengumpulkan ormas-ormas tersebut dan kita sepakat ISIS kelompok politik radikal yang menggunakan bahkan menyalahgunakan agama untuk kepentingan tertentu,” lanjut dia.

Din sendiri merasa bersyukur dan bangga Inggris mau meminta pendapat dari Indonesia, dan mau belajar dari Indonesia cara menghadapi kasus radikalisme ini.

“Saya pribadi merasa bersyukur, berbangga, dan sedikit tersanjung jika Indonesia dianggap oleh pihak luar, dalam hal ini Inggris, berhasil menghadapi tantangan radikalisme tersebut,” sambung Din.

Din berpesan kepada umat muslim di Inggris dan Indonesia, jika watak Islam yang rukun dan damai harus dikembangkan. Dia mengatakan, watak Islam sebagai agama rahmatan lil al amin yang sama dengan prinsip jalan tengah harus terus menerus disampaikan kepada umat Islam dunia.

Selain Din Syamsuddin, tokoh Islam lain yang bertemu dengan PM Inggris itu adalah Profesor Alwi Shihab, Yenny Wahid, serta ketua Masjid Sunda Kelapa Hasan Mahmud.

http://www.merdeka.com/dunia/kepada-din-syamsudin-pm-inggris-curhat-5-ribu-warganya-gabung-isis.html

Din Syamsuddin.img_assist_custom-513x289

Represents Islam in Vatican conference on climate change

Din Syamsuddin.img_assist_custom-513x289

Natural religion: Muhammadiyah chairman Din Syamsuddin (second right) delivers a speech explaining an Islamic view of nature and the environment and human’s responsibility thereto during a conference on climate change and sustainable development at the Vatican on Tuesday. The conference gathered clerics from various religious backgrounds as well as scientists and researchers, politicians and businessmen. (Courtesy of Din Syamsuddin)

Muhammadiyah chairman Din Syamsuddin has represented Islam at a conference entitled Protect the Earth Dignify Humanity: the Moral Dimensions of Climate Change and Sustainable Development.

The conference was held in Vatican City on Tuesday and was organized by the Pontifical Academy of Sciences, Religions for Peace and the United Nations Sustainable Development Network, Din said in a statement on Wednesday.

There were some 100 participants, including diplomats, policy makers, scientists and researchers, businessmen and clerics. The event aimed to find a consensus on the significance of climate change to sustainable development.

UN Secretary-General Ban Ki-moon opened the conference, while the president of the Pontifical Council for Justice and Peace, Cardinal Peter Turkson, delivered the keynote speech. The event discussed science and technological perspectives, local and global practical aspects for solutions and the moral dimensions of climate change and sustainable development.

Din was a speaker in the session themed Justice and Responsibility, Moral Dimensions of Sustainable Development and Climate Change. The other speakers were Rabbi David Roshen from Israel, Olve Tveit of the World Church Council, Metropolitan Immanuel France from the Orthodox church, Rev. Kosho Niwano from Japan and Swami Brahmanda from India.

Din said that Islam was a religion of nature with some 750 of around 6,000 verses in the Koran mentioning nature and environment and all its inter-connections.

As well as presenting verses on the creation of the universe, biodiversity, and the balance in creation and the environment, Din highlighted a number of Islamic moral values and ethics key to sustainable development and environmental protection.

The principals included that nature and the environment were God’s creations and thus had a sacred dimension; that the earth was God’s blessing for humans, and that humans did not own it but were merely inhabiting it and borrowing it from the next generations. As such, Din argued, humans had to treat nature justly and responsibly for the benefit of future generations.

Din asked all parties to build a coalition to glorify the environment, involving clerics, politicians and businessmen, as well as other stakeholders. (nvn)

http://www.thejakartapost.com/news/2015/04/29/din-represents-islam-vatican-conference-climate-change.html-0#sthash.IiGqlt28.dpuf

1821148

PP Muhammadiyah Desak KPK Selesaikan Century Sebelum Pemilu

1821148

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin

KOMPAS.com — Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyelesaikan kasus dugaan korupsi dalam bail out Bank Century sebelum Pemilu 2014. Jika tidak, maka pemerintahan sekarang akan meninggalkan warisan yang buruk pada pemerintahan berikutnya.

“Kami mendorong, mendesak, mendukung agar diselesaikan secara tuntas pada periode pemerintahan sekarang, tentu sebelum pemilu. Kalau tidak, ini berpotensi jadi dosa warisan,” kata Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, Jumat (31/1/2014).

Hal itu disampaikan Din ketika berbincang-bincang dengan tim pengawas DPR untuk kasus Bank Century. Pertemuan itu antara lain dihadiri oleh anggota timwas dari Fraksi Partai Golkar Bambang Soesatyo, Fraksi PKS Fahri Hamzah, dan dari Fraksi PAN Tjandra Tirta Wijaya.

Menurut Din, kasus Century harus menjadi prioritas KPK. PP Muhammadiyah, kata dia, selalu konsisten memberikan dukungan moral untuk pengusutan kasus ini. Ia juga berharap masyarakat tidak melupakan kasus yang menjerat Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia Budi Mulya itu.

“Kasus mahaskandal harus dipentingkan. Jangan sampai ada pihak yang berusaha menguburnya, membuat bangsa ini lupa,” kata Din.

Din menambahkan, pihaknya juga mendukung KPK melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah pihak tanpa pandang bulu. Ia berharap KPK dapat terbuka kepada publik terkait perkembangan kasus korupsi dalam pemberian fasilitas pendanaan jangka pendek (FPJP) dan penetapan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik itu.

“Saya termasuk yang bergembira KPK periksa Boediono (Wakil Presiden RI), walaupun di rumahnya, tidak di KPK. Kami mendukung, mendorong, mendesak KPK melanjutkan langkah hukum itu. Kalau diam-diam menjadi pertanyaan besar bagi rakyat termasuk DPR,” ujarnya.

Fahri Hamzah mengatakan, kedatangan Timwas Century ke PP Muhammadiyah untuk meminta dukungan agar kasus Century segera tuntas. Timwas Century juga mendesak KPK agar kasus ini tuntas pada 2014.

“Intinya semua tokoh kita mintai dukungan, mengingatkan bangsa ini bahwa ada kasus besar. SKRT Kemenhut hanya ratusan miliar, ini Rp 6,7 triliun,” kata Fahri.

Sebelumnya, KPK menyebut berkas kasus Century akan segera dilimpahkan ke tahap penuntutan pada Februari 2014.

Kompas.com

prof-dr-m-din-samsudin-ma-hidup

Jangan Lupa Berzakat, Jangan Lupa Pulang

prof-dr-m-din-samsudin-ma-hidupDoha – Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin mengingatkan warga negara Indonesia di Qatar agar tidak lupa menyisihkan sebagian penghasilan untuk berzakat. “Jangan lupa berzakat, jangan lupa pulang ke Indonesia,” katanya saat bertemu dengan warga negara Indonesia di Wisma KBRI Doha, Qatar, Rabu (30/5/2012) malam.

Menurut Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI di Doha, Deddy Saiful Hadi, setidaknya terdapat 36.000 WNI yang terdaftar tinggal di Qatar. Mereka terdiri dari tenaga kerja domestik hingga tenaga kerja profesional yang bekerja di perusahaan-perusahaan minyak bumi dan gas di Qatar.

Seperti dilaporkan wartawan Kompas Anita Yosihara dari Doha, Kamis (31/5/2012), Ketua Persatuan Warga Indonesia di Qatar Farid Riyadi mengatakan, masyarakat Indonesia di Qatar berhasil mengumpulkan donasi hingga Rp 2 miliar. Dana itu berasal dari WNI di Qatar yang dikumpulkan selama dua tahun.

Dana tersebut sudah didistribusikan untuk membantu pembangunan fasilitas pendidikan dan beasiswa untuk warga di Tanah Air. Namun, menurut Din, jumlah tersebut seharusnya masih bisa ditingkatkan.

“Saya yakin, kalau dihitung 2,5 persen, bisa lebih dari itu,” katanya.

Kompas.com

1857202620X310

Tokoh Islam­Kristen Dunia ke Nigeria

1857202620X310JAKARTA ­ Sejumlah tokoh Islam dan Kristen berada di Nigeria sejak Rabu (23/5/2012). Mereka bagian dari joint delegation yang diprakarsai Alul Bait Foundation dari Jordan dan World Council of Churches, Jenewa.

Ketua Umum Muhammdyah Prof Din Syamsudin ikut mewakili Muslim Asia. “Delegasi mengunjungi dua provinsi, Kaduna dan Plateu, yang dilanda konflik beberapa waktu lalu, guna mencari fakta dari para tokoh agama lokal dan para korban,” ujar Din dalam pesan singkatnya kepad Kompas di Jakarta, Minggu (27/5/2012).

Menurut Din, konflik­konflik yang terjadi dipicu faktor non­agama, seperti sosial, ekonomi, dan politik. Tapi agama kemudian dijadikan sebagai alat justifikasi dan basis solidaritas kelompok.

Terdapat juga faktor kesukuan yang kental, yang sering berhimpit dengan afiliasi keagamaan. Ini yang membuat konflik mendalam dan sukar untuk diatasi.

Dalam pertemuan sering diungkapkan perlunya toleransi, kesediaan untuk hidup berdampingan secara damai. “Kegiatan ini bisa jadi model resolusi konflik yang berdimensi keagamaan, dan jika berhasil dapat diterapkan di tempat lain,” ujarnya.

Diantara tokoh yang ikut dari kalangan muslim ada Prince Ghazi bin Talal (Jordan) Mustofa Ceric, Mufti Bosnia, Syeikh Hussein Abubakar (Chad).

Dari kelompok kristen ada Dr Olav Fykse Tvelt (Sekjen Dewan Gereja Sedunia), Dr Michel Jackson (AS), Rev

John Onaiyekan (Nigeria).

Kompas.com

gl-1

Aktif bersafari ke negara-negara sahabat untuk misi perdamaian

gl-1JAKARTA — Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin aktif bersafari ke negara-negara sahabat untuk misi perdamaian. Kosovo dan Nigeria menjadi titik awal kepedulian ormas bentukan KH Ahmad Dahlan menciptakan perdamaian antarumat beragama.

Pada kunjungan pertamanya, Din menyambangi Presiden Kosovo, Atifa Yahya, di Kantor Kepresidenan di Prishtina, Selasa (15/5) sampai Kamis (17/5). Dalam kesempatan itu, Din menjadi salah satu pembicara dalam konferensi tentang dialog antar peradaban. Dalam kesempatan bertemu dengan Presiden Atifa, Din menyatakan dukungan Muhammadiyah bagi kemerdekaan Kosovo atas dua alasan.

“Sesuai amanat Pembukaan UUD 45 bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan penjajahan harus dienyahkan dari muka bumi, juga alasan subyektif bahwa 96 persen rakyat Kosovo adalah muslim,” jelas Din dalam pernyataannya, Jumat (18/5).

Dukungan itu juga sesuai dengan kondisi Kosovo yang telah merdeka dari Serbia empat tahun lalu. Maka, Din berharap pemerintah RI segera memberi pengakuan terhadap kemerdekaan Kosovo karena tak ada alasan lagi untuk menolaknya. Din juga menyatakan pihaknya ingin menjalin kerjasama dengan rakyat Kosovo. “Muhammadiyah memberi beasiswa bagi mahasiswa Kosovo yang ingin kuliah di Universitas Muhammadiyah,” ungkap Din.

Sambutan baik dinyatakan Presiden Atifa. Dia juga ingin membalas kunjungan Din dengan mendatangi Indonesia. secara langsung dia mengharapkan Indonesia juga dapat mendukung kemerdekaan Kosovo. Pasalnya Indonesia disematkan sebagai negeri berpenduduk Islam terbesar di dunia. “Pengaruh Indonesia juga besar, khususnya di kalangan dunia Islam,”sebut Atifa.

Usai menjelajah Kosovo, Din akan mengunjungi  Nigeria untuk sebuah misi perdamaian lima tokoh Islam, dan lima tokoh Kristen dunia pada  21-24 Mei mendatang. Misi ini  diprakarsai oleh lembaga Islam Common Word pimpinan Prince Ghazi dari Jordan dan World Council of Churches. “Saya mewakili Asia. Misinya untuk berdialog dengan para tokoh agama di tiga provinsi di Nigeria agar berdamai,” jelas Din.

Rep: Indah Wulandari/ Red: Dewi Mardiani

Republika Online: http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/05/18/m47sy2-din-syamsuddin-safari-perdamaian-dunia